A Taste Of Cherry

No comment 885 views

Abbas Khiarostami pernah bikin heboh pemerintah Iran karena membuat
film A Taste of Cherry.

Kisahnya tentang seorang Iran paruh baya yang berkeliling mencari
orang yang bisa membantunya untuk bunuh diri. Yang ia minta sederhana
saja. Ia akan menggali tanah kubur di tempat yang telah ia pilih, lalu
malam hari ia akan berbaring di dalam kubur itu, setelah ia minum obat
tidur dalam dosis mematikan. Ia hanya minta orang yang membantunya
untuk datang di pagi hari dan menutup kuburan itu kalau ia memang
telah mati.

Nyaris semua orang menolak. Ada satu guru agama dari Afganistan yang
ia mintai bantuan malah memberinya ceramah tentang betapa bunuh diri
adalah dosa tak terampunikan dalam Islam.

Sang tokoh bilang, saya tak butuh ceramah, saya butuh bantuan. Sang
tokoh merasa bahwa ia tak menemukan makna hidup, bahwa hidup ini
sia-sia belaka.
Betapa hidupnya sunyi, tak ada lagi yang memberinya alasan untuk tetap
hidup. Tak ada agama atau omongan orang yang bisa memuaskannya.
Bukankah adalah haknya sepenuhnya untuk memilih berhenti hidup?

Akhirnya ada seorang tua yang bersedia menolong sang tokoh bunuh diri.
Orang tua itu sama sekali tak keberatan dengan pilihan sang tokoh.
Tapi orang tua itu bercerita tentang pengalaman hidupnya, suatu
ketika, saat ia merasa ia lebih baik mati saja. Orang tua itu mencoba
bunuh diri, tapi gagal.

Di pagi setelah kegagalannya bunuh diri, si orang tua merasakan dunia
seakan baru pertama kali. Hangatnya mentari, indahnya semburit cahaya
fajar, kicau bung, segalanya dalam dunia ini begitu indah.

“Apakah engkau lupa betapa enaknya rasa buah cherry?” Tanya si orang
tua itu kepada sang tokoh. Seakan si tua ingin berkata bahwa,
mengapakah engkau ingin meninggalkan rasa buah cherry, ingin
meninggalkan semua keindahan ini?

Ya, mensyukuri buah cherry (mensyukuri segala aspek terkecil alam
hidup ini) mestinya bisa jadi salah satu cara untuk mengobati luka
hati. Alangkah ajaibnya hidup ini, alangkan indahnya!

Tapi manakah yang lebih patut disyukuri, rasa buah cherry itu,
ataukah lidah yang membuat kita bisa mengecap rasa buah cherry itu?

———————————————————-

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

Dikutip dari buku Life Goes On

Sumber : Milis Air Putih

author