Ajari Aku Cinta!

No comment 1117 views

Buatku Faizal hanyalah sahabat, buatku dia hanyalah satu dari sekian banyak lelaki yang menawarkan berbagai keindahan tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali pada apa yang kusebut dengan sisi hewaninya.

Cinta adalah sesuatu yang terlalu indah dan hanyalah khayalan dengan mata terbuka yang cengeng. Aku belajar bertahun-tahun tentang cinta dan belajar untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Satu cinta paling indah di dunia, kasih sayang hakiki dari janji surga pun tak dapat kuraih. Cinta Ibu yang begitu besar pada Ayah, membuatnya bahkan rela menjualku saat bayi pada orang lain.

Papa angkatku ternyata lelaki paling ringan tangan yang kukenal. Ringan tangan karena gampang sekali melayangkan tinju dan menghajar siapapun. Aku, Mama angkatku bahkan adikku semua pernah merasakan bogem mentahnya. Aku mencoba mengerti alasan dia memukulku atau Mama atau adikku. Dan aku akhirnya belajar satu hal lagi darinya, lebih baik diam karena salah atau benar, hanya Papa yang paling benar dan semua selalu diakhiri dengan pemukulan. Jika aku melawan, maka pemukulan itu akan semakin membabi buta.

Menyakitkan di awalnya, tapi bertahun-tahun kemudian aku belajar menahan diri dan menguasai emosiku. Wajah datar, mata kosong dan mulut membisu adalah senjata ampuhku setiap kali Papa mengamuk dan marah padaku. Lama-lama hatiku membatu dan mengeras membuat airmataku kering.

Kulewatkan masa remaja dalam kesendirian lalu mengakhiri masa SMU dengan kesuksesan walaupun jatuh bangun sendiri karena mencari beasiswa dan berbagai pekerjaan yang bisa kujalani. Semua hal berat itu tak berarti dibandingkan tetap hidup bertahan di bawah lindungan lelaki sekejam Papa angkatku. Mama angkatku bahkan tak pernah punya keberanian membela kami, hingga aku memutuskan angkat kaki dari rumah setelah lulus SMU. Target terbesarku sejak kecil akhirnya terwujud, lepas dari bayang kelam Papa angkatku.

Dan begitulah aku kini, semua orang mengenalku sebagai sosok yang pendiam namun memiliki lidah setajam silet. Aku hampir tak memiliki teman, karena menurut mereka aku tak bisa bersosialisasi. Bagiku itu tak masalah, semakin sedikit orang yang memahamiku maka semakin sedikit yang mereka dapatkan dariku. Semua orang suka padaku atau tidak, jika ingin berteman denganku pastilah ada maunya. Begitu yang selalu kupikiran selama ini.

Faizal mungkin satu-satunya temanku yang terus bertahan. Kami bertemu ketika kami mendaftar di universitas yang sama. Dia juga yang mengabariku ketika aku lulus. Dia pula yang membantuku mendapatkan beasiswa. Kami berpisah saat kuliah karena Faizal memilih jurusan berbeda namun persahabatan kami terus berjalan.

Aku juga tak mengerti kenapa Faizal memilihku sebagai sahabatnya. Dari awal  aku sudah bicara tentang ketidakinginanku bersahabat terlalu dekat dengannya dan berusaha menghindari sesedikit mungkin kontak. Tapi Faizal, dengan canda dan humornya berhasil meluluhkan hatiku. Setengah tak peduli, ia tetap rajin mengunjungiku, mengajakku keluar, dan menemaniku jika ia sedang tidak ada kuliah. Sama sepertiku, ia juga kuliah sambil bekerja. Tapi itu tak pernah mengurangi waktu kebersamaan kami.

Dan mengalirlah semuanya bagai air. Faizal tak pernah banyak bicara, tapi selalu tahu cara menyampaikan pendapatnya. Kami berbagi segala hal. Pernah aku berusaha menyimpan masa laluku serapat mungkin, tapi kebaikan hatinya membuatku akhirnya bercerita tentang masa lalu yang menyedihkan. Ketika aku tak lagi sanggup bercerita, Faizal hanya merangkulku dan memintaku berhenti. “Itu adalah kenangan buruk, lebih baik kita lupakan saja ya, ” ujarnya dengan senyum manis.

Sesekali Faizal juga punya masalah sendiri, kami bicara dan duduk bersama sampai ia selesai menguras habis emosinya. Kadangkala aku tak mengerti dia bicara apa, tapi melihat wajahnya yang tenang setelah bicara membuat perasaanku juga tenang. Entah mengapa setiap kali ia berbicara tentang masalahnya, aku merasa menjadi bagian dari dirinya.

Faizal senang mengabadikan momen sejak ia punya kamera. Anehnya, dia selalu sedih saat menatap fotoku. Aku pernah menebaknya, jangan-jangan karena foto-fotoku selalu tidak tersenyum atau tertawa. Tapi Faizal mengatakan, “Ingin sekali aku mengetahui bagaimana rupamu saat masih kecil dulu. Seandainya bisa, foto itu pasti menggambarkan seorang malaikat cantik yang tertawa lepas.” Kata-katanya membuatku terdiam. Setitik perasaan asing merasuki hatiku saat itu. Padahal ia tahu, aku bahkan tak tahu siapa orangtuaku. Jangankan foto, kenangan saat kecilku saja sudah terhapus dengan memori buruk yang takkan pernah terlupakan.

Sesekali bahkan terlalu sering aku gemetar saat teringat kejadian-kejadian buruk di masa lalu. Biasanya kala aku melihat seorang ayah memarahi anaknya, Faizal langsung menggenggam erat tanganku. Saat aku memandang wajahnya, hanya kedamaian yang kulihat di sana. Faizal selalu tahu, saat aku merasa tidak aman, saat aku merasa ada sesuatu yang membayangiku dan dia selalu berkata, “Tenanglah, kau selalu aman bersamaku. Lupakan semua dan ingatlah ada aku di sini.”

Persahabatan indah yang Faizal torehkan di hatiku terus berkembang meskipun kesibukan pekerjaan yang kami jalani. Ia tak pernah lupa meneleponku setengah jam sebelum naik ke pesawat. Ada-ada saja yang kami bicarakan. Tapi paling sering karena ia tahu aku malas bangun pagi. Dia  membujukku, memastikan aku bangkit dari tempat tidurku. Dan ketika aku mendengar suara ting tong sayup-sayup di teleponnya, baru ia memberitahuku, “Angel, sudah dulu ya, aku harus masuk pesawat nih! ”

Tapi meskipun begitu, walaupun dia harus bertugas ke daerah bahkan ke luar negeri. Faizal tak pernah absen meneleponku, bercanda dan berbicara tentang pekerjaannya. Aku selalu iri padanya karena bisa travelling dengan gratis, dan dia hanya tertawa, “Bagiku, tak melihatmu beberapa hari itu sudah kerugian sendiri. Tapi kalau aku ingat, aku selalu bisa membuatmu senang dengan oleh-olehku, ya aku mau saja. Hei, kamu mau kubawain apa?”

Aku bekerja sebagai home designer di sebuah perusahaan kontraktor. Pekerjaanku mewujudkan impian dari banyak orang. Membuat tempat ternyaman bagi mereka dan keluarganya. Pekerjaan yang menurut Faizal adalah pekerjaan dengan kesempatan berpahala besar. Tapi bagiku sendiri, sungguh tak semudah itu. Aku harus mengerti keinginan para klienku yang mudah sekali berubah. Aku harus pandai-pandai menerjemahkan keinginan lisan mereka menjadi sebuah kenyataan yang terkadang jauh dari bayangan. Tekanan inilah yang sering menjatuhkan semangatku.

Sekali lagi Faizal selalu bisa memberiku semangat baru. Dengan humornya, ia menanggapi respon negatif tentang hasil kerjaku melalui pandangan positif. Tak ada yang tidak benar menurutnya, hanya terkadang perbedaan pandangan antara profesional dan awam sulit ditemukan. Hal yang paling penting bagiku, ia selalu bisa membuatku menghela nafas lega dan bersemangat menjalani pekerjaanku lagi.

Faizal pernah memberiku kejutan. Kejutan yang tak dapat kuduga dan membuatku sulit bernafas. Aku kehilangan kata-kata. Ia membawaku ke sebuah rumah kecil, namun indah dan asri. Tanpa sempat bertanya, ia mengajakku masuk, menemui seorang ibu dengan penuh senyuman dan seorang ayah berwajah ramah yang mirip Faizal. Ia merangkulku dengan hangat dan berkata pada mereka, “Kenalkan ini Sulastri, bunda. Aku memanggilnya Angel. Ini sahabat terbaikku, Ayah.”

Dan untuk pertama kalinya aku merasakan pelukan penuh cinta, genggaman tangan yang hangat dan pandangan penuh kasih sayang khas orangtua. Tulus dan begitu menggetarkan dadaku. Aku tak mampu berkata apapun selain mengangguk. Lagi-lagi perasaan asing masuk dalam hatiku saat menatap wajah Faizal yang tersenyum.

Ketika wisuda, aku sudah siap melalui jalan menuju podium dalam kesendirian. Tapi undanganku yang menganggur ternyata digunakan oleh kedua saudari Faizal untuk masuk menjadi wakilku sekaligus menyaksikan wisuda saudara mereka. Aku benar-benar mengikhlaskannya, tapi ternyata mereka juga benar-benar mewakili keluargaku yang tak hadir. Maka hari itu, tanpa diminta momen terindahku setelah perjuangan panjang diabadikan oleh keluarga Faizal. Kami berfoto di akhir acara dan tak ada sedikitpun kesedihan di hatiku karena mereka berhasil membuatku merasakan keistimewaan keluarga.

Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika Faizal mengatakan bahwa ada tawaran pekerjaan di luar negeri untuknya. Aku tak mampu berkata apapun. Dalam kebisuan, aku hanya bisa tersenyum menanggapi semangatnya yang berapi-api saat menerima tantangan baru itu. Hatiku berantakan seketika ketika ia mengatakan ia akan pergi esok pagi meninggalkan Indonesia selama satu tahun. Dan sekali lagi kebiasaan lamaku terjadi. Diam, mata kosong dan wajah datar tak terbaca.

Ternyata dugaanku terbukti seperti cintaku yang lain, Faizal pun memilih pergi dari sisiku. Sepanjang malam hingga pagi, aku duduk di tepi tempat tidur, menangisi kebodohanku karena tak pernah belajar dari pengalaman. Aku terlena dengan perlakuan Faizal yang mulai mencairkan hatiku yang beku. Aku berpikir betapa bodohnya aku telah membiarkan Faizal menguasai pikiran dan hatiku, merampas semua keyakinanku tentang arti cinta. Aku tahu Faizal meneleponku sebelum pergi, tapi aku sudah tak mampu berbicara dengannya lagi. Aku tak mau ia semakin berpongah hati karena berhasil melumpuhkan kekuatanku.

Faizal menghilang sama seperti mimpiku yang sempat terbit. Ia terhapus oleh jarak, tapi tidak di dalam hatiku. Aku kembali seperti dulu, tapi kini lebih hancur. Aku tenggelam dalam kesibukanku meneruskan kuliahku ke S2 dan bekerja bagai orang gila berusaha melupakan semuanya.

Sulit sekali, Faizal terlalu meninggalkannya banyak kenangan. Aku tak bisa lagi duduk di taman, tak bisa lagi duduk dan menyantap hidangan di cafe langgananku tanpa teringat sosoknya yang selalu menemaniku. Aku tak bisa lagi menatap foto-foto hasil jepretannya tanpa menangis karena teringat saat-saat bahagia itu. Aku tak mampu menggenggam handphone tanpa teringat dirinya yang selalu bertukar cerita tiap hari meskipun jauh.

Untuk pertama kalinya, aku rindu pada tawanya, aku rindu pada cerita-cerita konyolnya, aku rindu pada rangkulannya, aku rindu dia, pada orang yang pernah kuanggap tak berarti. Sampai aku teringat sesuatu, kalimat pendek Faizal dulu ketika aku bertanya kenapa ia tak pernah menyerah mendekatiku, “Jika ingin mendapat sesuatu, maka lakukanlah sesuatu. Jika haus, berilah orang lain segelas air agar lebih menikmatinya. Jika ingin bersahabat, maka ajarilah dulu cara bersahabat.”

Dan aku pun mulai bertingkah konyol. Aku datang tanpa diundang ke rumah Faizal. Bukan karenanya, tapi karena aku ingin bertemu keluarganya. Aku ingin belajar bersahabat seperti yang diajarkan Faizal, dan hanya keluarganyalah yang kutahu selama ini. Di tanganku ada beberapa tas belanja yang kubelikan untuk mereka. Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri beberapa kali sebelum mengetuk pintu. Setidaknya aku berniat baik, jika memang selama ini mereka menerimaku hanya karena kehadiran Faizal maka aku sudah siap menerimanya.

“Ya Allah, Astri ya? Duh, nak, rindunya Bunda sama kamu sayaang,” sambutan Bunda Faizal membuatku terperangah. Ia memelukku, memandangi wajahku dengan rindu dan merangkulku masuk. Ya Tuhan, mereka tetap seperti biasa. Tak ada yang berubah.

Dengan hati terharu, kubuka semua oleh-oleh. Kuberikan sepasang sepatu untuk adik Faizal, kubelikan beberapa mainan dan sebuah tas praktis untuk Kakak Faizal beserta anak-anaknya, baju hangat untuk Ayahnya dan sebuah kerudung indah untuk Bunda Faizal.

Kehangatan keluarga Faizal sungguh membuka mataku. Di dunia ini, ada keluarga yang benar-benar penuh cinta seperti dalam kisah-kisah di buku dan televisi. Ternyata dunia ini tak segersang bayanganku, ada kasih sayang tergambar jelas pada keluarga Faizal. Adik dan kakaknya yang menemuiku beberapa menit kemudian, sama ramah dan tulus seperti kedua orangtua Faizal. Aku merasa diterima, aku merasa diperlakukan sebagai manusia, aku merasa dihargai dan aku merasakan aku jadi bagian dari keluarga mereka.

Aku yang hampir tak mengenal aliran cinta, pun belajar dengan cepat. Aku tak lagi risih memeluk Bunda Faizal, membuatkan kopi untuk Ayahnya. Melepas gelak tawa saat mendengar cerita-cerita lucu kakak Faizal yang memiliki empat orang anak laki-laki, berbagi rahasia dengan adik Faizal yang selalu pusing dan galau menghadapi kekasihnya. Ah, benar-benar seperti keluarga yang kudambakan selama ini.

Aku belajar banyak dari mereka. Selama kepergian Faizal, aku mengganti sosoknya dalam keluarga kecil itu. Aku yang telah banyak menerima kasih sayang dari Faizal, mulai belajar memberi. Aku mulai mengulurkan tangan, bukan lagi menggapai. Keluarga yang kuimpikan bukan hanya dalam khayalan tapi juga kuusahakan.

Aku belajar dari Bunda, cinta itu adalah kekuatan wanita. Wanita yang kuat punya banyak cinta di hatinya, perempuan yang penuh cinta pasti memiliki kekuatan luar biasa. Dan Bunda benar. Aku belajar meraih cinta, bukan menantinya lagi. Aku belajar membalas perhatian dengan belajar mencintai apa yang kumiliki.

Aku belajar dari Ayah Faizal kalau cinta adalah memaafkan. Dengan memaafkan, kita belajar mencintai jauh lebih baik. Maaf membuka hati lebih luas dan cinta akan datang dengan mudah.

Dari kak Amira, kakak Faizal aku mempelajari ketulusan cinta. Cinta yang tulus yang kulihat saat ia mendidik putra-putranya. Pertama kali juga aku tahu kalau ketulusan bisa diperlihatkan melalui kemarahan.  Sekali kulihat kak Amira marah pada putranya tapi bukan jenis kemarahan yang sama saat aku kecil dulu, kemarahan di mata kak Amira terkendali dan teramat singkat tapi efeknya jauh lebih dahsyat. Putranya meminta maaf dengan penyesalan sebelum akhirnya kak Amira memeluknya dengan hangat. Hatiku tersentuh melihat cara kak Amira itu.

Najwa, si bungsu adik Faizalpun mengajariku kejujuran cinta. Tanpa segan dan malu, ia bermanja pada kedua orangtuanya. Ketika akrab denganku, iapun tak segan bergelayut memelukku. Kecanggunganku yang tak terbiasa dipeluk justru mencair dengan cara Najwa. Ia mengajariku cara menyentuh penuh kasih sayang dan cinta.

Dan setelah bertahun-tahun, aku melangkahkan kakiku kembali pada orangtua angkatku. Untuk pertama kalinya, aku tak lagi melihat pintu rumah itu sebagai pintu menuju penjara penuh siksa. Bagiku kini rumah itu hanyalah salah satu rumah yang sedang kekurangan. Kekurangan cinta dan kasih sayang.

Aku mengetuk pintu dan menunggu sesaat. Pintu terbuka dan seraut wajah yang kukenal berdiri di sana, Mama. Ia menatapku lama sekali sebelum menangis, tanpa menjawab salamku lagi, ia memelukku begitu kencang. Ia merindukanku dan itu tergambar jelas. Aku memeluknya, berbisik meminta maaf dan berterima kasih karena ia tak pernah melupakanku begitu saja. Mama, orang yang mengajariku mengendalikan emosi selama ini ternyata manusia biasa yang bisa lepas kendali, semuanya karena ia merindukanku, merindukan putri angkatnya.

Mama menggiringku masuk. Ada ketidakramahan menyambutku saat masuk dan menemui dua dari tiga adik angkatku. Kecurigaan di wajah datar mereka sudah menggambarkan betapa keluarga angkatku tak pernah melupakan masa lalu dan masih menyimpannya rapat-rapat. Tapi aku sudah belajar, belajar banyak hal dari kehidupan di luar dan akupun memandang mereka dengan sayang. Kukatakan maaf karena pergi tanpa pernah mengirimkan pesan. Tak ada jawaban, sampai aku memeluk mereka. Dan luluh juga hati mereka yang membatu, sambil menangis mereka menumpahkan kemarahan padaku. Kemarahan karena aku pergi tanpa membawa mereka, kemarahan karena mereka harus kehilangan, kemarahan karena harus menahan rindu dan sedih sendirian. Sepertiku dulu, mereka juga tak terbiasa meluapkan emosi tanpa kendali. Tapi hari itu semuanya luruh jadi satu, kami memang tak sedarah tapi kami saling sayang.

Banyak cerita yang disampaikan Mama dan adik-adikku setelah kami duduk bersama menikmati sore hari itu. Papa sudah lama pergi, tak lama setelah aku pergi. Papa membawa serta semuanya, kecuali rumah warisan dari orangtua Mama. Ia meninggalkan Mama dan menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda duapuluh tahun darinya. Mama berhasil mempertahankan surat rumah karena mencurinya dari koper Papa saat berkemas. Mama sama sekali tidak menangis, malah seperti bersyukur karena lelaki kejam itu lenyap dari sisinya.

Ketika aku bertanya tentang adik angkatku yang paling kecil. Airmata Mama mengalir dan tak tertahankan. Adik-adikku yang lain pun menyambung kisahnya. Ternyata adikku yang paling kecil sudah lama meninggal setelah berkecimpung lama dalam dunia narkoba. Ia melarikan diri dari teror trauma Papa dengan obat-obatan, yang sayangnya merenggut nyawanya.

Penyesalan terselip di hatiku, kenapa  tak kembali secepatnya dan menolong mereka? Aku menunduk, menyesali diri ketika Mama menggenggam tanganku. Ia bersyukur aku mau kembali setelah sekian lama, ia meminta maaf karena selama ini tak pernah mencariku atau memberiku perlindungan. Mama selalu berpikir, pelarianku adalah hal terbaik untukku dan ia tak ingin aku menyesalinya.

Mama pula yang mempertemukanku pada keluarga kandungku. Pada Ayah yang kini sudah duduk di kursi roda dan pada Bunda kandungku yang juga sudah terbaring karena stroke. Dengan hati pilu, aku meminta maaf pada mereka karena dulu pernah menyalahkan keduanya. Aku berterima kasih, paling tidak Bunda masih mau melahirkanku, masih mau memberiku nafas kehidupan meskipun tak punya keberanian mengasuhku hingga besar. Pada saudara-saudariku, aku mengulurkan tangan dan kartu namaku. Kapanpun mereka ingin menemuiku, mereka bisa menghubungiku. Meskipun tak kulihat ada cinta di mata mereka, aku menyadari masih perlu waktu yang lama untukku menulari mereka dengan cintaku. Dengan tulus, aku meminta izin sesekali agar bisa menghubungi mereka dan kulihat walaupun keraguan tergambar jelas mereka mau memberiku kesempatan itu.

Kini aku menapaki hari yang lebih menyenangkan. Tiga keluarga baruku menghiasi hari-hariku tanpa Faizal. Setahun berlalu dengan cepat tanpa kusadari. Kesepian tak lagi kurasakan karena selalu ada yang mengisinya. Bunda dengan kebijakannya, Mama yang selalu menghujaniku dengan kasih sayang yang dulu tak pernah ia berikan, Ayah yang selalu melucu meski terkadang garing, kak Amira, Najwa, Restu dan Aisyah selalu membuatku semakin merasa berarti hari demi hari. Aku juga sering bertandang ke rumah Bunda kandungku, menjumpai sebagian saudaraku, menyempatkan diri mengenal beberapa keponakanku dan entah beberapa kali aku mengajak mereka bermain di mal ataupun taman bermain. Hidupku terasa lengkap setelah aku membuka hatiku pelan-pelan.

Suatu hari, ketika aku sedang bertandang seperti biasa ke rumah Bunda Faizal dan mengobrol asyik dengan Ayahnya. Dua telapak tangan menutupi pandanganku tiba-tiba. Hatiku bergetar hebat saat mengenali wangi parfum itu. Benarkah ini Faizal? Aku diam dan membeku. Suara itu, suara yang kurindukan dalam malam-malamku setahun ini, berbisik memintaku menebak. Aku tak berani, sungguh tak berani berharap ini adalah kenyataan. Aku terlalu takut bersuara dan membangunkanku dari mimpi.

Aku menoleh ke belakang. Dia di sana, berdiri di belakangku dengan senyum yang tak berubah. Ada bayang membiru di dagunya yang biasanya bersih, mata teduhnya yang tampak selalu tertawa, rambut hitamnya yang kini agak cepak, senyum tipis mengulas tapi dia tetap Faizal. Faizal, yang memberiku cinta, yang mencairkan hati bekuku sekarang berdiri di sana. Aku tetap diam, menggigit bibir bawahku agar airmataku tak mengalir tapi sungguh sulit sekali. Dan pecahlah tangisku ketika ia memanggilku seperti biasa, “Halo, Angelku sayang!”

Faizal menyongsong, memelukku dengan erat tanpa mempedulikan Ayah dan Bunda serta saudari-saudarinya. Ia tahu aku terlalu emosional saat itu, aku tak bisa mengendalikan apapun saat itu. Aku merindukannya, menahannya dalam-dalam dan sekarang ia hadir di sini, seperti biasa mencurahkan kasih sayangnya. Pertama kali dalam persahabatan kami, aku berbisik di sela isak tangisku, “aku kangen kamu, Zal.”

Pelukan Faizal semakin erat. Ada getar saat ia mengucapkan, “terima kasih mau menungguku begitu lama. Terima kasih Angel!” Dan kami mengakhirinya dengan saling menatap penuh kerinduan. Faizal, lelaki bermata teduh itu benar-benar datang. Ia datang setelah membiarkanku memilih. Ia tak pernah menghubungiku karena tak ingin mengikatku. Ia mencintaiku dan selalu menyimpan di hatinya sendiri. Ia memanggilku Angel, karena menganggap suatu hari aku akan belajar jadi malaikat. Paling tidak untuk diriku sendiri.

Setelah beberapa hari ia kembali, penuh semangat aku mengajaknya menemui Mama dan adik-adikku. Tanpa ragu, ia langsung menyalami mereka. Setengah menggoda, ia melamarku pada Mama. Entah apa yang mereka bicarakan waktu aku ke belakang menyajikan minuman. Di belakang aku digoda kedua adikku, sementara pikiranku berulang kali memikirkan respon Mama. Tapi ketika aku kembali, senyum di bibir Mama dan Faizal cukup membuatku tenang kembali. Dan restu Mama yang begitu tulus saat berbisik di telingaku ketika kami berpamitan melengkapi pertemuan itu. Aku menyayangimu Faizal, dan lebih mencintaimu karena kau menghormati serta menghargai Mama.

Lalu aku pun memaksanya bertemu Ayah dan Bunda kandungku. Faizal tak mengatakan apapun saat bersama mereka, malah dengan luwes seperti biasanya ia masuk dengan mudah dalam keluargaku. Sama seperti bersama Mama, iapun menyampaikan hal yang tidak kuketahui. Aku hanya pergi sebentar ke belakang mencari adik-adikku untuk kukenalkan padanya, tapi sesaat kemudian aku melihat pandangan lain di mata Ayah dan Bunda. Pandangan penuh rasa syukur karena aku bisa bertemu Faizal, pandangan penuh cinta dan terima kasih karena aku tetap melibatkan mereka dalam hubungan emosional dengan lelaki lain.

Faizal telah menunjukkan dengan menghormati dua keluargaku tanpa sedikitpun menyinggung masa lalu. Nilainya terus bertambah tanpa aku sendiri mampu menghentikannya. Akupun meyakini kenyataan, aku jatuh cinta pada sahabat dekatku sendiri. Tapi sungguh tak mudah bagiku mengungkapkannya pada Faizal. Biarlah, biarlah rahasia itu berdiam di sudut hatiku tanpa ada siapapun yang tahu. Aku bahagia mendampinginya sebagai sahabat dan biarlah tetap seperti itu.

Lalu akhirnya muncullah pertanyaan dari Faizal. Kenapa aku begitu berubah? Sulastri alias Angel telah berubah. Dia bukan lagi Angel yang dulu, tapi kini dia adalah Sulastri yang seorang Angel. Aku tertawa dan bertanya, jika itu berarti tidak baik apakah itu artinya Faizal akan pergi lagi. Dan dia menjawab, “kalau ini berarti jauh lebih baik, maukah Angel menemani Faizal pergi kali ini?”

Aku terpaku, tatapan Faizal berubah serius. Aku menunduk dan menjawab, “seseorang mengajariku cara memberi cinta, dan aku justru belajar banyak setelah kehilangan cinta itu. Jika suatu hari orang itu datang padaku, aku bersedia memberi cinta yang tak sempat kuberikan padanya selama ini. Dan aku bersedia menerima cintamu, Faizal.” Dan iapun menggenggam erat jemariku, mengangguk dan dalam mata teduhnya kali ini aku melihat masa depan penuh cinta yang indah. Bawalah aku bersamamu, Zal dan kita akan bersama dalam keindahan cinta. Terima kasih telah mengajariku cinta, belajar memahami dan memberi cinta. Ajari aku cinta yang lebih banyak dan lebih besar, Zal. Ajari aku caranya dan biarkan aku membalasnya pada orang-orang yang kucintai terutama dirimu.

T A M A T

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author