Aku Pernah Di Buang Orang Tua Ku

No comment 2515 views


Sewaktu bayi, aku pernah ‘dibuang’ oleh kedua orangtuaku, lalu ditemukan oleh lik Subali adik cer ibu. Mereka tega meletakkanku di pengki hanya karena wetonku sama dengan Pa’e. Menurut tradisi Jawa, hal itu harus dilakukan agar aku besoknya tak cengkrah dengan bapakku itu.
Setelah besar, geli rasanya membayangkan betapa nelangsanya si bayi merah tadi yang dibuang oleh orang tuanya sendiri. Entah karena diaku anak tadi atau apa, terbukti aku memang lebih dekat ke lik Bali dibanding saudara-saudaraku yang lain. Bahkan wajah kami mirip kata orang-orang. Sampai-sampai pernah terbesit curiga bahwa aku sebenarnya anak kandung beliau saat merasa tidak diperhatikan Bu’e-Pa’eku sendiri.
Tapi apakah kedekatanku dengan lik Bali dan weton sama tadi benar-benar menjauhkanku dari Pa’e? Ternyata tidak sama sekali. Bahkan kadang, aku merasa lebih dekat kepada beliau daripada kepada Bu’e.
Terlahir sebagai anak nomor empat dari sepuluh bersaudara, Pa’e remaja tanggung merantau dari pelosok Wonogiri ke Pati. Hijrah menjajal kehidupan yang lebih baik dari bagian selatan Jawa Tengah ke daerah pesisir utara Jawa. Kejujuran beliau mengantarkannya menjadi salah satu karyawan Pemda. Meski hanya pegawai rendahan, sesuai dengan ijasah SR-nya.
Semua yang ada pada diri Pa’e adalah hal-hal sederhana. Tanpa teori rumit tentang bagaimana membesarkan keenam anaknya, tanpa cita-cita muluk selain mengusahakan nafkah halal bagi keluarga, dan berbuat terbaik yang beliau bisa. Namun justru hal-hal sederhana itu yang takkan lekang dalam ingatanku.
Ketika kami masih sangat kecil dan belum bisa mencuci sendiri, tiap malam kutemui Pa’e dan Bu’e mencuci pakaian kami di sumur. Waktu itu kami masih menggunakan sumur timba yang sekitarnya diplester sederhana atau beralaskan batu-batu saja. Mereka memang baru bisa melakukan itu di malam hari, berpenerangan uplik, karena siangnya bapak kerja di kantor Pemda sementara ibu berjualan jajanan.
Tak ada teori bahwa tugas domestik adalah kewajiban seorang istri. Pa’e sama sekali tak risih ikut turun tangan. Bahkan setelah pensiun pun beliau tetap menjadi tangan kanan ibu yang berjualan nasi. Menggoreng tempe, bakwan, sambil mencuci piring dan perlengkapan masak, juga menyiapkan kebutuhan ibu lainnya tak pernah membuat gengsi bapak jatuh. Meski beberapa tetangga dan temannya berseloroh Pa’e sebaiknya memakai sewek (kain panjang) saja daripada sarung. Aku jadi ingat kisah Rasulullah yang menambal bajunya sendiri.
Pa’e sewaktu masih bekerja, dan kami masih kecil-kecil, sering membawa kotak jajan ke rumah usai rapat kantor. Jajanan yang waktu itu terasa sangat nikmat bagi kami yang tak berpunya dibagi rata. Pa’e hanya tersenyum saat kami menunggu tak sabar Bu’e yang membagi jajan tersebut untuk kami berenam. Bahkan seakan masih lekat di lidahku, bakso yang dibawa Pa’e yang butiran agak besarnya dipotong-potong adil untuk kami. Makanan semacam itu, masih terasa mewah bagi kami yang biasa makan dengan nasi garam campur parutan kelapa.
Menurut cerita mbakku yang nomor satu, Pa’e dulu juga sering membawanya ke dapur kantor saat banyak makanan usai rapat, sepulangnya dari TK yang dekat dengan tempat kerja Pa’e.
Agak besar, interaksi tak terlupakanku dengan Pa’e adalah saat kami membuat jumblangan untuk ganti kakus yang hampir penuh. Urutan nomor lima dari enam bersaudara, aku tumbuh lebih nglanangi dibanding dua kakak perempuan di atasku. Estafet ‘pekerjaan laki-laki’ dari Mas keduaku dengan senang hati kupenuhi karena adik bungsuku yang laki-laki selain masih kecil juga sering sakit-sakitan. Sementara dua kakak perempuan di atasku terlalu lembut untuk melakukannya. Bapak butuh seorang ‘anak lanang’ untuk membantunya saat masku itu terlalu besar dan sudah banyak bergerak di luaran. Selain menggali lubang untuk kakus, saat-saat ‘kasar’ berkesanku dengan Pa’e adalah ketika kami bahu-membahu membetulkan genteng yang bocor atau pagar. Dengan caranya sendiri, Pa’e mengajarkan kemandirian yang kemudian sungguh kupetik hikmahnya di masa depan. Misalnya saat mengaci wuwungan di rumah kami. Karena suami bekerja di lain kota dan tak selalu ada sementara hal itu mendesak untuk dilakukan, aku naik sendiri ke atap. Ibu-ibu tetangga yang melihat menjadi heran plus khawatir. “Ibu-ibu kok penekan membetulkan sendiri atapnya. Berjilbab lagi!” begitu komentar mereka. Aku hanya tersenyum. Mereka tak tahu bahwa aku sering melakukan itu di masa lalu. Selain bahwa penekan dan blusukan di kapal adalah bagian dari tuntutan profesiku. Bapak, memberiku contoh bahwa sebenarnya, pria-wanita dapat melakukan hal yang sama. Tanpa kehilangan fitrahnya. Tak perlu dikotak-kotak, tak perlu dipaksakan.
Saat-saat lembut dengan Pa’e adalah ketika aku sakit. Kalau Bu’e biasa memaksa kami untuk dikeroki (dengan marah-marah tentu), Pa’e justru sebaliknya. Sambil senyam-senyum beliau bertanya, “Kamu kenapa nduk? Sini tak pijiti.”
Duduk di sisi pembaringan, tangan Pa’e memijit-mijit kepalaku. Dan terbukti, kombinasi paksaan kerokan Bu’e yang membalurkan merah di punggung dengan kelembutan pijitan Pa’e membuatku bisa berlari-lari dan manjat pohon mangga lagi.
Saat-saat halus Pa’e yang lain adalah ketika membangunkan kami untuk sholat subuh. Kalau Bu’e, seperti kebanyakan ibu-ibu suka teriak-teriak dari dapur. Sesekali masuk kamar, malah memercikkan air yang kadang nyasar memasuki kuping kami. Ini berbeda dengan cara Pa’e. Masih (pura-pura) tidur, kami digendong kemudian diturunkan di sumur. Kontan saja kami berjingkat melepas kepuraan tadi karena dingin lantai sumur itu menjalar ke atas dari telapak kaki.
Terakhir saat-saat manis kami berdua adalah ketika aku mengantar Pa’e pulang kampung ke pelosok Wonogiri. Hanya berdua saja kami berganti angkot dan bis empat kali dari Pati ke Wonogiri.
Sebelumnya, Pa’e memang sudah rasan-rasan ingin menengok saudaranya. Feeling-nya mengatakan sesuatu. Dan memang, ada cobaan yang sedang menimpa salah seorang Uwo (pakdhe) yang termasuk dekat dengan Pa’e. Hendak pergi sendiri, kami tak mengijinkan karena beliau sering mabuk naik bis, apalagi yang ber-AC. Belum lagi kondisi fisik yang memang sudah banyak menurun termakan usia.
Tak ada yang lebih membahagiakanku selain ketika kulihat binar di mata Pa’e saat kubilang akan mengantarkannya. Aku seperti melihat anak lima tahunku yang berjingkrak kesenangan saat dijanjikan main mandi bola. Tak sia-sia kepulanganku ke Pati waktu itu.
Sepanjang jalan, lelaki yang darah dan doanya mengalir di tubuhku itu menyayangkan Bu’e, istri tercintanya yang tak bisa ikut karena sudah tak kuat melakukan perjalanan jauh lagi.
“Mbokmu pasti seneng nduk lihat hijau-hijauan itu.” kata beliau sambil menunjuk ke pepohonan menghijau menyejukkan di sepanjang jalan Pati-Purwodadi. “Sayang, tadi gak ikut.”
Atau,
“Mbokmu kalau ke sini nanti tak usah jalan ke atas. Naik ojek sudah bisa turun di depan rumah Kadri.”
Kadri adalah adik bungsu Pa’e yang paling dekat dengan kami. Kontur tanah di pegunungan kapur itu memang membuat jalannya naik turun, dan tentu tak mudah bagi orang tua yang bertenaga pas-pasan seperti Bu’e.
Cengkrah lantaran weton sama itu terbukti tak terjadi pada kami. Bahkan dekat di hati, sama seperti Bu’e yang dengan caranya sendiri mewarnai kami.
Pa’e adalah seorang lelaki sederhana, bapak yang sederhana memberi pada anak-anaknya. Namun tidaklah ada hal sederhana jika dilakukan atas nama cinta dan keikhlasan semata.
Seorang bapak, tak perlu korupsi untuk memberi lebih demi membahagiakan anaknya. Sebutir bakso jatahnya yang masih harus dibagi-bagi lagi, jauh lebih nikmat, halal dan membekas dalam.
Seorang bapak, tak harus menjaga gengsi tak mau membantu istri jika itu demi mengajarkan tanpa kata pada anak-anaknya, sesuatu yang bernama kesejajaran lelaki perempuan.
Seorang bapak, tak perlu menjadi seorang jendral atau pengusaha besar untuk memberi kebanggaan pada anaknya. Cukup seorang pensiunan rendahan, yang bercita-cita sederhana, yang memberi dengan sepenuh cinta.
Siapapun kita sekarang, sebagai bapak, ibu, atau anak seseorang, sudahkah mewujudkan cinta itu, cukup dengan cara sederhana saja?
—–Ditulis oleh Indarwati Harsono

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber :  sekolahkehidupan.com )

author