Alasan Mengapa Aku Mencintaimu

No comment 1820 views

 

Angin selatan begitu hangat terasa, dikala matahari masih tersipu malu menampakan wujudnya dipagi hari yang cukup dingin. Kecerian dan suasana yang cerah kini telah menanti untuk menyambut awal pergantian tahun yang lebih baik, karena ini adalah bulan desember.

Suasana yang begitu riang ditambah lagi kini aku telah mempunyai seorang yang sangat aku kasihi. Banyak dari waktu yang kulewati untuk bersamanya, menjaganya, menemaninya, membantunya melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak bisa ia lakukan sendiri. Sebab orang yang aku kasihi tidak seperti orang pada umumnya, dia cacat pada sebagian tubuhnya akibat sebuah kecelakaan, tapi aku berjanji akan tetap menyayanginya.

Inilah kisahku………

Waktu itu, seperti biasa kami mengahabiskan libur ahir pekan bersama. Jam telah menunjukan pukul 8 malam, dan kami baru saja selesai menonton sebuah filem di bioskop. Sebelum pulang aku mengajaknya untuk makan malam di sebuah warung bakso favoritnya. Tempat itu sangat ramai dengan pelanggan, maklumlah tempat itu merupakan salah satu warung bakso terbaik yang ada di kotaku.

”Wah jika tiap hari orang yang makan bakso sebanyak ini, kasihan baget nasib sapi di Samarinda, sukurdeh aku bukan diciptakan tuhan menjadi sapi” pikirku.

“Kenapa ko senyum-senyum sendiri..?” pertanyaannya langsung membuyarkan lamunanku, tapi bagus juga, jika tidak mungkin aku benar-benar akan menjadi sapi, meski dalam lamunan.

“Ah tidak apa-apa.., emm… ramai bangetya warung baksonya….?”

“Iya, di sini memang selalu ramai. Tahu tidak, dulu tempat ini kecil tapi karena baksonya enak dan mendatangkan banyak pelanggan ahirnya bisa sebesar ini sekarang. Ngomong-ngomong tadi filmnya bagusya, apalagi cowonya itu romantis baget…?”

“Oh ya.., kalo aku romantis gak?” tanyaku.

“Romantis jugasih tapi kadang-kadang, hahahaha….. O iya , boleh tidak aku bertanya sesuatu?”.

“Boleh memangnya mau nanya apa..?

“Kenapasih ko menyukaiku?”

“……%^….****..” aku terdiam, jujur aku bingung, aku sendiri tidak tahu mengapa aku menyukainya, semua itu hanya dapat aku rasakan.

“Ko diam, hallo… gak tauya, kenapa ko gak tau?, Bagaimana mungkin bisa benar-benar sayang kalau alasannya saja tidak tauhu..!!!”

“Maaf bukannya begitu, tetapi sungguh aku memang menyayangimu. Aku dapat membuktikan kalau Aku sungguh mencintaimu”.

“Bukti….?

Tidak! Alasannya saja tidak tahu, bagai mana mau menunjukan buktinya…?”

“Aku mau kamu menjelaskan alasannya dulu. Atau mungkin selama ini kamu hanya bermain-main denganku. Apa kamu cuma ingin mempermainkanku…?”

“Bukan begitu, aku sangat mencintaimu tapi aku sendiri bingung bagaimana aku menjelaskannya…!!!”

“Sudah jelaskan saja apa adanya…!” dia terus saja mendesakku, dan akhirnya aku jawab dengan sekenanya saja.

“Baiklah, aku mencintaimu karena kamu cantik, karena suaramu merdu, karena kamu penuh perhatian, karena senyummu begitu indah, karena setiap gerakanmu tampak begitu mempesona, karena kamu………… dst”.

Pembicaraan kamipun berahir setelah pelayan membawakan 2 mangkok bakso yang telah kami pesan. Selesai menyantap habis bakso tersebut akupun mengantarkannya pulang.

****

Beberapa hari kemudian sebuah peristiwa naas terjadi , kekasihku mengalami sebuah kecelakaan yang cukup tragis hinga menbuatnya koma di rumah sakit. Mendengar kejadian itu aku sangat terkejut dan segera bergegas menuju tempatnya dirawat.

Sesampainya di sana, akupun langsung memasuki ruangan tempatnya dirawat. Sejenak aku sangat merasa iba melihat orang yang kukasihi kini tak berdaya menghadapi maut. Tanpa terasa air mataku mengalir, bagaimana tidak jika melihat orang yang kita sayangi mengalami hal semacam itu.

Hari demi hari terus berlalu, aku terus berada di sisinya, aku ingin selalu menemaninya sampai dia sembuh nanti, “Tuhan tolong berikanlah kesembuhan kepadanya, aku sangat ingin melihat senyumnya lagi, tolong tuhan” do’aku.

Kini telah 2 minggu sejak ia dirawat, kondisinyapun mulai membaik. Aku senang dengan hal itu. Tapi yang membuatku tetap bersedih adalah keadaannya sekarang. Akibat kecelakaan itu kini ia harus kehilangan sebelah kakinya, ditambah lagi akibat benturan yang hebat telah merusak pita suara dan sebagian pada wajahnya.

Aku sungguh terpukul dengan semua itu. Minggu ke 3 ahirnya ia membuka mata untuk yang pertama kali setelah koma yang cukup panjang, ia menatapku dengan tatapan yang sungguh menyayat hati sambil menetaskan air matanya. Aku sungguh tak kuasa melihat peristiwa itu, air matakupun iku menetes karena hal itu. Ku genggam tangannya erat-erat, dalam hati aku berkata “sayang aku akan menjagamu selamnya”.

Hari-hari berikutnya keadaanya kurang setabil, mungkin karena Ia depresi setelah mengetahui keadaanya yang kini cacat.

“Sayang sabarya, aku akan terus tetap disisimu dan menemanimu” kataku menghiburnya.

“Untuk apa ?” katanya dengan suranya yang sangat berat akibat kecelakaan itu. “Kini aku cacat, aku sudah tidak punya masa depan lagi, dan aku tahu kamupun suatu saat nanti akan meninggalkan aku, iyakan….?”

“Tidak…, aku telah berjanji akan bersamamu, dan cintaku tulus kepadamu”.

Dia terus saja mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku, hinga ahirnya dia mengusirku untuk meninggalkannya.

“Lebih baik kau pergi sekarang, tidak usah lagi berpura-pura peduli kepadaku, aku tahu tidak akan ada lalki-laki yang mau kepadaku. Lihat aku sekarang yang hanya memiliki sebelah kaki, lihat wajaku ini, dan tentunya kamupun dapat mendengar bagaimana suaraku sekarang. Akupun yakin suatu saat kamu akan meninggalkanku, iyakan? Sudahlah tidak usah kau mengasihaniku lagi….!”

Kata-katanya sangat memukulku, sungguh aku tidak berpura-pura menyayanginya. Tapi biarlah karena keadaannya seperti sekarang yang masih terlalu tertekan akhirya akupun menuruti keinginannya itu.

“Baiklah sayang jika itu keinginanmu”.

“Cepatlah kamu pergi, karena keberadaanmu di sini hanya akan menambah lukaku..!”

Akupun bergegas meninggalkannya. Di luar aku tidak langsung pergi, kuambil selembar kertas dan sebuah pena, aku ingin menuliskan sesuatu dulu sebelum pergi. Selesai menulis, kulipat kertas itu menjadi segi empat lalu aku mendatangi suster yang sedang berjaga. Kutitipkan kertas itu kepadanya, kuminta agar nanti  ia berikan kepada kekasihku.

****

Inilah yang ku tulis:

Kekasihku, dulu kau pernah memaksaku untuk mengatakan alasan mengapa aku mencintaimu, walaupun kujawab tidak tahu tapi kau terus memaksanya, maka dari surat inilah aku akan menjawabnya.

Kekasihku jika seandainya aku selama ini menyukaimu karena suaramu yang merdu dan wajahmu yang cantik. Sekarang dapatkah kamu bernyanyi, dan apakah wajahmu masih sama seperti yang dulu?

Tidak…! Oleh karena itu Aku tak dapat lagi mencintaimu.

Aku mencintaimu karena kamu penuh perhatian kepadaku, tapi sekarang apakah kamu mampu memberikan perhatianmu keapadaku disaat kamu sendiri sangat membutuhkan perhatian…? Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya, oleh karena itu Aku tak dapat mencintaimu.

Aku Menyukaimu karena setiap langkahmu begitu indah, Sekarang dapatkah kamu melangkah seindah dulu?

Tidak! Karena itu Aku tak dapat lagi mencintaimu…

Kekasihku jika cinta memang memerlukan sebuah alasan seperti itu, maka saat ini tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencintaimu.

Lalu apakah cinta itu memerlukan alasan?

TIDAK! Oleh karena itu, Aku masih tetap mencintaimu. Cinta tidak memerlukan sebuah alasan, ia merupakan hal abstarak yang hanya dapat dirasakan. Dan kekasihku, cintaku kepadamu adalah tulus tanpa syarat.

Kini kamu tahu kenapa selama ini aku tidak pernah bisa menjelaskan kenapa aku menyayangimu? Jawabannya, karena aku mencintaimu apa adanya dalam kondisi apapun dan bagai manapun. Ketika aku memutuskan untuk mencintaimu, aku tidak pernah menyesal dengan apa yang pernah aku lakukan dan putuskan untuk mencintaimu. Walapun jika aku harus menyesal, yang pantas aku sesali adalah apa yang belum aku lakukan untuk dapat membahagiakanmu.

Kekasihku, jika Tuhan membawamu kepada cinta. Maka Ia akan memampukan kita untuk bisa mengatasinya. Dan jika sekali lagi kamu bertanya mengapa aku mencintaimu, jawabnya hanya satu, … karena aku mencintaimu…!

Dua hari setelah kejadian itu aku beranikan diri untuk menemuinya. sungguh perasaan ini sangat begitu kuat kepadanya. Sesampainya di rumah sakit, langkahku terasa berat, aku takut ia akan kembali mengusirku. Tapi biarlah aku beranikan diri untuk menemuinya. Begitu sampai di depan ruangan tempat ia dirawat aku kembali terdiam, keraguan itu kembali menghantuiku.

Dengan berat kupaksakan untuk siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Ku dorong pintu kamar itu dengan perlahan dan memasukinya. Di depanku tampak seorang wanita memandangku, dan matanya tampak berkaca-kaca menyambut kehadiranku. Tapi ada hal yang kini sangat berbeda dengan sebelumnya, kulihat sebuah senyum di bibirnya, senyum yang sangat indah, senyum yang tak akan pernah aku lupakan, karena dengan senyum itulah kebahagiaan kelak akan kuraih bersamanya.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : spicaku.blogspot.com )

 

author