Alunan Irama Alam

1 comment 600 views

Irama itu terdengar acak, dia tidak menepati satu tangga nadapun dengan tepat, namun iramanya adalah sebuah petaka. Irama itu mengiringi langkah tanpa memilah di pagi itu (8:00 wib, 23-02-2010 ) lalu ada kedukaan di perkebunan teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Soreang, seketika rata dalam pelukannya yang dingin berselimutkan lumpur. Bandung menangis…Tanah pasundan berduka.

Apa yang salah dengan alam ini..? hanya jeritan kedukaan yang tersirat kala itu tanpa memahami sedikitpun akan alunan irama alam ini.

Irama ini terus mengalir dan hampir setiap tahun dia mengalirkan irama yang sama untuk sebuah pesan yang sama, namun sepertinya manusia hanya memahami titik logika dari pesan tersebut tanpa mengkaji hakikat dari makna yang tersirat, olehnya Jakarta tetaplah menjadi ladang sawah ber-padi-kan Beton.

Kita masih ingat bagaimana alunan iramanya dalam melahirkan nuansa duka di aceh pada penghujung desember 2004 yang membuat dunia bingung memaknai alunan syair-syairnya, hingga kini iramanya selalu hadir di berbagai negara dibelahan bumi ; chile, Haiti, jepang, dengan berbagai alunannya ; gempa, tsunami, longsor. Dan kita masih belum sempurna memahami semua kejadian ini. Ternyata..kita tidak memahami alunan irama alam ini.. Ternyata.. kita tidak mau untuk memahami sedikitpun.. Ternyata.. kita lebih berharap agar Tuhan yang menolong kita.. Ternyata.. Kita lupa, Tuhan hanya mau menolong orang-orang yang mau menolong dirinya dan orang-orang dalam kebenaran.

Alam adalah makrokosmik dari diri manusia yang mikrokosmik, irama alam adalah kumpulan irama-irama jiwa manusia, dan keduanya terhubung secara transenden. Apa yang menjadi irama alam adalah cerminan dari irama jiwa itu sendiri, kita harus belajar untuk memahami semunya ini. memahami bagaimana hubungan antara keserakahan dan bencana banjir.. memahami bagaimana hubungan antara ketamakan dan bencana longsor.. memahami bagaimana hubungan antara Korupsi, kolusi dengan tsunami.. juga memahai bagaimana hubungan antara ketidakpedulian dengan berbagai bencana gempa. karena kesemuanya itu adalah sinyal dari tidak seimbangnnya energi alam, hingga alam bereaksi sedemikian rupa dalam memperbaiki keseimbangannya.

Seperti pada jiwa kita, dimana pergulatan kehendak dalam dualitas panorama warna hidup bergejolak dalam mengambil peran, dan dari sinilah segalanya dimulai. Warna-warna dari jiwa ini akan saling berinteraksi lalu berkumpul dan membentuk elemen-elemen energi yang lebih besar, energi ini akan berkumpul sesuai dengan warna dan vibrasinya seperti halnya kumpulan golongan kebajikan dan golongan kebatilan. Warna-warna energi inilah yang akan berinteraksi dengan energi alam yang ada lalu bereaksi dan melahirkan berbagai efek implementasi hukum alam.

Alam yang indah hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki jiwa yang selaras, karena jiwa-jiwa yang liar begitu sibuk meramu alam untuk merangkai kehendak yang penuh ketamakan. Dan akhirnya alampun bicara dalam makna yang tidak mereka pahami.. Mereka menafsir sebagai cobaan, sementara jejak langkah mereka tidak pernah menapaki tangga keimanan. Mungkinkah orang-orang yang tidak beriman itu di coba.? Mereka menafsir sebagai teguran, sementara jejak langkah hidup mereka tidak pernah menunjukan sebuah kesadaran. Wajarkah orang-orang yang buta hatinya akan mengerti pesan-pesan Ilahi.?

Akhirnya hanya rumput yang bergoyanglah yang dapat memberikan jawaban..

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author