Anak Mogok Sekolah

No comment 634 views

Banyak faktor yang menyebabkan anak mogok sekolah diantaranya seperti Anak merasa jenuh dengan rutinitas berangkat tepat waktu atau mengerjakan PR,Anak menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya,Anak mulai mogok saat pertama masuk sekolah dan harus menghadapi lingkungan baru,Beberapa penelitian menemukan kasus separation anxiety (takut berpisah dari orangtua karena merasa kurang percaya diri sendiri),Bosan. Metode pengajaran yang kurang menarik sehingga membuat anak mudah bosan dan malas ke sekolah,Suasana sekolah yang membuat anak kurang nyaman. Misalnya karena terlalu sesak atau panas,Masalah sosialisasi dengan teman atau guru. Misalnya ada teman yang kurang disukai atau guru yang menurutnya tidak menyenangkan,Anak merasa lebih betah di rumah karena tidak ada yang mengatur dan bebas bermain-main.

Untuk menanganinya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan para orang tua antara lain :

1. Anggaplah hal itu sebagai hal yang “wajar”, dalam arti saat anak mogok sekolah, tahan dulu untuk memarahinya. terus selidiki penyebabnya. Prose ini biasanya yang rumit, tergantung apakah anak sudah memahami dan mengerti apa sebenarnya yang membuat dia tidak nyaman. selain itu juga dipengaruhi oleh kemampuan anak dalam berkomunikasi. Orangtua harus kreatif dalam hal ini.

2. Charles Linden (penemu The Linden Methods yang khusus mengatasi fobia) mengatakan bahwa tujuan utama penanganan fobia sekolah adalah segera kembali ke sekolah. Semakin lama tidak sekolah, semakin sulit untuk kembali. Makin lama anak diijinkan tidak masuk sekolah, akan makin sulit mengembalikan. Selain itu, anak akan makin sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya, dan juga akan makin ketinggalanpelajaran.

3. Orangtua tetap bersikap hangat, penuh pengertian namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan akan lebih baik sesampainya di sekolah. Selain itu, orangtua harus menekankan pentingnya sekolah dan beri masukan positif tentang tempat belajar tersebut. Orangtua bisa melepaskan anak secara bertahap. Tidak masalah jika anak hanya datang di perpustakaan dan masih menolak masuk kelas. Yang terpenting adalah anak tetap mau sekolah.

4. Perilaku bukan anaknya.
Saat anak ogah-ogahan berangkat ke sekolah, tunjukkan ketidaksetujuan kita terhadap perilakunya, bukan terhadap si anak. Betapapun seriusnya kelakuan “buruk” si anak, kita harus menjelaskan kepada anak bahwa yang tidak kita senangi adalah perilaku buruknya, bukan dirinya. Bukan pula orangtua menolak dirinya. Jadi daripada berkata, “Dasar, anak bodoh!” (menunjukkan bahwa orantua menolak anaknya) sebaiknya orangtua berkata, “Jangan bolos sekolah ya!”
Jangan menyuruh anak pergi sekolah dengan mengatakan, “Ibu/Ayah ingin kamu berangkat sekarang!”. Ini bisa menciptakan konflik antara orangtua dengan anak. Strategi yang lebih baik adalah langsung menekankan peraturan secara impersonal. Misalnya, “Sekarang sudah jam 07.00 lho sayang. Waktu kamu untuk berangkat”. Dalam cara ini, setiap konflik atau perasaan marah yang etrjadi pada diri anak hanya akan terjadi antara anak dengan “jam”-nya, bukan dengan orangtuanya.

5. Luangkan waktu.
Banyak orang bilang bahwa bagi orangtua yang keduanya bekerja kualitas pertemuan lebih diutamakan. Tapi itu kan pikiran orangtua , belum tentu demikian halnya dengan anak-anak. Anak-anak tetap butuh kuantitas pertemuan dengan orangtuanya, tentunya selain menjaga kualitas pertemuan juga.

6. Tawarkan reward, misalnya jika anak rajin maka akan dibelikan jajan atau mainan. Berikan yang kira-kira sangat disukai anak kita.

7. Tahan kegiatan atau hal yang menyenangkan bagi anak, sampai dia masuk sekolah. Misalnya tidak boleh nonton tv dulu sebelum masuk sekolah, dsb.

8. Dekatkan anak dengan guru dan teman-temannya. Anak yang merasa nyaman dengan lingkungannya akan lebih mudah untuk bergabung dan mengikuti kegiatan sekolah.

author