Arti Berkorban – Pengalaman Mencari Sumbangan

Aku masuk ke rumah dengan hati kesal. Benar-benar deh, pokoknya ini yang terakhir kalinya aku mau membantu suamiku. Besok besok, biar diupah dengan dollar sekalipun aku tidak bakalan mau melakukannya lagi.

Memang salahku sendiri yang mau menawarkan diri. Tetapi sungguh aku tidak menyangka kalau meminta sumbangan itu ternyata tak semudah yang kubayangkan. Padahal yang kumintai  sumbangan itu teman-temanku sendiri.

Awalnya ketika sebuah panti  asuhan akan dipugar. Para penghuninya tinggal sementara di sebelah rumahku. Gara-gara mereka sering meminjam alat tukang pada suami, suamiku pun jadi sering mengobrol dengan Bapak pengurus panti tersebut. Dari obrolan tersebut akhirnya dia memutuskan untuk ikut membantu pencarian dana untuk  pemugaran Panti Asuhan.

Setiap hari sabtu atau minggu, suamiku berkeliling ke teman-temannya mencari bantuan dana. Setiap kali pulang, suamiku tak pernah bercerita tentang hal-hal yang sulit yang harus dihadapinya. Paling-paling kalau kutanya bagaimana hasilnya, dia hanya bilang, “lumayanlah buat nambah-nambah.”

Suatu hari suamiku ikut rapat pengurus panti asuhan. Dari situ aku dengar dari suamiku, mereka berencana mencari  pendonor lebih banyak karena biaya yang dibutuhkan masih sangat banyak sementara masa sewa rumah sementara akan segera habis.

Tapi suamiku harus training beberapa hari. Maka akupun menawarkan diri. Suamiku sempat meragukannya, tapi aku tetap ngotot untuk membantunya.

Namun semua benar-benar di luar bayanganku, itulah sebabnya aku pulang dengan hati yang kesal. Kubilang sama anak-anak untuk tidak menggangguku sebentar karena kecapean. Aku tidur berbaring  di lantai ruang keluarga sambil menonton televisi.  Percuma, tetap saja tidak menghibur, hatiku masih kesal setiap kali mengingat kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan yang kualami tadi siang.

Suamiku pulang cepat hari itu. Ia heran melihatku bermalas-malasan di depan televisi. “Mama kenapa?” tanyanya bingung.

“Aaah, ayah! Mama gak mau lagi ah disuruh minta-minta sumbangan. Sekalinya malah bikin mama malu aja.” Keluhku begitu suamiku duduk di sampingku.

“Capek-capek aku datangin eh… sekalinya cuma dikasih lima ribu perak.  Padahal tuh orang sombongnya kalau lagi pamer pamer kekayaan. Gak tahunya cuma nyumbang segitu. Alasannya, dia udah nyumbang kemarin ke panti lain. Sebel!” sambungku lagi sambil mematikan televisi .

Suamiku hanya tersenyum, “memangnya mama berhasil mengumpulkan berapa hari ini?”

“Tuh, lima puluh tiga ribu doang. Yang kudatangi ada kali duapuluhan orang, tapi rata-rata ngasihnya lima ribu, sepuluh ribu malah tuh ada yang ngasih tiga ribu aja. Malah ada yang  pake alasan macam-macam dan akhirnya ga ngasih apa-apa. Hiih.. pelitnya orang-orang itu.”

Kali ini suamiku berkata dengan lembut, “Kasihannya istriku sayang. Tapi ayah terimakasih sekali mama mau bantuin. Ayah malah pernah cuma dapat sepuluh ribu padahal hampir seharian sementara mama beberapa jam saja sudah bisa dapat segitu. Mama hebat.”

Kekesalanku langsung surut. Ah, susahlah mau marah-marah kalau dia bicara selembut itu. Lagipula bukan salahnya juga. Akupun hanya mengangguk sambil berusaha tersenyum.

“Ayah kok tahan sih melakukan ini semua setiap minggu? Mama baru sekali saja rasanya sudah malu banget. Belum lagi tadi orangnya kesannya kayak mau ngusir mama aja. Sudah deh yah berhenti saja, mama kasihan ayah harus ngalamin hal-hal kayak begitu.” bujukku pelan.

“Mama, Ayah sedang belajar, belajar beribadah, belajar berkorban, belajar merendahkan diri demi Allah. Memang awalnya susah, tapi lama-kelamaan kalau sudah terbiasa pasti kita takkan merasakan  kesusahannya lagi malah justru kenikmatan luar biasa. Kayak sholat, awalnya waktu kecil kita kan susah disuruh sholat, tapi karena terbiasa akhirnya malah kalau gak sholat rasanya seperti ada yang kurang kan?” Aku mengangguk setuju.

“Waktu kita meminta sumbangan itu, sebenarnya kita sedang belajar menguatkan fisik. Ibadah haji itu adalah ibadah fisik. Anggap saja saat kita berjalan ke sana kemari mencari sumbangan untuk membiasakan diri agar bisa melakukan ibadah haji nanti.” Sambungnya lagi.

“Kalau soal menahan rasa malu dan sakit hati, itu bagian dari cara kita belajar berkorban. Berkorban itu tak mudah loh ma, bukan sekedar mengeluarkan rupiah terus kita sudah berkorban. Tapi ada banyak cara bisa membuat kita memahami arti berkorban. Nabi-nabi kita semuanya merasakan yang lebih dahsyat dari kita dan mereka bisa melewatinya karena mereka orang-orang yang bersabar. Percuma mama nyumbang uang atau motong kambing segala kalau semua itu hanya simbolis dan keterpaksaan belaka. Korban sesungguhnya ya seperti ini. Berkorban itu belajar sabar, belajar ikhlas dan belajar berbagi dengan orang lain. Itu sebabnya  kalau sedang berkorban, kita harus melakukan ijab segala. Ya itu tadi agar merasakan kenikmatan atas rasa berkorban itu. “

“Mungkin saja teman-teman mama memang benar-benar tidak ada uang kontan. Atau bisa jadi mereka sudah termakan fitnah orang-orang yang mengira mama hanya bohong-bohongan saja. Pokoknya kita tuh harus belajar memahami orang. Jangan suudzon melululah.”

Aku terdiam. Suamiku benar. Kenapa aku harus malu? Aku kan tidak mencuri juga tidak menyakiti siapapun. Niatku hanya menolong, kenapa harus sakit hati?

Suamiku menepuk-nepuk bahuku, “Lagipula ma, kalau kita berbaik sangka dengan Allah, Insya Allah segala doa kita juga cepat dikabulkan. Sudahlah, mama yang sabar ya. Besok Ayah juga sudah selesai training, biar mama istirahat saja di rumah.”

Tiba-tiba sekelebat ide muncul di kepalaku, “Yah, memangnya ayah sudah berhasil dapat berapa?” tanyaku cepat. Suamiku menyebutkan jumlah uang yang sudah terkumpul. Wajahku langsung kembali ceria sambil menceritakan gagasanku untuk mengumpulkan dana lebih cepat dan efisien.

Maka, kami pun mengadakan Malam peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Aku dan suamiku, para pengurus serta pendonor tetap mengundang teman-teman dan keluarga kami untuk hadir dalam acara tersebut, ini termasuk teman-teman yang kudatangi. Anak-anak panti asuhan dan termasuk putra putriku ikut mengisi acara. Mereka bernyanyi, menari,  berpuisi dan bahkan melakukan drama komedi.

Setelah itu aku meminta anak-anak membacakan tulisan tentang isi hati mereka. Beberapa hari sebelumnya aku meminta anak-anak menuliskan apa yang sangat mereka inginkan selama ini untuk disampaikan kepada Allah. Anak-anak heran dan bertanya, “Memangnya bisa begitu ya Bunda?” tanya Hilmi.

“Iya, pokoknya tulis apa saja yang kalian mau.”

“Kasih contoh dong bun, biar ga salah nulisnya nanti bukannya dikasih malahan bikin Allah marah.”

Akupun membantu anak-anak membuat tulisan. Aku bilang anggap saja kalian sedang berdoa dan meminta pada Allah. Anak-anak bersemangat ketika membuat tulisan pendek itu. Malam ketika memeriksa hasil pekerjaan mereka, aku menangis berkali-kali. Sengaja kuperiksa agar hal-hal tak perlu bisa kucoret karena tak perlu disampaikan. Maklum, namanya juga anak-anak, bahasanya kadang-kadang terlalu jujur.

Maka Pesan untuk Allah dari anak-anak itu berlangsung sukses membuat airmata para tamu jatuh. Permintaan mereka disampaikan dengan malu-malu tapi menyentuh hati setiap orang.

Ridho menulis, “Ya Allah, Ridho minta kamar Ridho yang baru dicat warna biru. Ridho juga ingin punya sepatu, gapapa kalau bekas. Tapi kalau bisa sih baru.”

Halim menulis, “Ya Allah, boleh tidak aku minta kaos bola?”

Dahlia menulis, “Kalau minta Mama sama Papa boleh tidak? Aku maunya Papa yang rajin sholat dan Mama yang rajin memasak.”

Titi menulis, “Aku ingin berkumpul lagi dengan Ibu di kampung. Tapi karena aku harus sekolah,aku ingin punya tas yang bagus karena tas lamaku sudah putus dan terlalu sering dijahit. Aku ingin tas yang ada gambar prinsesnya. Dengarkan aku ya Allah.”

Malam itu dana yang terkumpul sangat lumayan. Ibu-ibu pengurus Panti memelukku dengan rasa syukur. Ya Tuhan, suamiku benar, ada nikmat luar biasa di hati yang tak bisa kugambarkan.

Setelah selesai acara dan sedang berberes-beres di rumah, suamiku menghadiahiku pelukan hangat sambil berkata, “selamat ulang tahun pernikahan ya istriku sayang. Ini hadiah terbaik yang pernah ayah dapatkan.” Aku tertawa, oh iya kami menikah pada saat Maulud Nabi. Hehe… terus terang karena sibuk persiapan, aku lupa.

Pengorbanan itu ternyata juga berbuah manis. Penantianku selama empat tahun untuk memiliki anak ketiga melalui proses normal tanpa bantuan medis dan obat, berhasil. Beberapa bulan kemudian, aku dinyatakan hamil dan melahirkan putri ketigaku di bulan April 2009, empat hari setelah hari ulang tahunku. Proses kelahirannya memang melalui operasi, tapi hanya berlangsung 35 menit dan lancar. Aku bahkan masih sadar dan bisa bercanda dengan dokternya hingga proses selesai. Padahal waktu melahirkan kedua anakku sebelumnya, aku mengalami proses yang amat sulit.

Kami sudah tinggal berjauhan dengan para penghuni Panti sekarang dan bertemu sesekali saja. Tapi pengalaman itu takkan pernah kulupakan.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author