Arti Penting Keluarga

1155 views

Keluarga adalah satuan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga terdiri dari bapak, ibu dan anak. Semua bermula dari keluarga. Sebelum seorang anak ‘keluar’ dari rumah dia ‘berangkat’ dari keluarga. Bagaimana seorang anak bersikap di lingkungannya terbentuk dari keluarga.

Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Dua kakak saya juga perempuan. Sejak kecil, kami dididik dengan baik. Setiap hari minggu kami wajib pergi ke gereja dan mengikuti sekolah minggu. Kami diajari untuk tidak datang terlambat ke sekolah. Ayah dan ibu saya mengajari banyak hal yang baik kepada kami.

Di usia 11 tahun kurang 5 hari, ayah saya meninggal dunia. Di usia tersebut, saya tidak terlalu mengerti akan artinya kehilangan. Yang terasa hanya kosong kemudian saya tidak tahu kosong itu kenapa.

Sejak saat itu, saya berubah menjadi anak yang keras, suka melawan, dan suka seenaknya. Kami berempat (ibu, kedua kakak saya dan saya) berusaha menjalani hidup secara normal dalam keadaan yang tidak lagi normal. Jika boleh beralibi, saya berubah menjadi keras karena ingin terlihat kuat oleh ibu dan kakak-kakak saya. Tapi ternyata cara saya tersebut justru menyakiti hati ibu dan kakak-kakak saya.

Sampailah di satu titik saya harus melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Waktu itu ibu saya tidak memberi ijin bagi saya kuliah di luar kota. Setelah memohon dan berjanji untuk bisa hidup sendiri, akhirnya ibu saya mengijinkan saya kuliah di malang.

Ada dua alasan kenapa saya memaksakan diri untuk kuliah di malang. Pertama, saya ingin bebas. Kedua, saya ingin kabur dari kehidupan yang bagi saya tidak normal itu. Di Malang, pelan-pelan saya mengatur hidup. Jelas bukan hal yang mudah bagi saya anak paling kecil di keluarga yang biasanya apa yang saya inginkan selalu ada sekarang harus memenuhi kebutuhannya sendiri. Mengatur keuangan, makan, bersih-bersih kamar, sampai harus mengurus diri sendiri ketika sakit. Susah. Tapi saya gengsi untuk minta pulang.

Sampai natal di tahun pertama saya sebagai anak rantau, saya memilih tidak pulang ke Jakarta dan merayakan natal bersama keluarga. Pada malam natal, sehabis pergi bersama teman, saya di kamar kos sendirian. Mematikan lampu. Dan berpikir.

Saya rindu ayah saya. Saya rindu ibu saya. Saya rindu kedua kakak saya. Saya merindukan natal bersama mereka. Malam itu saya hanya bisa menangis sambil berdoa pada Tuhan.

Natal ketujuh setelah ayah saya meninggal di tanggal yang sama tujuh tahun lalu, mengubah hidup saya. Mulai dari sana saya mengerti betapa pentingnya keluarga bagi kehidupan saya.

Tujuh tahun saya habiskan untuk mempertanyakan ‘kenapa Tuhan memberikan saya hidup yang tidak lagi normal tanpa seorang ayah?’. Dari tujuh tahun tersebut saya terlalu berfokus pada diri saya.  Saya menutup diri dan merasa apa yang saya lakukan itulah yang terbaik untuk keluarga saya. Padahal ada ibu dan kedua kakak saya yang siap menemani saya menjalani hidup yang terasa tidak normal tersebut. Tapi saya justru menyia-nyiakannya.

Kematian mungkin akan memisahkan kita dengan orang yang kita sayangi. Tapi kematian merupakan salah satu cara Tuhan menghidupi kita yang ditinggalkan. Dan dari jarak kota antara saya dan keluarga saya di Jakarta juga merupakan salah satu cara saya memaknai pentingnya keluarga. Apapun saya lakukan hari ini adalah untuk ibu dan kedua kakak saya, serta ayah saya di Surga.

Jangan tunggu sampai kehilangan, kemudian kecewa selama bertahun-tahun atau harus berpisah jarak berkilo-kilo meter dengan keluarga kita baru kita mengerti arti penting mereka bagi kita. Jangan sungkan untuk mengungkapkan rasa sayang kita kepada mereka. Berikan yang terbaik untuk mereka. Tanpa mereka kita tidaklah berarti.

Keluarga adalah titik awal dan titik akhir kita berdiri. Dari sana kita terbentuk dengan baik. Maka dengan baik pula kita akan kembali ke sana.

author