Belajar Dari Juru Kunci Merapi

No comment 649 views

Dalam beberapa minggu terakhir, media masa dan media elektronik tidak habis-habisnya membicarakan Merapi dan juga sosok “Juru Kunci (Kuncen) Merapi” yang cukup kontroversial bernama Mbah Maridjan.

Apa sebenarnya yang menarik dari kisah seorang Juru Kunci Merapi?

Untuk mendefinisikan ketugasan (wewenang) seorang Juru Kunci, beberapa pihak masih memperdebatkan, seolah itu hanya rahasia antara Hamengku Buwono (HB IX sebagai Pemberi Tugas) dan Mbah Maridjan sendiri serta Yang Maha Kuasa.

Berdasar wikipedia, Juru Kunci Merapi adalah seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta yang ditunjuk langsung oleh Sultan Kasultanan Yogyakarta untuk menjadi juru kunci di wilayah Gunung Merapi. Juru Kunci Merapi terakhir adalah Mas Penewu Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan nama Mbah Maridjan, yang menjabat sejak tahun 1983 hingga kematiannya dalam erupsi gunung Merapi di tahun 2010.

Mas Penewu Surakso Hargo (Mbah Maridjan)

Dikutip dari tempointeraktif.com pada tanggal 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan menjadi juru kunci Gunung Merapi atas perintah Sultan HB IX. Tugas utama Mbah Maridjan sebagai juru kunci, adalah pelaksana upacara sakral tahunan Labuhan Merapi, yaitu sebuah upacara pemberian sesaji kepada Gunung Merapi setiap tanggal Jawa 30 Rejeb. Mbah Maridjan menjalankan tugasnya dalam kapasitasnya sebagai abdi dalem yang menganut istilah ‘sendika dawuh’ (siap diperintah). Apapun yang diperintahkan raja adalah kewajiban yang harus dijalani, apapun risikonya. Saat itu, Mbah Maridjan mengatakan, untuk turun, dia harus menunggu perintah Sultan Hamengku Buwono IX. Bagi masyarakat awam, tentu tidak masuk akal karena Sultan Hamengku Buwono IX sudah meninggal. Tapi bagi Mbah Maridjan, itu bukan hal mustahil karena bila bicara tentang Gunung Merapi dan Mbah Maridjan kita tidak bisa lepas dari cerita alam gaib yang berkuasa di kawasan Merapi.

Ritual tahunan “Labuhan Merapi”

Ada pro dan kontra perihal apresiasi yang diberikan kepadanya selama mengemban tugas sebagai juru kunci gunung paling aktif di Indonesia tersebut. Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari masa pengabdian Mbah Maridjan tersebut.
1. Cinta

Cinta terhadap profesi sering disebut sebagai kesetiaan atau loyalitas. Bagaimana seorang juru kunci yang konon berpenghasilan kecil dan berisiko tinggi tersebut tidak pernah berpaling dengan kesetiaannya menjaga amanah. Sungguh “Luar Biasa“, bahkan di saat-saat terakhir di kala yang lain sudah mengungsi ia masih memegang kunci tersebut dan tetap menunggu datangnya perintah dari pemberi amanah untuk mengungsi, walaupun taruhannya adalah nyawa. Semua itu dapat terjadi hanya karena cinta.
2. Selaras dengan Hukum Alam

Kesediaan manusia berbuat baik dan berbagi dengan makhluk lain (flora, fauna, fenomena alam lain) sesungguhnya adalah upaya untuk menyelaraskan kehidupan dengan hukum alam dan diyakini akan mengembalikan kebaikan kepada manusia juga.

Seorang kuncen harus bisa ‘sraung’ (berbaur) dan menjadi penengah bagi seluruh entitas yang ada didalamnya. Kemampuan ‘ngaruhke’ (memperhatikan) terhadap kebutuhan alam untuk kebaikan sesama menjadi faktor penting bagi tugasnya. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan kepekaan (respect) terhadap lingkungan sekitarnya dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya.

3. Kepemimpinan

Figur seseorang yang dijadikan panutan dan didengarkan (dipatuhi) ucapannya meskipun secara legal formal tidak pernah ditetapkan, merupakan ciri-ciri kepemimpinan. Tentu ini tidak datang begitu saja, tetapi nilai-nilai positif yang dibangun dari hari ke hari membentuk pengakuan tersebut.

Seorang kuncen diyakini dapat melihat lebih jauh (visi) sebelum orang lain melihat itu, disamping itu ia dapat menerjemahkan bahasa visi tersebut kepada orang-orang di sekitarnya sebagai hal yang harus dipatuhi. Dalam hal ini kita menganggap keahliannya melihat dengan ilmu titen (pengamatan) dan bisikan (firasat) sesungguhnya bukan merupakan hal yg tdk dapat dilogika, tetapi kemampuan itu diasah dari ‘mata wadag’ (fisik) dan mata batin seorang pemimpin, dan kita menyebutnya sebagai intuisi.

Mbah Maridjan meninggalkan akhir hidupnya dengan kontroversial, karena tidak banyak yang tahu mengapa ia tidak mau segera mengungsi padahal kita meyakini sesungguhnya dia tahu bahwa Merapi sudah sangat berbahaya. Kita hargai keteguhan hatinya, dan kita ambil sikap-sikap positifnya yang LUAR BIASA untuk kita bawa ke dalam kehidupan kita.

Penulis : Joko Hariyono

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author