Dongeng Keluarga

No comment 1688 views

Ini hari ulang tahunku yang ke- 6, ayah memberiku anjing kecil dengan ekor panjang. Aku memberinya nama Lessie. Lessie adalah anjing yang sangat lucu. Aku senang mengajaknya bermain bola, atau berguling-gulingan di taman. Suatu hari, Lessie menggigiti sepatu ayah sampai bolong. Ayah sangat marah, dia akan memukul Lessie. “Jangan ayah.. nanti Lessie menangis..” rengekku. Untung ayah baik hati, dia tidak jadi memukul Lessie, namun kemudian ayah menempatkan sepatunya di rak yang sangat tinggi. Lessie sekarang tidak bisa lagi menggigiti sepatu ayah.

“Daniel, ayo makan dulu. Jangan main sama Lessie terus!’ Suara ibu memanggilku dari dapur. Aku mencium bau ayam goreng yang sangat lezat. Aku langsung berlari meninggalkan Lessie yang sedang mengejar bolaku. Ternyata Lessie mengikutiku. Saat aku duduk di meja makan, Lessie menaruh kakinya keatas kakiku, hidungnya mengendus-endus. Sepertinya dia juga ingin makan ayam goreng. Aku memberikannya sepotong ayam goreng milik ayah, Lessie senang sekali. Dia langsung membawa ayam itu ke bantal kesayangannya, dan memakannya disana.

“Lho, ayam buat ayah mana?” tanya ayah. Ibu datang sambil membawa panic, ternyata isinya sup jagung. Aku juga suka sekali sup jagung. Aku tidak sabar memakan semuanya, namun ibu malah menanyaiku. “Tadi ibu sudah menaruh ayam di piring ayah, kemana ayamnya Daniel? Kamu makan?” Aku ingat, aku tidak boleh berbohong, lagipula ayam itu kuberikan pada Lessie, ibu kan juga sayang sama Lessie, ibu tak mungkin marah. “Tadi Lessie juga minta ayam, aku berikan pada Lessie bu.” Ternyata ibu marah, ayah malah tertawa keras. “Daniel! Lessie sudah punya makanan sendiri! Masa kau berikan ayammu pada Lessie!” Ibu memarahiku. Aku tidak berani menatap wajah ibu. Ayah perlahan mengelus rambutku “Daniel, lain kali jangan begitu ya.. Nanti Lessie jadi nakal kalau dimanjakan..” Aku mengangguk mengerti.

Suatu hari, ibu dan ayah sedang tidak ada dirumah. Aku hanay dirtinggal bersama pembantu yang bernama Bik Inah. Bik Inah sedang sakit, dia tidak bisa menemaniku bermain di halaman. Aku bermain bersama Lessie. Seperti biasa aku melempar bola kepada Lessie. Lessie mengejarnya dengan ekor yang bergoyang-goyang. Lucu sekali. Aku sungguh sayang pada Lessie. Saat berlari mengejar bola, rupanya kaki Lessie tersangkut pada pagar kawat halaman. Kakinya berdarah-darah. Aku sedih sekali.

Aku menggendong Lessie masuk kerumah, lalu meminta Bik Inah menyiapkan perban. Aku pernah melihat ayah membungkus kakiku dengan perban saat kakiku tersandung, dan aku bisa sembuh. Lessie pasti bisa sembuh juga. Aku menetesi kaki Lessie yang berdarah dengan obat merah, lalu membungkusnya dengan perban. Lessie menyalak kesakitan, kasihan sekali dia. “Cup Lessie, kamu psti akan sembuh.” Lalu aku menggendong Lessie ke tempat tidurku. Aku akan menjaganya, seperti ibu yang selalu menjagaku saat aku sakit.

Saat aku tidur disamping Lessie dengan memakai selimut, ayah dan ibu pulang. Mereka mengira aku sedang sakit. “Bukan aku yang sakit bu, Lessie tadi kakinya berdarah.” Kataku pada ibu. Ibu langsung memeriksa kaki Lessie. Lessie sedang tertidur pulas. “Kita bawa ke dokter hewan ya Daniel, nanti infeksi..” kata ibu. Aku setuju, kata bu guru, kalau kaki infeksi, nanti bisa membusuk, terus harus dipoton. Aku tidak mau Lessie tidak punya kaki.

Dokter hewan itu sangat baik hati. Dia memakai kacamata persegi seperti ayah. Dokter itu menyuntik Lessie, katanya agar tidak infeksi, lalu mengganti perban yang kubungkuskan dikaki Lessie dengan perban baru. “Sebentar lagi Lessie akan sembuh.” Kata dokter. Aku senang, aku akan segera bermain lagi degan Lessie. Tapi aku tidak mau mengajaknya bermain di dekat pagar kawat.

Saat sakit, Lessie manjadi pemurug. Dia tidak mau bermain denganku. Dia hanya tidur terus di bantal kesayangannya. Aku sangat sedih, aku takut Lessie mati. Temanku, Toni pernah punya anjing yang mati karena sakit. Kata Toni, anjing sakit itu pasti akan mati. Ayah selalu menemaniku menunggui Lessie. Aku sering dipeluk ayah, ayah juga sering menghiburku agar aku tidak terus bersedih. Sesekali ayah menemaniku bermain bola. Ibu juga sering menunggui Lessie di kamarku. Ibu sering membuatkan susu dan makanan anjing yang banyak untuk Lessie. Tapi Lessie tidak mau makan. lessie hanya tidur terus, mungkin kakinya memang sakit sekali. Kalau ayah dan ibu tidak dirumah, Bik Inah yang menunggui dan memberi makan Lessie bersamaku.

Setelah beberapa minggu, badan Lessie semakin kurus, karena dia hanya mau minum susu. Tapi, akhirnya Lessie sembuh! Lessie bisa melompat-lompat dan menyalak dengan keras. Aku senang sekali. ayah juga senang, ibu apalagi. Dia bahkan menggendong Lessie berkali-kali. Bik Inah juga, saking senangnya terus-terusan member Lessie susu, sampai Lessie pipis dimana-mana. Bik Inah hanya tertawa saat ibu menegurnya “Yang penting Lessie sembuh, dan den Daniel bisa main sama Lessie lagi.” Kata Bik Inah. Aku memang sangat senang. Mulai hari ini aku akan bermain bersama Lessie.

Hari ini hari pertama masuk TK Besar. Tadi saat aku mau berangkat ke sekolah TK Besar, Lessie mengantarku sampai pagar dengan bik Inah. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bermain denganku nanti saat pulang sekolah. Aku akan mengajaknya bermain berguling-guling di rumput di halaman. Bolaku sudah rusak gara-gara digigiti Lessie. Tapi ayah berjanji akan membelikanku bola baru. Ah aku bisa bermain bola lagi dengannya. Pagar kawat rumah juga sudah diganti oleh ayah. Lessie tidak perlu takut kakinya tersangkut lagi.

Bu guru menyuruh kami menggambar di buku gambar. “Gambarkan keluarga kalian dengan crayon yang kalian bawa ya anak-anak..” perintah bu guru. Aku mulai menggambar ayah, ibu, dan aku yang sedang digandeng. Oh iya, aku juga menggambar Lessie. Aku juga harus menggambar Bik Inah, dia juga keluargaku, tapi aku tidak bisa menggambar rambutnya yang dicepol. Semoga bu guru tau, ini gambar bik Inah. Judul gambaranku “Keluargaku”. Aku juga memberi nama di bawah gambarnya. Ayah-Daniel-Lessie-Ibu-Bik Inah.

sumber : adelliarosa.wordpress.com

author