Gadis Muda Yang Tegar

No comment 2613 views

Ceria dan ramah, dua kata yang menggambarkan Erika, seorang perempuan muda saat pertama kali kami kenalan. Aku mengenalnya dua tahun lalu di sebuah kopdar milis sebuah majalah wanita. Kekakuan dan rasa tegangku karena bertemu teman-teman baru mencair seketika,  saat  ia menyapaku dengan senyuman lebarnya. “Mbak Dedew ya?”
Aku memperhatikan wajahnya berusaha mengingat-ingat siapa ya gadis di depanku ini. Sebelum ikutan kopdar, aku menghapal foto-foto FS teman-teman baruku ini. “Aku Echa, yang sering YM-an dengan mbak Dedew.” Ia memelukku hangat. Aku mengangguk lega dan mengobrol panjang lebar dengannya. Dengan cepat, kami akrab seperti teman lama.
Ya, karena pembawaannya yang hangat membuat keakraban langsung tercipta di antara kami.             Wajahnya tak terlalu cantik, tetapi ia memiliki magnet yang membuatnya nampak menarik. Erika bakal membuat orang betah berlama-lama bersamanya.
Penampilan Erika layaknya gadis muda dari kalangan the have. Wajah dan tubuh terawat, pakaian modis bermerk. Sempurna. Tipe gadis yang ingin sesuatu tinggal minta pada orangtuanya. Dan bum! Keinginannya terwujud semudah membalik telapak tangan.
Ia begitu santai, bersemangat dan tanpa beban bercerita segala hal. Ah, tentu saja tanpa beban! Ia memiliki segalanya. Gadis seperti itu tahu apa tentang hidup? Pikirku memandangnya. Kebetulan saat itu, aku sedang melankolis karena sedang banyak masalah pribadi.
Dan aku salah. Aku tak tahu apa-apa tentang dia, tetapi berani menilai seorang Erika karena penampakan luarnya semata. Kalian pun pasti tak menyangka kalau dibalik keceriaan dan semangatnya itu, ia memikul beban berat. Dan aku baru mengetahuinya setelah mengenal gadis itu lebih dekat…
Erika berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Timur. Ayahnya termasuk orang berada di daerah asalnya. Erika diterima di sebuah PTN ternama di kota Bogor. Di kota hujan itulah, ia indekos, kuliah dan aktif di kegiatan kampus. Berkat sifatnya yang supel, ia punya banyak  teman yang menyayanginya.
Di saat ia menyusun skripsi, Erika punya banyak waktu luang. Dasar gadis yakg aktif, ia tak tahan  berpangku tangan. Erika pun memutuskan melamar pekerjaan dan dan diterima sebagai pialang di sebuah perusahaan penanaman modal  di bilangan segitiga emas Jakarta. Tak terkira kebahagiaan gadis muda itu ia pun bolak-balik Bogor-Jakarta setiap hari dengan semngat.
Sebagai pialang, ia harus mencari klien yang bersedia menanamkan modal/ di perusahaannya. Tanpa pikir panjang, Erika meminta orangtuanya agar mereka menanamkan modal. Papa dan mamanya menyetujui permintaan anaknya dan memberikan suntikan dana seratus juta rupiah.
Sebagai pialang pemula, Erika didampingi oleh seorang supervisor yang belakangan diketahui adalah pemula dalam bidang itu. Pekerjaan yang berat karena seorang pialang mesti jeli dan punya insting tajam untuk memutuskan apakah ia akan membeli dan menjual.
Awalnya, Erika mendapatkan untung tujuh juta rupiah. Ia makin bersemangat. “Aku emosi, mbak..aku punya modal seratus juta rupiah dan dan memasang lima lot masing-masing duapuluh juta.” ceritanya. Dan apa yang terjadi? Ia salah perhitungan. Harga merosot tajam. Uang seratus juta dari orangtuanya ludes seketika. Ya, high risk high return begitu lah resiko pekerjaan seorang pialang.
Bukannya berhenti dan mengaku salah pada orangtuanya, Erika berbohong bahwa ia mendapatkan keuntungan besar dan ingin agar mereka menyuntikkan dana lagi.
Ya, Untuk memulai kembali, Erika mesti menanamkan modal lagi.  Orangtua Erika percaya begitu saja hingga mereka mentransfer dua ratu limapuluh juta lagi untuk putrinya. Tak hanya itu, kekasih Erika pun turut menyumbang seratus juta rupiah hasil meminjam pada orangtuanya.
Malang tak dapat ditolak. Erika yang amatir lagi-lagi salah perhitungan. Uang ratusan juta rupiah ludes tak bersisa. Ia kehilangan segalanya. Gadis muda itu kalut dan shock. Ia tak dapat menghadapi orangtuanya juga orangtua kekasihnya.
Kedua sejoli itu bertengkar hebat di kosan. Keduanya kebingungan tak tahu harus bagaimana menghadpai orangtua mereka. Erika masuk kamar mandi dan dengan gelap mata, ia menenggak cairan pembersih lantai. Karena kekasihnya tak kunjung keluar dari kamar mandi, Ardi curiga lalu mendobrak pintunya dan menemukan gadis itu terkulai lemas di lantai kamar mandi dengan mulut berbuih.
Syukurlah, ia dapat diselamatkan oleh dokter di rumah sakit. Nyawanya tertolong. Tapi ia menghadapi masalah yang lebih besar lagi. Orangtua Erika datang tiba-tiba ingin mengambil uang di Erika karena perusahaan mereka sangat membutuhkannya.

Yang mereka temui adalah anak gadisnya yang tergeletak di rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Papa dan mama Erika shock begitu tahu uang mereka amblas. Uang hasil keringat yang ditabung selama puluhan tahun.
Orangtua Ardi datang ke rumah sakit. Yang terjadi berikutnya adalah perang mulut antar orangtua. Sumpah serapah dan ancaman beterbangan. “Kamu Di, mau-maunya pacaran dengan gadis jalang itu!” teriak Ayah Ardi penuh kebencian. Erika terkulai tak berdaya dengan mata membengkak habis menangis. Hidupnya gelap seketika. Kenapa aku tak mati saja? Pikirnya saat itu.

Tak menunggu Erika pulih, mereka membawa gadis itu ke perusahaan itu dan mengamuk. Pihak perusahaan lepas tangan karena merasa hal itu adalah resiko Erika sebagai pialang. “Ini namanya penipuan! Menjebak anak ingusan!” teriak Papa Erika garang.

Hari itu juga, orangtuanya menyeret Erika pulang. Ia meninggalkan Ardi dan studinya yang hampir selesai. “Untuk apa lagi kamu di sana, hah! Kuliah disini saja!” bentak papanya.

Di rumah, Erika merenung. Ia tak ingin putus sekolah. Ia harus kembali ke Bogor dan menyelesaikan skripsinya apa pun yang terjadi. Gadis itu pun nekad melarikan diri. Orangtuanya murka dan berkata tidak akan mengakuinya sebagai anak. Mereka bahkan menyetop kiriman uang untuk putri semata wayangnya itu.

Dunia serasa runtuh. Erika kini tak punya apa-apa lagi. Ia sebatangkara di perantauan. Orangtua membencinya. Seluruh barangnya telah ditarik oleh Papa dan mama. Mobil, TV, Kompo dan lainnya sudah dibawa pulang. Ia hanya memiliki telepon seluler  dan..aha komputer bututnya!

Untuk biaya makan, Erika pun berat hati menjual kedua barang berharganya itu. Ia harus bertahan hidup dengan usahanya sendiri. Ia tak bisa mengandalkan siapa-siapa.  “Itulah saat terpahit bagiku, mbak.” Kenang Erika. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dari gadis yang serba berkecukupan menjadi gadis miskin. Untuk makan hari itu pun, ia mesti memutar otak bagaimana cara. Kadang hanya makan sekali sehari demi menghemat pengeluaran. Ia mendapati hidupnya berada dalam titik terendah.  Setiap pengeluaran dihutng dengan cermat karena ia tak punya tabungan, tak punya benda berharga untuk dijual dan tak ada orang untuk dimintai bantuan.

Terkadang, ia iri melihat gadis seusianya berpakaian bagus, bisa jalan-jalan dan bercanda ria. Ya, seperti ia yang dulu. Tapi sekarang? Bisa makan saja sudah bagus. Namun, kesedihannya ia buang inilah jalan hidupnya. Segala sesuatu tak selalu yang seperti kita inginkan. Ia pun melarikan kesedihannya dengan berdoa pada Allah, maha pemberi kekuatan.
Ia pindah kos ke tempat yang lebih sederhana. Disana, ia bertemu dengan ibu kos yang baik sekali. Erika menceritakan segala kesulitannya, dan ibu itu terperangah tak percaya. Seperti cerita sinetron saja! Ibu kos menjadi salah satu penolongnya. Tak jarang, ia diberi makan gratis di kos. Teman-teman kosnya juga menyemangatinya.

Dengan kondisi psikologis yang berantakan, ia mencoba menyelesaikan skripsi. Dengan komputer pinjaman, ia berjibaku mengerjakan skripsi yang terbengkalai karena masalh berat yang dihadapinya.

Ia menghadap dosen pembimbing berbekal skripsi yang dikerjakannya. “Kamu kurus sekali, Er.” Komentar sang bapak menatapnya heran. “Pak, ini skripsi saya! Tolong luluskan saya, Pak! Tolong saya!”

Terbata-bata, ia menceritakan masalah yang dialaminya. “Saya tidak bisa meluluskan kamu begitu saja, tapi saya bisa membantumu menyelesaikan skripsi.” Kata pak dosen bijak.

Pak dosen dan kelaurganya adalah penolong Erika di masa sulit. “Ia salah satu orang yang berjasa dalam hidupku, mbak.” Katanya berbinar. Pak dosen dan istrinya dengan tulus membantu Erika.

Sahabatku itu mengerjakan skripsi di rumah pak dosen memakai komputer dan kertasnya. Istri pak dosen sering mengajaknya makan siang. Bahkan, untuk ke kampus pun ia nebeng dosennya itu. “Kamu pasti tidak punya ongkos untuk ke kampus.” Kata si bapak tersenyum. Erika betul-betul terharu dengan [erhatian keduanya.

Teman-teman kampusnya juga tak kalah berjasa. Kesetiakawanan yang ditunjukkan oleh Erika membuat ia menangis terharu. Di saat ia sedang kesulitan, teman-teman sekampus ada untuknya. Ia tak lagi merasa sendirian.

Bayangkan, Mereka rela bersusah payah mencarikan bahan skripsi di perpus, membantunya mengetik agar ia bisa mengejar jadwal wisuda beberapa bulan lagi. Beberapa orang melatihnya seminar. Bahkan meminjamkan baju untuk sidang! Subhanallah, Erika merasa beruntung memiliki teman-teman sebaik mereka.

Di sela kesibukannya menyusun skripsi, ia magang di klinik dokter hewan atas rekomendasi pak dosen pembimbing yang baik hati itu. Ia pun mendapat penghasilan yang cukup lah untuk makan dan onmgkos ke kampus.

Alhamdulillah, kerja keras Erika, pak dosen dan teman-temannya berbuah manis. Tiga bulan kemudian, Erika maju sidang skripsi dan berhasil mendapat nilai A! Di tengah kehidupannya yang sedang porak poranda, ia  bisa meraih gelar sarjananya.  Erika melangkah penuh percaya diri menerima ijazah dari pak dekan diiringi sorak-sorai teman-temannya. Rasanya tak percaya, ia bisa melewati semua ini.

Bagaimana dengan orangtuanya? Mereka masih tak mau berbicara dengan putrinya itu. Setiap Erika menelpon, hanya amarah dan bantingan telpon yang ia terima. Tapi gadis itu tak sakit hati dan putus asa. Ia yakin, suatu saat orangtuanya akan memaafkannya.

Erika pun mencari pekerjaan. Allah maha mendengar doa hambanya. Tak berapa lama, Erika mendapat pekerjaan sebagai marketing di perusahaan asuransi di Jakarta.

Ia ingat, karena tak punya uang sama sekali untuk transpor ke tempat kerjanya, ia meminjam uang teman kos. Setiap hari, ia bolak-balik Bogor-Jakarta.

Sebagai marketing, ia mesti memenuhi target perusahaan setiap bulan. Ia pun giat mencari klien. Menelpon dan mendatangi mereka. Penolakan adalah hal biasa baginya.

Tak jarang, ia mesti pulang pukul 23.00 malam karena kliennya hanya bisa ditemui setelah jam kerja usai. Ia bahkan pernah dicemburui oleh pacar kliennya. Belum lagi, ia mesti tahan banting dirayu calon klien yang iseng. Sebuah hidup yang keras.

Hebatnya, di tengah kesulitan hidup Erika selalu nampak ceria, tak tampak beban berat di wajahnya. Ia aktif di beberapa milis majalah wanita dan sering ikut kopi darat. Bertemu teman-teman baru dan ngobrol adalah hiburan yang murah meriah baginya. Tentu saja, ajang untuk memperluas networking.

“Aku bisa dapat banyak info dari milis, aku juga bisa curhat pada kalian ketika beban ini tak tertahankan lagi.” Katanya. Aku tersenyum. “Teman-teman yang membuatku kuat bertahan. Kalian lah membuatku semangat untuk menjalani hari-hari sulitku.”

Erika juga selalu ada di setiap kegiatan yang diadakan klub kami. Entah itu acara sosial, workshop membuat aksesori, hingga pelatihan public speaking. Apalagi biaya yang dikeluarkan tak mahal. Ia haus akan ilmu dan wawasan baru.

Selain itu, ia juga tertarik untuk memburu door prize yang selalu ada di setiap acara. “Lumayan, bisa ngirit pengeluaran beli kosmetik dan sabun.” ujarnya sambil nyengir. Aku terbahak. Ya, Erika kan pemburu hadiah yang tersohor di milis kami.

Alhamdulillah, Allah memberinya berbagai kemudahan. Di saat orang-orang susah mendapat kerja, Erika sering dapat panggilan dan diterima bekerja.  Ia pernah bekerja sebagai marketing bank asing, pengajar bahasa Inggris, kontributor artikel majalah otomotif dan gaya hidup.

Namun, ia masih mencari pekerjaan yang paling pas untuk dilakoninya. Gadis itu semakin mendekatkan diri pada Allah. Ibadahnya yang rajin membuatku kagum. Ya, hanya pada-Nya tempat kita meminta.

Suatu hari, ia menelpon dan memberitahu kabar gembira. Ia diterima bekerja di sebuah bank pemerintah di Bogor. Inilah awal yang baru baginya. Ia tak usah bolak-balik Bogor-Jakarta seperti pekerjaan sebelumnya. Ia tak usah lembur dan mengejar target setiap bulan. Dengan pekerjaan tetap yang bergaji lumayan, akhirnya ia bisa menata hidupnya. Erika tak kelaparan lagi. Bahkan, ia memutuskan kuliah malam. Ia mengambil program master manajemen.

Bagaimana dengan papa dan mamanya? Berkat kesabaran Erika menghubungi mereka dan memohon maaf, orangtuanya luluh. Mereka memaafkan kesalahan Erika dan hubungan mereka mesra kembali seperti dulu.

“Kalau mengingat semua yang terjadi, rasanya tak percaya aku bisa bertahan. Syukurlah, aku punya orang-orang yang menyayangiku. Juga keyakinan kalau Allah takkan berpaling dari umat-Nya.” Kata Erika dengan mata berbinar…

-Dewi Rieka aka Dedew

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

author