Guru Komunikasi Terbaik

No comment 597 views

Bagi sebagian orang berkomunikasi adalah hal mudah. Kita mengenal begitu banyak media komunikasi bahkan melakukannya hampir setiap hari. Tetapi berbeda dengan komunikasi yang akan kutuangkan dalam tulisan ini, komunikasi dalam rumah tangga secara verbal maupun tulisan ternyata tak semudah mengatakannya.

Tak mudah melakukannya karena harus ada saling pengertian dan pemahaman mengenai karakter pasangan. Rumah tangga adalah urusan dua hati yang berbeda karakter dan watak, keinginan yang berbeda dan berbagai masalah pelik yang mewarnainya. Maka berkomunikasi dalam rumah tangga sungguh berbeda saat kita berkomunikasi dengan sahabat ataupun orangtua. Itulah sebabnya jangan heran ada orang yang lebih mudah berbicara dari hati ke hati dengan sahabatnya dibandingkan pasangannya.

Aku ingin membagi sedikit pengalamanku bersama suami. Kami merasakan bagaimana sulitnya beradaptasi agar mampu berkomunikasi. Perbedaan watak dan usia cukup mempengaruhi proses adaptasi kami berdua. Dulu di awal pernikahan, aku masih dengan jiwa muda yang enerjik, penuh emosi, terkadang meledak-ledak dan lebih mementingkan diriku sendiri. Sementara suamiku dengan pola pikir yang jauh lebih dewasa, terkesan pendiam dan lebih kalem. Sekilas mungkin banyak orang mengira akulah yang lebih dominan dalam rumah tangga termasuk berkomunikasi. Padahal sesungguhnya suamiku yang dikenal pendiam itulah guru komunikasiku selama ini.

Dulu aku selalu mengatakan keinginanku begitu saja padanya. Apa yang kusuka atau tidak kusuka langsung kukatakan padanya, bahkan selalu tak peduli dengan sekelilingku saat itu, termasuk suami sendiri. Maklum anak manja, sudah terbiasa dengan segalanya selalu diberikan. Aku tidak pernah menunjukkan perhatian apapun padanya, semuanya hanya untukku. Tapi dengan kesabarannya yang luar biasa, suamiku mengajarkan padaku cara memberi perhatian selain pada diriku sendiri.Setiap kali dilihatnya aku dalam keadaan good mood, dia mengajakku duduk berbincang, bertanya tentang berbagai hal di tempat kerjaku (waktu itu masih kerja), dan memusatkan segala perhatiannya padaku tanpa sedikitpun bercerita tentang keadaan di kantornya, teman-temannya ataupun keluarganya. Sekali duakali aku senang saja karena suami care padaku, tapi lama kelamaan aku merasa dia seperti buku tertutup dan akupun penasaran apa saja yang ia lakukan tanpa aku di sisinya. Ketika akhirnya aku bertanya tentang keadaan di kantornya, dia langsung tersenyum lebar dan berkata “naaah, akhirnya istriku tahu juga caranya membagi perhatian.” Bingung??? Aku dulu juga begitu. Saat itu suamiku sedang mengajarkan bahwa berbicara itu bukan untuk kepentingan satu pihak saja, tetapi kedua belah pihak harus bisa saling membagi perhatian satu sama lain.

Lalu suamiku juga mengajarkan bagaimana cara mengambil keputusan bersama. Karena sejak kecil aku selalu mengambil keputusan sendiri sesukaku, lalu kemudian bekerja di lingkungan dimana akulah pengambil keputusan apalagi suamiku bukanlah tipe orang otoriter. Maka tak heran ketika menikah, aku sering mengambil keputusan sendiri. Memutuskan tinggal dimana, memilih sendiri perabotan yang kusuka bahkan membeli berbagai barang pribadiku tanpa meminta pendapat suami. saat itu aku benar-benar tidak perduli pendapatnya, asalkan aku suka aku akan beli barang-barang itu. Dia tak pernah melarang sekalipun dana yang aku gunakan adalah uang darinya. Karena tak pernah berkomentar, aku mengira ia suka dengan pilihanku. Suamiku memang selalu memberiku kebebasan melakukan keinginanku, tetapi ketika akhirnya aku menyesali keputusanku itu di kemudian hari barulah ia mengatakan secara halus kalau dulu sebenarnya ia tak setuju. Beberapa kali aku malah menyalahi dia karena tidak mengingatkanku tetapi jujur aku sendiri juga merasa tak pernah bertanya padanya.

Contoh kecilnya ketika aku membeli cat warna pink untuk jendela dan pintu rumah baru kami, dari wajahnya sebenarnya aku tahu dia tak suka. Tetapi bukannya marah atau kesal, ia malah membantu mengecatkan warna itu ke jendela dan pintu rumah. Ketika aku pulang kerja dan melihat hasilnya, lalu berteriak kaget “iiih, kok jelek banget!!!’ dia hanya tertawa-tawa geli sambil menggodaku. Setelah puas melihat penyesalanku barulah ia mengeluarkan warna pilihannya yang ternyata memang lebih bagus dari warna pink.

Pelan-pelan aku belajar bertanya tentang pendapatnya. Dari persoalan-persoalan rumah tangga yang menyangkut kepentingan kami berdua, sampai kemudian segala sesuatu yang menyangkut diriku sendiri. Ia tak pernah melarangku memakai rok mini tetapi setiap kali melihatku memilih pakaian kerja dalam bentuk rok mini, ia selalu menggodaku dengan nada negatif tapi bercanda. Secara perlahan suamiku mengajarkan aku jenis pakaian apa yang ia sukai untuk aku kenakan dengan memuji penampilan artis sinetron yang sedang kami tonton, “coba deh istriku mau pakai baju seperti itu pasti kelihatan cantik.” atau ketika kami berjalan-jalan di mal, ia melihat jenis pakaian yang ia suka, suamiku tak segan berkata, “mamah pasti cantik kalau pakai baju itu.” Kadang-kadang ia juga membawa majalah-majalah wanita yang menurutnya sedang mode dan pantas untukku, ‘itu tuh, ayah tadi nemu di meja mbak D, katanya udah selesai dibaca dan ayah lihat model bajunya bagus buat mamah.” Padahal ketika aku berterimakasih pada mbak D, rekan kerja suamiku di kantor, dia malah bingung karena katanya justru suamikulah yang sering menitip padanya untuk membeli majalah-majalah wanita itu. Sepanjang hidup kami selama menikah, tak pernah sekalipun ia mengkritik penampilanku secara langsung atau mengajarkan cara berpakaian yang ia sukai secara terang-terangan. Dia lebih banyak memberi jalan agar aku menemukan pilihanku sendiri. Dia bahkan bersujud penuh rasa syukur ketika aku memutuskan berjilbab setelah putra kami lahir.

Suamiku pula yang mengajarkan bahwa berkomunikasi bukan cuma sekedar berbicara. Dulu ia menggunakan telepon dan sms sekedar bertanya tentang anak-anak, padahal kami selalu bertemu di rumah. Hanya karena telingaku mengalami gangguan setelah kecelakaan dan menggunakan telepon tidak mudah apalagi dengan bantuan alat pendengar maka lama-lama kami jarang bertelepon lebih dari tiga menit. Lalu kemudian setahun terakhir ini ia menggunakan email untuk mengirimkan berbagai hal seperti artikel-artikel yang menurutnya bagus untuk pengetahuanku, atau mengirimkan copy emailnya bersama teman-temannya yang penuh canda, lalu ia juga sering mengirimkan berbagai keputusan kantor.

Aku senang karena cara ini membuatku merasa selalu bersamanya. Ketika ia bercerita tentang email canda dengan teman-teman kantornya, aku bisa mengerti apa yang ia maksud karena ikut membacanya. Ketika dia membaca artikel bagus, atau bercerita tentang perdebatannya dengan orang-orang di forum-forum online, kami bisa membahasnya bersama di rumah. Berbagai keputusan kantor seperti penambahan plafon rumah sakit, perubahan susunan organisasi kantor, prestasi kantor dan bahkan jika ada pergantian di kantornya pun aku bisa tahu sehingga ketika perubahan itu mempengaruhi waktu kerjanya maka aku bisa mengerti. Tetapi cara ini pernah mendatangkan masalah pada kami berdua.

Suatu kali secara diam-diam, dia pernah mengirimkan SK kenaikan jabatannya padaku. Karena bukan tipe orang yang selalu ada di depan komputer, akupun melewati emailnya. Apalagi alamat emailku juga digunakan putra-putriku untuk bermain, maka berbagai notifications facebook memenuhi emailku dan menenggelamkan email sang ayah. Waktu itu ia pulang kerja, mungkin berharap ada kejutan dariku dan anak-anak. Tapi bukannya disambut dengan kejutan, aku malah meributkan putra kami yang jatuh didorong temannya. Saat itu, dia cuma diam dan bertanya apakah aku mengecek email, aku malah menjawab dengan ketus “boro-boro yah, wong seharian repot ngantar eza ke rumah sakit.” Baru beberapa hari kemudian, aku membaca emailnya. Menyesal? tentu saja dan aku langsung melakukannya via telepon. Waktu ia pulang sore itu, aku menyiapkan kejutan terlambat kami untuknya.

Berbulan-bulan kemudian, akupun pernah mengirimkan lagu pilihanku yang romantis untuknya via email sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami bulan juli kemarin. Ketika ia pulang, aku sudah bersiap diri mendapatkan kado kejutan darinya. Tapi bukannya mengingat tanggal tersebut sebagai tanggal ulang tahun pernikahan kami yang ke-13, dia justru mengingatnya sebagai tanggal akhir pembayaran kartu kredit. Kesalnya minta ampun apalagi waktu itu aku sudah berdandan rapi jali bersama anak-anak dan menyambutnya dengan kue tart buatanku sendiri. Tapi saat aku marah, dia menggoda dengan mengingatkanku tentang kejadian email SKnya dulu. Maka akupun cuma bisa terdiam dan meski kecewa aku tetap bersyukur bahwa kami bisa bersama setelah 13 tahun. Namun, bukan suamiku namanya kalau tidak bisa membalasku. Suatu hari setelah lebaran, dia mengirimkan sejumlah uang ke rekening pribadiku di luar uang jajan dan kebutuhan rumah tangga. Ketika aku bertanya untuk apa, dia menjawab dengan nada santai kalau uang itu untuk membeli tiket konser Maher zain yang akan konser bulan oktober nanti karena ia tahu aku suka lagu-lagunya dan ia mau menemaniku nonton. Lagu Maher Zain yang berjudul “the rest of my life” adalah lagu hadiah yang kukirimkan padanya melalui email saat ulang tahun pernikahan kami. Saking senangnya saat itu aku melompat memeluknya dengan girang, tanpa peduli pandangan heran ketiga anakku melihat tingkah laku mamahnya yang kekanak-kanakan

Dua kejadian itu membuat kami sepakat bahwa setiap email yang kami kirimkan harus diberitahukan lagi melalui telepon agar tidak timbul kekecewaan seperti itu lagi.

Dari suami aku belajar bahwa berkomunikasi bisa berjalan meskipun tanpa banyak bicara. Karena itulah ketika ingin mengakhiri tulisan ini, aku bertanya padanya apa yang penting bagi setiap pasangan terutama suami agar bisa saling berkomunikasi dengan baik. Jawabannya sangat singkat. “Niat baik dulu, terus hasil komunikasi itu setuju atau tidak harus untuk kebaikan bersama bukan keinginan pribadi dan terakhir guru terbaik agar komunikasi nyambung dengan istrinya, yaaah bapaknya istri alias mertua karena dialah lelaki pertama yang mencuri hatinya.” Sebagai istri yang sudah bertahun-tahun memahami sifat suamiku maka bisa kujelaskan kalimatnya yang singkat itu.

Niat baik bagi kedua belah pihak adalah penting, karena keinginan untuk bisa “nyambung” itu cuma bisa dibangun kalau keduanya sama-sama ingin melakukannya. Dan jika setelah berkomunikasi, lalu timbul keputusan yang kurang mengenakkan bagi salah satu pihak tetapi jika memang itu untuk kebaikan mau tidak mau harus dijalankan.

Dan terakhir yang membuatku juga kaget karena baru tahu. Ternyata suamiku dulu juga pernah bingung menghadapi istrinya yang manja, cengeng dan egois sepertiku. Papakulah yang mengajarinya bagaimana cara agar didengarkan. Terus terang aku tertawa heran dan geleng-geleng kepala sendiri, sungguh benar-benar di luar perkiraanku.

Satu hal lagi, suami tidak pernah sekalipun mendebatku saat aku marah atau kesal meski dia tahu bukan kesalahannya. Dia diam dan paling-paling cuma mendengarkan. Hanya pernah ketika kami sedang berbincang biasa dia mengingatkan satu hal “mamah boleh ngomel, boleh marah-marah, boleh menyalahkan tetapi satu hal yang tidak boleh mamah lakukan yaitu mengucapkan kata cerai dan mencaci maki terutama dengan kata-kata tidak pantas.” Maka semarah apapun aku, aku selalu mengingat hal itu dan alhamdulillah aku selalu bisa menghindari perbuatan itu.

Semoga Allah s.w.t membukakan jalan bagi kita semua agar memahami dan menemukan jalan yang tepat cara berkomunikasi yang baik dalam rumah tangga agar menjadi keluarga sakinah ma waddah warohmah.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author