Guru Pencerahan

No comment 608 views

Kadang  ada  sahabat  yang  datang  dengan  penuh   keraguan kemudian bertanya: apakah Anda sudah tercerahkan sampai berani-beraninya mengajarkan pencerahan? Meminjam pengalaman para tetua di Tantra, ada 3 jenis guru pencerahan. Pertama, guru tipe raja. Kedua, guru yang menyerupai kapten kapal. Ketiga, guru yang belajar menjadi penggembala domba.

Dalam tipe raja, seseorang hanya boleh mengajarkan pencerahan bila sudah tercerahkan. Namun dalam kelompok guru kapten kapal lain lagi. Guru dan murid sama-sama menaiki kapal yang sama. Nanti ketika sampai di seberang, keduanya mengalami pencerahan secara bersamaan. Dan dalam kelompok guru penggembala domba, yakin dulu dombanya sudah bisa makan secara aman nyaman, baru kemudian penggembalanya boleh makan. Artinya, murid yang mengalami pencerahan dulu, kemudian baru gurunya boleh terbang ke alam pencerahan.

Dengan kata lain, tidak selalu harus tercerahkan dulu baru boleh mengajarkan pencerahan. Penggembala domba tampaknya paling mulya. Ia tidak memikirkan pencerahan dirinya sendiri. Hanya membimbing, membimbing dan membimbing orang lain. Setelah tugasnya selesai, kemudian ia baru boleh memikirkan terbang ke alam pencerahan.

Pencerahan: Tujuan versus Perjalanan

Ada orang yang memandang pencerahan sebagai tujuan. Ia serupa dengan perjalanan panjang yang berat, susah dan jauh. Setelah melewati berbagai rintangan dan cobaan, kemudian ada kemungkinan terbukanya pintu pencerahan.

Dalam klasifikasi pencerahan sebagai tujuan, ada berbagai macam tanda dan ciri-ciri pencapaian meditasi. Dan tentu saja semua layak dihormati. Bagusnya tanda-tanda ini, ia bisa menjadi semacam pedoman perjalanan bagi banyak orang. Bahayanya tanda-tanda, ia bisa menjadi jebakan yang mencelakakan.    Terutama     karena    di   tingkatan   tertentu,

pencerahan dan pembebasan sesungguhnya tanpa kerangka, tanpa kriteria apa lagi konsep.

Namun untuk memenuhi dahaga sekelompok pencari yang memerlukan tanda-tanda (pencerahan sebagai tujuan), sejumlah guru Tantra (sebagai contoh Tulku  Urgyen Rinpoche) kerap menyebut 3 jenis pencerahan sebagai tujuan. Pertama, pencerahan dalam hidup ini. Ia ditandai oleh sudah berjumpanya seseorang dengan  3 jenis samadhi (konsentrasi). Dari  samadhi of suchness (semua terlihat sempurna apa adanya), samadhi of illumination (semua kegelapan kebingungan mengalami keruntuhan menyisakan kehidupan yang terang benderang), serta samadhi of seed syllable (seseorang sudah mendengar, melihat dan meletakkan aksara suci di dalam batinnya).

Kedua, pencerahan di waktu kematian.  Setelah menjalankan praktek kesadaran yang dalam dan panjang, orang-orang jenis ini nasibnya serupa anak burung garuda. Kematian seperti pecahnya telur, begitu telurnya pecah langsung terbang ke alam pencerahan. Tentu saja ini hanya mungkin terjadi bila seseorang sudah melakukan persiapan latihan meditasi  panjang dalam hidupnya.

Ketiga,  bila  pencerahan  tidak  terjadi  dalam  hidup  ini atau di waktu kematian, ia masih mungkin terjadi  di alam bardo (waktu antara kematian dan kelahiran kembali). Di alam bardo, semua yang terjadi hanya pancaran batin seseorang, sehingga tidak perlu takut berlebihan, atau gembira berlebihan. Semuanya hanya serangkaian fenomena yang muncul lenyap. Ia yang sudah terbiasa tenang, seimbang, mencapai pandangan terang dalam meditasi, momen ini menjadi semacam ‘pertempuran’ terakhir untuk mencapai pencerahan.

Sebagai bekal penting mengalami pencerahan di waktu kematian dan alam bardo, mempraktekkan kesadaran waktu terjaga lebih mudah dibandingkan dengan praktek kesadaran dalam mimpi. Praktek kesadaran dalam mimpi lebih mudah dibandingkan dengan praktek kesadaran di waktu kematian dan alam bardo. Terutama karena kualitas godaan ketika kematian maupun di alam bardo jauh lebih tinggi. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain terkecuali segera mempraktekkan kesadaran. Praktek kesadaran yang kuat ketika terjaga menjadi modal untuk melakukan praktek kesadaran dalam mimpi. Keseimbangan kesadaran dalam mimpi inilah kemudian yang menjadi modal untuk praktek kesadaran ketika memasuki kematian maupun alam bardo. Makanya ada guru yang berpesan, mimpi adalah saudara kembarnya mati.

Disamping pencerahan sebagai tujuan, pencerahan juga mungkin ditemukan dalam setiap perjalanan kekinian. Ada yang menyebutnya sebagai pencerahan-pencerahan kecil. Bila dikumpulkan bisa menjadi modal untuk mencapai pencerahan besar sebagaimana penjelasan pencerahan sebagai tujuan.

Dalam kelompok pencerahan sebagai perjalanan, juga tersedia 3 ciri yang layak direnungkan. Pertama, senantiasa belajar untuk   memandang secara mendalam (semua mau bahagia, semua tidak mau menderita sehingga disarankan untuk banyak menyayangi, bila tidak bisa menyayangi cukup tidak menyakiti). Kedua, melakukan semua langkah keseharian dengan penuh kesadaran (lihat pintu belakang yang berjudul Cerah Dalam Tiap Langkah). Ketiga, apa pun yang terjadi dalam keseharian, semua hanya gelombang yang naik turun. Seperti gelombang samudera, ada gelombang besar ada gelombang kecil. Baik yang besar maupun kecil pada waktunya akan merunduk rendah hati mencium bibir pantai yang bernama kematian. Dan kematian, ia bukan perpisahan, melainkan arus balik memeluk kembali samudera pencerahan.

Siapa saja yang sudah menyatukan keseharian dengan meditasi (mingling life with meditation), akan mengerti pesan seorang guru: Enlightenment is so close, that’s why people don’t see it. Enlightenment is so simple that’s why people don’t believe it. Pencerahan sesungguhnya sangat dekat. Namun seperti buku, karena terlalu dekat orang tidak bisa membacanya. Pencerahan sebenarnya amat sederhana, namun karena pikiran menyukai kerumitan, maka orang pun tidak mempercayainya.

Tatkala cahaya pencerahan menyala, terlihat terang benderang bahwa apa yang selama ini dicari-cari dan ditakuti ternyata hanya mimpi. Dan Anda pun tersenyum karena pernah lama dicengkeram mimpi.

Merenda Tujuan dan Perjalanan

Kendati kedua pendekatan pencerahan sebagai tujuan dan perjalanan ini terlihat berbeda, namun ada benang merah yang bisa menyatukan keduanya. Keduanya sama-sama menggarisbawahi the awakened mind (batin yang sudah bangun dari tidur panjang seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan), dan hasil langsung dari batin yang sudah terbangunkan adalah the infinite compassion (kasih sayang tidak terbatas kepada semua mahluk).

Dalam bahasa yang lebih terang, keheningan (the awakened mind) yang tidak dipeluk kasih sayang tidak pernah diajarkan sebagai jalan pencerahan. Di jalan pencerahan, keheningan baru sempurna bila diisi dengan kasih sayang. Kasih sayang baru sempurna jika dilakukan dalam keheningan (baca: tanpa keakuan)**).

Sebagai akibatnya, setiap langkah keseharian (dari mandi, makan pagi, kerja, berdoa sampai dimaki orang) yang diterangi oleh kesadaran sekaligus kasih sayang, ia menjadi langkah-langkah pencerahan.

Pertama-tama, dalam kesadaran mendalam terlihat jelas bahwa gonjang-gonjing kehidupan (naik-turun, sukses-gagal, sehat-sakit) hanyalah putaran alamiah. Ia sesederhana malam yang berganti siang. Melawan putaran kehidupan, itulah penderitaan. Mengalir sempurna dengan putaran kehidupan, itulah pencerahan.

Begitu cahaya pencerahan muncul, semua hal yang membuat manusia menderita (ketakutan, keraguan, kekhawatiran), mirip dengan tali di tengah kegelapan. Karena gelap, kemudian rasa takut akan ular muncul. Begitu cahaya lampu dinyalakan, ketakutan menghilang. Itu sebabnya, salah satu lambang pencerahan adalah singa karena tidak memiliki rasa takut. Termasuk tidak takut akan kematian.

Uniknya, dalam terang cahaya pencerahan (di mana terlihat jelas semuanya hanya serangkaian saling ketergantungan sempurna yang kerap disebut kosong), keakuan (ego) sebagai sumber penderitaan lenyap, sekaligus memunculkan rasa lapar untuk senantiasa menyayangi. Bukan menyayangi karena ingin disebut suci, bukan menyayangi karena lapar dengan sebutan baik. Sekali lagi bukan!. Namun karena sifat alami mahluk tercerahkan itu penyayang.

Ia sesederhana kambing dan serigala. Bila kambing dikasi daging, secara alami ia menolak. Tanpa mencaci bahwa vegetarian itu baik, makan daging itu dosa. Jika serigala diberi rumput,   secara   alami  ia    menghindar.  Tanpa  mengumpat bahwa vegetarian itu bodoh, makan daging itu enak. Mahluk tercerahkan juga serupa, ia menyayangi bukan karena takut neraka serta serakah sama surga. Namun seperti halnya kambing dan serigala, sifat alami mahluk tercerahkan memang penuh kasih sayang.

Berbagai jalan tersedia

Sebagaimana perjalanan ke puncak gunung, ada berbagai jalan dan arah yang tersedia. Dan buku ini menyediakan dua jalan alternatif : pertama, mingling life with meditation (menyatukan kehidupan dengan meditasi) sebagaimana dicontohkan dalam bab pertama pintu belakang berjudul ”Cerah Dalam Tiap Langkah”. Kedua, melakukan Guru yoga dan Guru puja  (lihat tulisan Guru yoga Guru puja di bab kedua pintu belakang). YM Thich Nhat Hanh ( dalam Present Moment Wonderful Moment) mengikuti jalan pertama, guru-guru Tantra seperti HH Dalai Lama melakoni jalan kedua. Dan Anda pun bebas memilih jalan mana, termasuk memilih jalan di luar kedua pilihan yang disarankan buku ini.

Jalan mana pun yang ditempuh, agak sulit membayangkan – kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin – ada langkah menuju pencerahan tanpa meditasi. Untuk itulah, buku ini ditutup dengan tulisan ringkas berjudul “Meditasi: Kesembuhan, Kedamaian, Keheningan”.

Dan sebagai pedoman dalam mencari guru meditasi, sekaligus menjadi bahan untuk melihat ciri mahluk tercerahkan, dalam tradisi tua Tantra ada empat ciri mahluk tercerahkan: pacifying (ajaran dan kesehariannya menenangkan, menentramkan, mendamaikan), enriching (memperkaya wawasan dan pemahaman), magnetizing (menjadi magnet yang menarik banyak  manusia untuk berbuat baik, berbagi kasih sayang, berlatih meditasi), subjugating (bila harus menaklukkan orang lain, ia menaklukkannya dengan kasih sayang).***)

———
*) Entah karena kelanjutan dari kehidupan sebelumnya, atau dipengaruhi oleh hawa spiritual pulau Bali di mana saya lahir dan bertumbuh, sejak awal saya dipengaruhi banyak oleh ajaran-ajaran Tantra. Untuk itu, maafkan bila pengertian tentang pencerahan dalam buku ini banyak diwarnai Tantra. Namun, saya menaruh rasa hormat mendalam pada pengertian pencerahan lain yang datang dari ajaran lain.

**) Bagi para sahabat yang lebih dekat dengan jalan kasih sayang (lembut, penyayang, kerap menangis menyaksikan penderitaan banyak mahluk) layak membaca A Flash of Lightening in the Dark of Night karya The Dalai Lama (Shambala Dragon Edition 1994), bagi yang lebih dekat dengan jalan keheningan (tenang, aman, nyaman, seimbang) disarankan membaca Essence of The Heart Sutra karya The Dalai Lama (Wisdom Publications 2005) atau Thich Nhat Hanh dalam The Diamond That Cuts Through Illusion (Parallax Press 1992). Pada akhirnya, kedua jalan ini berujung pada puncak gunung yang sama: pencerahan.

***)Pedoman membaca buku ini: Bagi pencari pemula, gunakan kumpulan tulisan-tulisan pendek di bagian tengah buku ini sebagai bahan-bahan renungan untuk memperkaya perjalanan. Bagi praktisi tingkat menengah atas, baca pelan-pelan pintu depan, endapkan dalam-dalam pintu belakang, dalami referensi yang disarankan, perkaya keseharian dengan kumpulan renungan yang ada di bagian tengah buku ini. Dan yang paling penting, menerapkannya dalam keseharian.

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author