Harga Seorang Ibu

No comment 542 views

“Love you, Mom!” ucap Karen sembari mengakhiri pembicaraan kami melalui telepon, membuat hatiku terasa ringan. Ah, selalu saja menyenangkan setiap kali selesai bicara dengan putri pertamaku.

“Siapa yang nelpon, Mom?” suara putriku yang lain, Kayla menyahut dari ruang makan.

Aku menghampiri meja makan. “Mbakmu. Biasalah, ngasih tahu mau ke sini pas liburan bareng anak-anaknya,” jawabku.

Kayla mengangguk-angguk. “Kapan rencananya dia datang, Mom?” tanya Kayla lagi. Lalu menoleh memanggil putranya. “Jerry!“ Jeremy, cucuku dari Kayla mendekati Maminya dan membuka mulut minta disuapi. Lalu cucuku itu kembali berlari mendekati motor-motorannya, kembali asyik bermain menirukan seorang pembalap.

“Mungkin besok, anak-anaknya sudah libur tapi suaminya belom dapat izin dari kantor. Tadi nanyain Jerry mau liburan ke mana?” jawabku sambil menyampaikan pesan Karen pada Kayla. Aku duduk di sisi Kayla, mengambil toples kacang di tengah-tengah meja dan mulai mengemil.

“Belum ada sih, Kay belum ada rencana. Papinya Jerry sibuk, mungkin deket-deket aja. Palingan berenang, kalo gak nge-mall aja, biasa juga si Jerry mintanya mainan doang,“ jawab Kayla. Tangannya ikut mengambil kacang goreng di toples. “Nunggu mbak aja deh, Mom. Kalo emang asyik, aku bareng dia aja.”

Aku hanya mengangguk. Jerry datang dan minta dipangku olehku. Maminya menyuruhnya turun, tapi Jerry tetap bergelayut padaku. Aku hanya tersenyum. Kuturuti kemauan cucu keempatku itu, walaupun si Mami merengut. Setelah menjalani operasi pengangkatan Kanker, Kayla memang sedikit protektif padaku. Bukan hanya Kayla, Karen dan Kemal juga begitu. Mereka lebih perhatian daripada sebelumnya.

Anak-anakku hanya tiga tapi ketiganya selalu mengisi hari-hariku setelah suamiku memasuki dunia pensiun. Mereka dengan cara masing-masing membuat aku dan suamiku merasa selalu bahagia walaupun di usia kami yang telah lanjut.

Karen dengan tiga anaknya, tinggal di kota berbeda denganku. Ia selalu rutin meneleponku atau suamiku. Karena ia lebih dekat dengan suamiku, biasanya ia senang mengobrol dengan Papanya hingga berjam-jam di telepon. Apalagi kalau bertemu, saking asyiknya mereka bisa lupa tidur dan lupa makan. Satu kebiasaan Karen, dia selalu bisa membuat kami tertawa. Dengan gaya yang kocak, dia sering membagi cerita tentang tingkah anak-anaknya membuat aku dan suamiku terpingkal-pingkal. Tapi di sisi lain, di antara ketiga anakku Karenlah yang paling bisa diandalkan dan diajak bicara serius. Selalu ada penyelesaian yang bijak darinya.

Kayla lain lagi. Anak perempuan termudaku itu sangat dekat denganku. Dia memang tak pernah benar-benar lepas dariku walaupun sudah menikah. Kayla lebih pendiam dari Karen, tapi kalau soal perhatian dia tak pernah kalah dari kakaknya. Begitu aku mengeluh sakit sedikit saja, dia langsung menyuruhku ke dokter walaupun kadang-kadang menurutku tak perlu. Tidak cuma itu, kadang-kadang satu keinginan yang kusebutkan tanpa sengaja bisa dianggapnya begitu serius. Itu sebabnya pada Kayla aku berusaha berhati-hati jika berbicara. Bukan karena apa, aku hanya takut keinginanku yang hanya main-main ditanggapi serius oleh putriku itu.

Dan terakhir putraku, Kemal. Si bontot yang berbadan paling besar diantara kedua kakak perempuannya ini adalah anakku yang paling manja. Di rumah, kami mengenalnya sebagai sosok yang manja, bahkan ketika beristri dan memiliki seorang anak. Tapi di luar rumah, putraku ini adalah seorang pemimpin di kantornya. Bukan hanya saat ini, dulu saat masih sekolah lalu melanjutkan ke kampus dia selalu menjadi sosok pemimpin diantara teman-temannya. Kami sekeluarga sering menertawakannya sebagai anak labil, namun seperti biasa si Kem selalu bisa menjawab dengan santai. “Maklum, anak bontot.” Kemal teman bercanda suamiku sekaligus teman berantemnya. Tapi anehnya, kalau dipisahkan keduanya selalu saling mencari.

Setiap anak adalah keunikan, begitu juga pada ketiga anakku. Dengan cara masing-masing mereka mengisi kehidupan kami, membagi sedikit rezeki mereka walaupun aku selalu berusaha menolaknya. Uang pensiunan yang didapat suamiku memang terlalu kecil. Tapi karena anak-anak, aku selalu bisa memenuhi kebutuhanku dan suamiku malah kadang terasa berlebih. Padahal anak-anak tak ada yang pernah memberiku secara langsung.

Sekali di awal Ayah mereka pensiun, Karen pernah menyodorkan uang padaku. Aku langsung menolaknya. Putriku tidak bekerja, ada tiga anak yang dibesarkannya dan suaminya hanya pegawai biasa. Dan memang Karen tak pernah mengulanginya lagi. Anehnya, dia malah makin sering meminjam uangku dengan berbagai alasan. Biasanya setiap kali dia berlibur bersama anak-anaknya. Sering dia meminjam uangku dengan alasan tak ada uang kecil dan anak-anak minta dijajanin. Baru beberapa hari kemudian aku menyadari kalau justru ada tambahan uang di dalam dompetku. Jumlahnya memang tak seberapa tapi  itu selalu dilakukan Karen setiap kali dia bisa. Suamiku bilang, mungkin itulah cara Karen membagi kebahagiaannya bersamaku dan suamiku. Satu kali, aku pernah menangkap basah Karen saat menyelipkan uang di dompetku. Tapi dia hanya nyengir dan ngeloyor pergi. Santai, cuek seperti biasa.

Beda Karen, beda pula Kayla. Kayla juga tak pernah menyodorkan uang. Apalagi waktu aku bilang aku malu menerima uang dari anak-anak. Caranya dia lain lagi. Hampir seminggu sekali, dia selalu rutin mengajakku dan Bian keluar rumah. Makan bersama, berolahraga atau sekedar jalan-jalan di mal. Biasanya ia menyuruh Jerry menjadi mata-matanya. Tahu-tahu keesokan harinya, barang-barang yang hanya kulihat-lihat dan kukagumi saja itu sudah ada di kamarku. Belum lagi kebiasaan Kayla yang mirip suamiku, gemar mencoba makanan baru di restoran. Itu sebabnya dia rutin mengajak Bian dan aku berwisata kuliner.

Lalu Kemal yang serumah denganku, punya cara yang lain lagi. Tanpa disuruh, secara rutin mereka membelikan semua keperluan rumah tangga seperti sabun, susu dan beras. Belum lagi aku sempat berbelanja, Kemal dan istrinya sudah memenuhi stok sandang dan pangan di rumah. Istri Kemal yang dekat denganku, juga selalu membelikanku oleh-oleh setiap kali ia keluar kota bersama putraku walaupun aku sering melarangnya. Dan meskipun serumah, anak menantuku ini sebisa mungkin mengurus putrinya sendiri.

Anak-anak, dengan cara mereka masing-masing membuatku dan Bian merasa menjadi orangtua yang lengkap. Mereka juga seperti anak-anak yang lain sesekali berdebat dan marahan. Tapi ketika satu masalah terjadi, mereka dengan kompak menyelesaikannya.

Dan itulah yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat aku terkena penyakit parah. Kemal yang sedang berselisih dengan Karen karena keputusan Kemal yang keluar dari tempat kerjanya, tempat yang direkomendasi Karen pun bisa berpelukan dengan tulus. Mereka melupakan semuanya dan fokus mengurusku.

Aku sempat down melihat sejumlah angka biaya operasi yang disodorkan dokter. Aku berniat membatalkannya. Tapi ketiga anakku langsung memarahiku. Memintaku untuk memikirkan diri sendiri saja.

“Mom, siapa bilang mom gak berharga? Mom itu setimpal dengan harga tiga nyawa kami dan lima cucu mom. Kalau tak ada mom, tak mungkin ada kami semua. Kalau Mom bilang ini kemahalan, Mom salah besar. Karen 32 tahun, Kayla 30 tahun dan Kemal 26 tahun. Kalau Mom mau berhitung, Mom kalikan saja umur kami dengan gaji Mom sehari. Berapa Mom? Itu terlalu banyak dan yang kami keluarkan ini sepersepuluhnya pun tak ada.” Itu kata Karen. Anakku itu memang tak menangis, tapi aku mendengar isaknya ketika berada di kamar mandi.

Kayla lain lagi, si romantis super sensitif itu menangis terus setelah tahu aku sakit. “Kalau Mom gak ada, apa Mom kira Kayla sanggup menghadapinya sendiri? Mom itu nyawa Kayla. Kay… Kay harus bilang apa sama Jerry kalau setelah dewasa nanti Jerry tak mau membiayai Kay kalau lagi sakit hanya karena Kay tak mau membantu Mom, nenek yang paling dia sayangi?” kalau suamiku saja tak tahan melihat putriku itu menangis terus bahkan ketika Kayla sedang memasak, apalagi diriku.

Sementara Kemal malah menatap dengan mata kosong sebelum berkata. “Kalau Mom gak mau dioperasi, sekalian aja bunuh Kemal dulu. Mom gak kasihan sama Kemal? Ini buat Kemal Mom, bukan buat Mom. Mana tega Kemal lihat Mom menderita. Itu seperti membunuh Kemal pelan-pelan,” Dan diapun memelukku. Terguncang mendengar berita mengagetkan itu. Ia malah sempat kehilangan semangat untuk bekerja.

Anak-anak pula yang mendorong mengambil keputusan berani. Ketika aku menganggukkan kepala, anak-anak bersama keluarganya masing-masing langsung melangkah cepat. Mencari rumah sakit terbaik, memilih kamar terbaik dan bahkan mendampingiku saat dioperasi. Ketiganya mengambil cuti, meluangkan semua jadwal padat mereka untuk mengantarku ke rumah sakit, berjam-jam menunggu dalam proses pemeriksaan fisik yang melelahkan. Mereka berbagi tugas, berbagi informasi, berbagi cerita dan kekompakan inilah yang membuatku tangguh.

Mereka lengkap bersama keluarganya lengkap menungguiku selama operasi berlangsung. Koneksi Karen yang menurutnya selama ini tak pernah digunakannya, kecakapan suami-suami anakku dalam melewati birokrasi, kenekatan Kayla dan Kemal menghadapi para petugas administrasi dan kekompakan mereka saat harus menyediakan dana kontan dalam sepuluh menit di malam hari dengan mengumpulkan semua yang ada di dalam tas dan dompet mereka saat itu membuat proses operasi yang seharusnya baru bisa dilaksanakan paling cepat sebulan setelah dijadwalkan dipersingkat menjadi satu minggu. Anak-anak bahkan memberiku kelas terbaik untuk dirawat. Mereka terus memberiku semangat bahkan ketika aku sempat ketakutan sendiri. Dan akhirnya aku berani melakukannya.

Operasipun berlangsung. Aku tak merasakan apa-apa dan tahu-tahu telah tersadar di ruang pemulihan dengan satu kata di kepalaku, “Dokter, keluarga saya bagaimana?”

Dan dokter bedahku yang juga sahabat Karen itu berkata. “Salut saya bu, semua anak ibu beserta keluarganya ada di sini. Tadi mereka bergantian masuk sepanjang operasi yang ibu jalani. Baru kali ini saya operasi, yang masuk berganti-ganti. Mereka sudah menunggu di luar. Tunggu sebentar ya bu. Sabar saja, anak-anak ibu memang hebat.”

Aku tak tahu siapa saja yang menunggu di luar itu. Tapi ketika tempat tidurku dibawa keluar, aku merasakan elusan tangan anak-anak menggenggam jemariku satu persatu. Lalu mendengar bisikan dari suami. “Sudah selesai, sayang. Anak-anak dan cucu kita semua ada di sini. Yang kuat ya.”

Dua titik air jatuh di pelupuk mataku, bukan karena rasa sakit, bukan karena akhirnya aku kehilangan. Tapi karena aku terharu mendapatkan cinta yang begitu besar dari anak-anak. Aku Mommy mereka, ternyata  masih berharga buat mereka.

Note:

Memberi atau menunjukkan cinta untuk orangtua juga ada caranya, karena gak semua orangtua mau diberikan uang / benda begitu saja oleh anaknya. Kisah di atas mungkin hanya beberapa cara anak menunjukkan kasih sayangnya tanpa menyinggung perasaan orangtua dan tetap merasa dihargai.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author