Hati Yang Tulus

No comment 821 views

Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang pemuda. Di dalam angkot itu telah duduk tujuh orang penumpang, termasuk saya, dan masih ada lima kursi yang belum terisi.

Di tengah jalan terlihat mobil-mobil angkot berusaha saling mendahului untuk berebut penumpang. Namun ada pemandangan aneh saya lihat. Di depan mobil angkot yang kami tumpangi, ada seorang ibu dengan tiga orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, tetapi mobil-mobil angkot itu melaju kembali. Kejadian ini terulang beberapa kali.
Ketika mobil angkot yang kami tumpangi berhenti di depan si ibu dan ketiga anaknya, si ibu bertanya “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”.

Yang aneh adalah bahwa si ibu tidak segera naik ke mobil yang kami tumpangi. Kemudian ibu itu berkata “tapi saya dan ke tiga anak saya tidak punya ongkos untuk membayar.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “ngga apa-apa bu, naik saja”, sesaat si Ibu tampak ragu-ragu, namun supir muda itu dengan tegas mengulangi perkataannya “Ayo bu, naik saja, ngga apa-apa.”

Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini malah merelakan empat kursi penumpangnya untuk seorang ibu dan tiga anaknya.

Ketika kami tiba di terminal bis, empat penumpang gratisan ini kemudian turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada si Supir, “terima kasih banyak yang pak untuk tumpangannya!”  “Sama-sama bu,” jawab si supir. Kemudian di belakang ibu itu seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 15.000.  Ketika supir muda itu hendak memberikan uang kembalian, karena ongkos satu orang hanya Rp. 3.000,- jadi masih sisa Rp. 12.000, pria itu kemudian berkata bahwa uang itu semuanya untuk ongkos dirinya dan empat orang penumpang gratisan tadi. Kemudian sambil berjalan, pria penumpang itu berkata “Terus jadi orang baik ya, Dik!”

Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur dan polos, kemudian seorang Supir muda yang baik hati, dan selanjutnya seorang penumpang yang budiman.

Betapa indahnya jika kebaikan bersahut dengan kebaikan, jarang sekali peristiwa seperti ini terjadi di tengah kehidupan yang semakin kompleks dengan masalah dan kesulitan, di tengah kompetisi hidup, namun masih ada orang yang memiliki hati yang tulus dan murni untuk menolong orang lain. Mari kita mencontoh dan melatih diri kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan bagi sesama dan memelihara hati yang tulus dan murni untuk menolong orang yang memerlukan uluran tangan kita.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

(Sumber : inspirasijiwa.com)

author