I Love You, My Friend!

No comment 479 views

Gadis itu tertawa lebar, suaranya membahana di tengah-tengah teman-temannya. Entah apa yang membuatnya bisa begitu geli sampai tertawa selebar itu. Aku jadi ikut tersenyum melihat tingkahnya dari tempatku duduk. Kami memang berjanji bertemu di restoran, tapi karena aku mungkin terlambat maka ia pergi menyapa teman-temannya yang juga datang ke restoran itu.

Namanya Mia, gadis muda berusia sembilan belas tahun, berambut pendek dan ada lesung pipit di pipi sebelah kirinya. Sebuah kacamata warna coklat bertengger manis di hidungnya yang bangir, tapi kacamata itu tak mampu menutupi mata riangnya yang tampak selalu tertawa setiap kali ia sedang bahagia. Ia cukup tinggi untuk gadis seumuran dia, hanya menurutku ia sedikit terlalu kurus.

Mia, sahabat mantan pacarku. Anaknya lincah bagai kijang. Suasana selalu ramai setiap kali dia ada. Tawanya tak pernah ditahan-tahan seperti gadis pada umumnya. Ia tertawa sesukanya, bercanda sesuka hati dan kadang-kadang ia berkata apa adanya, tajam dan menusuk saking jujurnya.

Mantan pacarku yang mengenalkan kami. Tapi justru setelah hubunganku berakhir, aku malah akrab dengan Mia. Mia memang mudah sekali bergaul. Ia mudah sekali beradaptasi dengan lingkungan. Aku yang pendiam benar-benar menikmati saat-saat bersama Mia. Ia sungguh gadis yang menyenangkan.

Dikelilingi banyak teman laki-laki, tidak membuat Mia mudah punya pacar. Hampir setahun aku mengenalnya, aku tak pernah melihat ia menggandeng pacar. Setiap kali kutanya, ia selalu bilang ia sudah punya banyak teman lelaki yang melindunginya. Ia seperti tak mau diikat oleh hubungan dengan lelaki. Ia gadis bebas, gadis baik hati yang bersedia menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan cerita tapi ketika ia bercerita, semuanya mengalir bagai sungai membuat kita betah mendengarkan.

Aku suka Mia, entah mulai kapan. Apa saat aku sakit dan dia datang menengokku diam-diam? Atau ketika ia membawakanku setumpuk buku dan video kartun yang menurutku tak lucu tapi bisa membuatnya tergelak sampai mengeluarkan air mata? Atau saat kami sedang memancing sementara dia justru tertidur di kapal? Atau karena kami sering makan bersama di luar? Entahlah, perasaan itu datang pelan-pelan, lalu semakin lama semakin sulit disembunyikan.

Kami jarang bertemu langsung karena Mia selalu punya agenda dengan teman-temannya. Saking jarangnya aku jadi malas ke rumah kontrakannya, kecuali hari hujan. Mia memang tak pernah bilang tapi Mia paling takut dengan suara petir dan Cuma aku yang tahu. Mia tinggal berdua dengan seorang teman perempuan. Aku bisa tahu ketika suatu kali di tengah badai petir saat Mia sendirian, aku meneleponnya. Ia menangis ketakutan di telepon dan akupun segera datang menemaninya. Walaupun harus semalaman berada di teras dan kedinginan, tapi aku senang akhirnya aku tahu kelemahan gadis periang itu.

Setiap hari Mia rajin meneleponku meskipun tak lama, kadang-kadang hanya sekedar menggoda dan bercanda saja. Tapi setiap hari pula aku selalu menunggu telepon-teleponnya. Pelan-pelan Mia memang menguasai hati dan pikiranku.

Aku ingin sekali menikahi gadis itu. Suatu kali itulah yang timbul di kepalaku. Tapi jelas itu sangat tidak mungkin. Usiaku sudah menginjak tahun ketiga puluh tiga, sementara Mia belum genap dua puluh tahun. Sahabat laki-laki Mia yang lain juga lebih muda, lebih mapan dan mereka lebih cocok dengan Mia. Tak mungkin aku melontarkan keinginan itu pada gadis itu. Maka kupendam keinginan itu dalam hati.

“Halo friend! Apa kabar?” Rupanya Mia sudah menghampiriku. Ia datang menyapaku dan meninju bahuku dengan tangannya yang mungil, membuyarkan lamunanku.

“Baik, friend. Gimana kerjaanmu?” Sapaan friend itu memang panggilan khas antara aku dan Mia, gadis itu lalu duduk di sampingku.

“Gitu deh, sibuk dan ngebosenin.” Mia memanggil pelayan sembari menatap menu di depannya. Seorang pelayan mendekati kami, Mia menyebutkan pesanannya dengan detail. Ia memang selalu memesan menu yang sama. Sepiring nasi goreng, tidak boleh pedas, telor goreng ceplok dan segelas air teh manis dingin. Aku bahkan menyebutnya dalam hati sebelum Mia selesai memesan.

“Teman-temanmu?”tanyaku sambil memberi isyarat ke arah rombongan tempat tadi Mia tertawa-tawa.

Mia mengangguk kecil, ikut melirik ke arah yang sama, “Dulu pernah kursus di HRD bareng. Mereka baik-baik kok.” Aku hanya mengangguk-angguk mengerti. Mia memang selalu punya teman. Setiap kali kami jalan bersama, Mia selalu bertemu teman-temannya.

“Hmmm…. Aku ingin menikah.” Kepalaku langsung terangkat menatap lurus wajah Mia yang sedang tercenung.

Dadaku terasa sesak, bibirku kelu tapi aku tak boleh menunjukkannya, “Oh ya, dengan siapa?” tanyaku berusaha untuk tenang.

“Mungkin dengan sahabatku.” Jawab Mia tak peduli.

“Apa aku kenal dia?” tanyaku penasaran. Mia tersenyum kecil.

“Mungkin.”

“Bikin penasaran saja. Mia, siapa dia?” desakku.

Mia diam dan menatap lurus padaku, lalu berkata dengan nada tegas, “You… are… my… friend.”

Aku terdiam. Dadaku terasa semakin sesak, tapi aku takut salah mengartikan kata-kata Mia. “Iyalah, aku memang sahabatmu. Semua orang juga tahu itu.”

Tak ada senyum canda di bibir Mia. Ia tetap menatapku, ada tanya terbayang di mata indahnya.

“Serius? Kamu mau nikah sama aku, Mia?” kataku akhirnya memberanikan diri setelah kesunyian menyelimuti kami berdua untuk beberapa menit.

“Ngga.” Jawab Mia pendek.

Hatiku mencelos, “Kukira kau serius.” Kataku sambil tertawa miris menyembunyikan kegalauan dalam hati.

“Ngga nolak, Bodoh!” kata Mia tiba-tiba. Bibirnya merengut kesal. Untuk sesaat aku menatapnya tak percaya.

Kembali aku terkesima, tapi senyum disertai lesung pipit di pipinya membuatku yakin kali ini ia tak sedang bercanda. Aku menarik tangannya, menggenggamnya erat dan berbisik pelan, “Would you marry me, My friend?” Aku tak mau melewatkan kesempatan mendapatkan gadis pujaanku.

Mia mengangguk dan dua bulir airmata jatuh di kedua pipinya. “Sure, My friend.” Jawabnya berbisik di telingaku.

Sebulan kemudian, aku menikahi sahabatku. Sahabat yang masih kucintai sampai sekarang.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author