Impian Bapak

No comment 789 views

Aku memandangi toga yang tergantung di dinding kamarku. Besok pagi aku akan mengenakan toga itu. Ya, besok adalah hari besar untukku. Saat aku dikukuhkan menjadi seorang sarjana. Aku tersenyum, lega. Alhamdulillah setelah enam tahun kuliah aku telah sampai di akhir perjalanan sebagai seorang mahasiswa. Lalu pandanganku beralih pada sebuah foto  di atas meja. Foto seorang laki-laki paruh baya yang sangat aku hormati dan aku kasihi. Aku beranjak dan mengambil foto itu sambil berucap lirih,

“Pak, besok aku diwisuda.” Air bening meleleh dipipiku.

Salah satu impian terbesar bapak adalah melihat anaknya jadi sarjana. Bapak berasal dari keluarga petani sederhana. Beliau anak ketiga dari dua belas bersaudara, jadi pendidikan adalah suatu kemewahan untuk mereka. Bapak hanya mampu sekolah sampai SMP setelah itu merantau dan bekerja serabutan. Setelah menikah dan punya anak impian itu mulai diupayakannya.

Bapak harus bekerja keras karena selain untuk membiayai kebutuhan sehari-hari juga harus membiayai sekolah kami, aku dan kedua adikku. Bapak bekerja di sebuah perusahaan teh kecil sebagai sopir sekaligus salesnya. Setiap hari bapak harus berkeliling bahkan sampai keluar kota untuk memasarkan tehnya.

Selepas SMA, aku mencoba untuk ikut UMPTN tapi rupanya belum berhasil. Kemudian bapak meminta aku mencari alternatif untuk melanjutkan di D3. Waktu itu aku ingin mencoba masuk akademi perawat karena aku berpikir bahwa kalau jadi perawat pasti mudah dapat pekerjaan. Akhirnya dengan ijin bapak dan ibu aku mendaftar di akademi keperawatan. Alhamdulillah aku diterima.

Ternyata kuliah di akper tak semudah yang aku bayangkan. Selain teori aku dan teman-teman harus mengikuti praktek kerja di rumah sakit. Saat praktek pertama di rumah sakit aku mengalami kejadian yang tidak terduga. Kebetulan aku dan dua temanku mendapat tempat praktek di bangsal pasca bedah. Waktu itu kami diminta untuk melihat seorang perawat senior melakukan perawatan luka operasi. Awalnya aku merasa biasa saja tapi setelah selesai dari ruang itu aku merasa pusing sekali dan akhirnya aku pingsan. Aku malu sekali pada dosen dan teman-temanku. Dan mulai hari itu aku berpikir mungkin menjadi perawat bukanlah pilihan terbaik untukku. Akhirnya beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari akademi keperawatan.

Keputusanku untuk mundur dari akper ternyata sangat mengecewakan bapak. Beberapa hari bapak tidak berbicara denganku. Aku merasa sangat bersalah dan sedih karenanya. Setelah bapak mulai bisa menerima keputusanku aku menyampaikan pada bapak bahwa aku ingin mencoba ikut UMPTN lagi. Bapak pun mengijinkan dengan syarat aku harus masuk IKIP. Awalnya aku agak keberatan juga karena aku tidak suka jadi guru. Mungkin karena sewaktu SMA aku melihat teman-temanku kurang menghargai guru-guru, mereka sering bolos dan tawuran. Makanya aku tidak mau jadi guru. Tapi bapak mengatakan alasan mengapa ia ingin aku kuliah di IKIP karena itu sesuai kodratku sebagai perempuan yang nantinya harus bisa mendidik anak-anaknya meskipun tidak jadi guru di sekolah. Sebenarnya alasan itu juga yang membuat bapak setuju aku masuk akper karena sebagai perawat juga sesuai dengan kodrat perempuan yang harus bisa merawat dan mengurus keluarganya.

Akhirnya aku menyetujui syarat bapak. Aku mendaftar di IKIP jurusan Bahasa Inggris karena sejak SMP aku suka sekali belajar bahasa Inggris. Tanpa mengikuti les bimbingan belajar dan hanya berbekal doa dan semangat dari bapak dan ibu aku mengikuti UMPTN untuk kedua kalinya. Setelah itu masa menunggu hasil ujian menjadi saat yang meresahkan karena jika aku gagal lagi aku tidak tahu mau melakukan apa, aku sama sekali tidak punya rencana cadangan.

Hari pengumuman itu tiba juga. Bapak sejak pagi telah menunggu loper koran lewat depan rumahku. Setelah mendapatkan korannya langsung saja aku dan bapak mencari namaku diantara ribuan nama itu. Dan Alhamdulillah aku berhasil. Bapak langsung memeluk dan menciumku. Bahagia sekali rasanya.

Sejak itu aku berjanji untuk kuliah dengan sungguh-sungguh karena aku tidak ingin mengecewakan bapak lagi. Bapak harus lebih giat bekerja banting tulang  karena selain membiayai kuliahku beliau juga harus membiayai adikku yang sebentar lagi juga selesai SMA.

Ramadhan itu seperti biasa bapak tetap bekerja meski sedang berpuasa. Bapak juga sudah berencana untuk mudik ke kampungnya untuk mengunjungi nenekku dan saudara-saudaranya. Lebaran pun tiba. Takbir berkumandang di segala penjuru. Selesai sholat Ied kami saling bermaaf-maafan. Saat itulah bapak berpesan padaku agar segera menyelesaikan kuliahku. Sebenarnya waktu itu aku memang sudah selesai hanya tinggal tugas akhir saja.

Malam itu bapak jadi juga mudik tapi karena tak cukup biaya untuk kami semua bapak mudik seorang diri. Tak ada firasat apapun hingga berita itu datang. Bapak sakit. Bos bapak yang menyampaikan kabar itu. Kami pun segera menyusul bapak ke kampung dengan mobil yang dicarterkan bos bapak. Arus lalu lintas yang padat karena musim mudik menyebabkan perjalanan kami tersendat.

Kami tiba di kampung bapak tengah malam. Banyak orang berkumpul di rumah nenek. Akhirnya aku, ibu dan adikku harus menerima kenyataan pahit itu, ….

bapak telah berpulang.

Bapak mengalami stroke saat sampai di rumah nenek, meski telah dibawa ke rumah sakit tapi Allah berkehendak lain. Aku berusaha tegar dan memberanikan diri melihat wajah bapak untuk terakhir kalinya dan terngiang di telingaku pesan terakhir bapak agar aku segera menyelesaikan kuliahku.

Setelah kepergian bapak kami harus segera menyesuaikan diri untuk melanjutkan hidup. Awalnya memang berat karena tiba-tiba aku sebagai anak tertua harus ikut menanggung beban keluarga. Alhamdulillah aku mendapat pekerjaan sambilan sebagai guru les dan ibu membuat usaha makanan kecil-kecilan.

Selama dua bulan setelah bapak meninggal skripsiku terbengkalai. Dengan sekuat tenaga aku mengumpulkan kembali semangatku.  Aku harus menyelesaikan kuliahku karena itu amanah terakhir bapak. Ibu pun membantu dengan doa yang selalu dipanjatkannya pada sepertiga malam.

Dan sampailah aku pada saat itu. Segala puji bagi Allah yang telah mengantarkan aku sampai di hari itu. Hari wisudaku. Selesai sudah satu episode dalam hidupku dan akan berlanjut ke episode yang baru. Senang dan bangga meski juga terselip rasa duka karena bapak tak ada disampingku untuk merayakannya.

Tapi aku yakin di suatu tempat di sisiNya bapak tersenyum karena impiannya telah terwujud.

– Oleh: Maya Romayanti

 

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author