Indahnya Kebersamaan Itu

No comment 2617 views

Sayup-sayup lagu “Kemesraan”, dan “Kapan-kapan” itu terlantun mengantarkan kami untuk berpisah kembali dari pertemuan sesama anggota perkumpulan maya di situs internet. Pertemuan yang sangat langka. Mempertemukan muka-muka asing yang selama ini hanya dikenal melalui tulisan mereka saja. Bila selama ini kebersamaan itu tersemai dalam tulisan, maka pada pertemuan nyata ini tercetus dalam kata-kata langsung dengan mimik dan rona muka yang hidup. Indahnya kebersamaan itu, tidak mudah untuk dilupakan.

Sore ini, lagi-lagi lagu “Kapan-kapan” memisahkan kami dari reuni dan halal bi halal sesama keluarga masa kecil. Teman-teman sewaktu kami masih di bangku Sekolah Dasar. Sudah sempat terpisah selama 35 tahun, dan sekarang kami dapat bertemu kembali. Bercanda dan bersenda gurau layaknya seperti anak-anak lagi. Mencoba untuk mengulang kenangan lama, merangkai kembali memori dari peristiwa satu ke lainnya. Terbahak kala mengulang kejadian lucu, dan terdiam dengan sedikit sedu sedan di kala mendengar satu dua teman yang telah tiada. Indahnya kebersamaan dulu, ingin rasanya kami mengulang kembali.

Kebersaman itu terjadi setiap detik, menit, jam, hari, dan tahun. Betapa senangnya saya melihat si Indah anak saya ketiga dibonceng abangnya dengan motor. Mama mereka menjerit-jerit mengingatkan anak perempuannya yang belum menghabiskan susu di atas meja makan. Si anak balas bersungut menunjukkan ke tidaksukaannya. Mungkin dia sudah bosan dari umur dua tahun sampai Kelas satu SMP untuk miinum susu terus. Dia malah melompat duduk di sadel motor seperti laki-laki. Rok diangkatnya sedikit. Dia pikir dengan duduk seperti itu justru lebih nyaman dibanding duduk sopan seperti perempuan kantoran. Atau mungkin karena membonceng abangnya, maka dia tidak malu-malu. Si abang pun dari tadi sudah menggerutu melihat keleletan adik perempuannya yang selalu hampir telat masuk sekolah. Si mama marah, si abang kesal, si adik cuek bebek. Itu sepotong kejadian di suatu pagi di rumah kami. Tapi coba suatu saat nanti cerita itu akan menjadi kenangan tersendiri diantara dua beradik tersebut. Di kala sudah hidup terpisah lama, masing-masing sudah berkeluarga. Ada masanya mereka akan bertemu dalam suasana kekeluargaan, satu dan lain akan mengenang kejadian pagi tadi menjadi cerita indah. Apalagi bila pada saat itu nanti mama mereka mungkin sudah tiada. Memori itu pun akan muncul dalam suatu cerita yang indah dibumbui sendu. Pada saat itulah mereka akan merasakan indahnya kebersamaan itu, ingin mengulang kembali seakan-akan mama mereka hadir kembali.

Kenangan kebersamaan seperti itulah yang membuat teman saya terharu di kala dia kembali dari Singapore hanya sekedar ingin melihat rumah masa kecilnya yang sudah ditinggalkan 40 tahun yang lalu. Beliau tidak dapat menyembunyikan air matanya saat mengintip rumah tersebut dari serambi kaca depan, menyaksikan ruang makan masih seperti dahulu. Dia segunggukan menangis mengenang kebersaman di setiap hari di saat makan malam sekeluarga. Dia hapal betul duduk di mana, papinya di mana, dan maminya di mana. Dan dia ingat bagaimana pada suatu waktu papinya melemparnya dengan sendal hingga pintu kulkas penyok, gara-gara dia memerosokkan mobil dinas papinya ke parit. Suatu kenangan manis dengan keluarga muncul kembali, walaupun pada saat kejadian itu dia merasa ketakutan sekali.

Kebersamaan itu bisa terjadi dimana-mana. Di keluarga, di masyarakat, di sekolah dan institusi pendidikan tinggi, di majelis taklim, di organisasi, dan di kantor. Bisa antara sesama anggota keluarga di rumah, antara orang tua dan anak-anak, antara sesama anak, keluarga dengan pembantu atau sopir, atau juga dengan hewan peliharaan kesayangan. Bisa dengan tetangga, teman, ipar, mertua, kakek, nenek, dan keluarga besar yang lain.
Kebersamaan akan semakin berarti pada saat kita kehilangan orang yang pernah ada dalam suatu kegiatan keseharian kita. Kehilangan dalam arti kepindahan pada tempat lain atau bila orang yang kita kenal dekat meninggalkan kita selama-lamanya.

Sekolah kehidupan mengajarkan kita bahwa kebersamaan itu akan semakin indah bila kita sudah tidak bersama-sama lagi.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber :  sekolahkehidupan.com )

author