Keajaiban (Miracles)

No comment 893 views

Abby membanting tiga kardus susu ke dalam keranjang belanja, “Ini yang terakhir, aku capek!” kata Abby sambil menggiring keranjang belanjanya menuju kasir. Susah payah Abby mendorong keranjang melewati orang-orang yang juga sibuk berbelanja untuk menyambut natal, hal yang membuatnya semakin merasa kesal.

Anak-anak memang tak tahu terima kasih. Di saat mereka masih kecil, mereka membuat beraneka permintaan yang aneh-aneh saat natal menjelang. Sekarang saat mereka dewasa, mereka justru memilih menyibukkan diri bahkan sebelum thanksgiving tiba. Sebagai nenek dari tujuh orang cucu yang dicuekin oleh orangtua mereka, Abby memilih untuk membuat natal tetap indah dengan berusaha sebaik mungkin menyiapkannya. Walaupun ia sangat berharap ada keajaiban natal singgah di rumahnya, sungguh walaupun keajaiban itu hanyalah kehadiran tiga orang anaknya.

Tapi justru natal tahun ini terasa lebih berat. Tiga putranya menitipkan ketujuh putra-putri mereka di rumah Abby. Janine, Lisa, Kyrin, Zane, Morgan, Carol dan Pat berlibur dan tinggal di rumah Abby sementara orangtua mereka memilih untuk kembali ke New York dan baru pulang dua hari menjelang natal. Alasan mereka selalu klasik, “Kami terlalu sibuk untuk pulang, Ibu. Menjelang Natal adalah hari tersibuk dan kami harus segera menyelesaikannya sebelum Tahun Baru.”

Dan inilah yang terjadi, Abby harus melakukan semuanya sendiri. Peter, Matt dan Lucas memang menitipkan uang yang cukup untuknya tapi itu tak menyelesaikan masalah. Abby harus memaksa ketujuh anak pemalas dan manja itu mulai dari bangun, sampai mereka tidur lagi. Dua minggu seperti ini dan Abby terasa mau gila menghadapi mereka.

“Ayolah, Grandma! Kami kelaparan, buatkan kami sesuatu yang enak!” Itu rengekan Kyrin saat ia melihat kulkas kosong. Bagaimana tidak kosong? Mereka anak-anak yang memiliki selera seperti ikan paus. Bahan makanan yang seharusnya cukup untuk seminggu, ludes dalam tiga hari.

“Ya sudah, kalian berbelanja sana ke Walmart. Grandma agak lelah.” kata Abby sambil memijat-mijat tangannya yang pegal setelah selesai membereskan rumah. Ia baru saja mengistirahatkan tubuh tuanya di sofa kesayangannya.

“Grandma, belikan susu dong! Aku haus!” teriakan Zane semakin membuat Abby marah.

Abby pun bangkit, “Kyrin! kumpulkan semua saudaramu dan kalian semua ikut aku! Bantu Grandma belanja atau kulkas tetap kosong.” kata Abby dengan nada tinggi. Setelah itu, Abby mengambil kunci dan jaket. Ia membuka pintu dan berjalan keluar.

Abby menunggu di mobil dan tak lama anak-anak menyusul dengan ribut. Mereka berebutan masuk, sekali lagi membuat Abby harus berteriak memperingatkan. Baru mereka agak tenang dan akhirnya ia bisa menyetir menuju Walmart.

Tapi semua itu tak ada gunanya. Abby tetap harus berbelanja kebutuhan rumah sendirian, sementara anak-anak kabur entah ke mana begitu sampai di Walmart. Mereka sudah berlarian masuk mencari kebutuhan mereka masing-masing. Abby melihat Zane ditemani Kyrin sibuk melihat game console terbaru, Morgan, Janine dan Lisa sibuk sendiri melihat-lihat di bagian Hadiah. Agak lama baru Abby tahu dari Zane, kalau Carol dan Pat asyik melihat-lihat boneka.

Abby ingin marah, tapi jelas itu tak membantu. Ia memutuskan menyelesaikan semuanya sendiri dan nanti setelah pulang, Abby akan bicara dengan anak-anak. Semuanya selesai, Abby pun membawa keranjangnya keluar. Ia sudah selesai memasukkan semuanya ke dalam mobil, tapi anak-anak belum terlihat. Abby memutuskan kembali ke Walmart dan mengeluarkan handphonenya. Ia menelepon cucu-cucunya. Satu persatu mereka muncul.

“Sudah selesai semua?” dan setelah menghitung jumlah cucunya, Abby pun mencari kunci mobil. Oh iya, tadi ia meletakkan kunci mobil di dalam tas. Tas! Oh tidak, Abby tadi meletakkannya di atas keranjang belanja begitu saja. Abby langsung melompat dan keluar dari mobil.

“Kenapa, Grandma?” tanya Carol, yang duduk di sisi kemudi.

“Tas Grandma ketinggalan di keranjang belanja tadi.” jawab Abby tergesa-gesa.

“Apa! Ayo kita cari cepat!” pekik Morgan, keluar dengan cepat dari mobil. Ia ikut berlari di belakang Abby, disusul saudara-saudaranya.

Abby panik luar biasa. Tas itu masih berisi $200, uang yang akan diberikan anak-anak untuknya. Bagaimana ia bisa melupakan hal penting itu? Ini semua karena sibuk memikirkan anak-anak tadi. Aduuh, bagaimana ini? Abby mencari-cari di antara ratusan keranjang. Ia bingung yang mana karena semuanya sama. Anak-anak juga tampak panik dan ikut mencari-cari.

“Nyonya, apakah anda mencari sesuatu?” tanya seorang bapak berkulit hitam dan berpakaian seragam Walmart.

Abby menoleh, “Ya, aku mencari tasku.”

Bapak itu tersenyum ramah, “Seperti apa bentuknya?”

“Tas saya berwarna coklat tua dan ada syal merah yang saya ikatkan di situ. Apa anda melihatnya?” tanya Abby walaupun di hatinya ia ragu bapak di depannya itu mau mengembalikan seandainya ia melihat tasnya.

Bapak itu tersenyum, ia melirik Carol yang juga tersenyum padanya, “Hello, kita bertemu lagi Malaikat kecil.” sapanya pada Carol, lalu kembali menatapku, “Sebentar, Nyonya.”

Bapak itu menuju sebuah meja, membuka lacinya dan mengeluarkan sebuah tas coklat yang masih terikat sebuah syal merah. Abby langsung menghela nafas lega. Ia menyongsong Bapak itu. “Terima kasih ya Pak.”

Bapak itu menyodorkannya pada Abby. “Mohon dicek dulu isinya, Nyonya.”

Abby membuka dompet dan terpana, semua uangnya masih berjumlah sama. Abby menatap Bapak itu, kagum, bingung dan rasa terima kasih campur aduk di hatinya. “Terima kasih, terima kasih banyak.” Abby mengambil $50 untuk membayar kejujuran Bapak itu.

“Selamat Natal, Nyonya.” ucap Bapak itu tanpa mengambil uang yang disodorkan Abby, lalu ia menatap Carol, “Cucu anda telah membayarnya tadi sebelum saya menemukan tas Nyonya.”

Abby menoleh ke Carol, “Maksud Anda?”

“Gadis kecil ini tadi menghadiahi saya sebuah boneka kecil dan dia berkata Selamat Natal Bapak Penjaga Pintu.” jawab Bapak itu sambil mengeluarkan sebuah boneka sebesar tangannya dari kantong celana yang agak kumal. “Dia memberi keajaiban Natal pada saya. Dia membuat saya berpikir saya adalah orang yang diperlukan dan dia memperhatikan saya. Saya hanya menjalankan tugas saya karena saya senang bekerja walaupun cuma menjadi penjaga pintu. Cucu anda benar-benar malaikat kecil yang baik hati.”

Kembali Bapak itu tersenyum pada Carol dan berbalik kembali menuju tempatnya berdiri, meninggalkan Abby yang lantas merangkul Carol. Pat dan yang lainnya yang ikut menyaksikannya ikut tersenyum haru mendengar kata-kata si penjaga pintu.

Saat pulang, Abby sekali lagi melihat ke Bapak itu. Ia masih berdiri dengan setia, menawarkan bantuan pada para langganan toko dan sesekali ia mengatur keranjang-keranjang belanja yang berantakan ditinggal begitu saja. Kejujuran itu ternyata masih ada. Dan Abby percaya inilah keajaiban. Abby melirik tujuh cucu-cucunya yang tampak kelelahan bersandar di jok mobil.

“Ada apa, Grandma?” tanya Pat bingung karena Abby tak juga menjalankan mobil.

Abby tersenyum, “Grandma tahu sekarang Grandma punya tujuh keajaiban dari Tuhan.”

“Tujuh keajaiban?” tanya Carol, Morgan dan Pat berbarengan membuat mata Zane, Kyrin dan Lisa terbuka. Hanya Janine yang tersenyum-senyum. Mungkin dia mengerti maksud Abby.

“Ya, kalianlah keajaiban Grandma. Dan sayangnya Grandma baru sadar sekarang! Pulang nanti Grandma akan masakkan pie apel paling enak buat kalian. Oke!”

“Oke, Grandma!!!” Pekik ketujuh anak-anak itu bersama-sama, Abby pun tertawa dan mobilpun meluncur. Mereka menyanyikan Jingle Bell di sepanjang jalan menuju rumah.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author