Keluarga Dan Pendidikan

626 views

Pendidikan dalam Keluarga adalah tanggungjawab orang tua, dengan peran Ibu lebih banyak. Karena Ayah biasanya pergi bekerja dan kurang ada di rumah, maka hubungan Ibu dan anak lebih menonjol. Meskipun peran Ayah juga amat penting, terutama sebagai tauladan dan pemberi pedoman. Kalau anak sudah mendekat dewasa peran Ayah sebagai penasehat juga penting, karena dapat memberikan aspek berbeda dari yang diberikan Ibu. Oleh karena hubungan Ayah dan anak terbatas waktunya, terutama di hari kerja, maka Ayah harus mengusahakan agar pada hari libur memberikan waktu lebih banyak untuk bersama dengan anak.

Jika penghasilan keluarga tergantung pada penghasilan Ayah yang kurang memadai untuk kehidupan keluarga dapat menimbulkan persoalan pendidikan yang tidak sedikit. Ada pendapat berbeda tentang pendidikan dalam keluarga, yaitu tentang pemberian kebebasan kepada anak. Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya sejak permulaan diberikan kebebasan maksimal kepada anak. Dalam hal ini faktor pendidikan kepada anak sudah berakhir sebelum anak itu dewasa. Dalam kenyataan terbukti bahwa keluarga yang menerapkan pendidikan keluarga dapat menghasilkan pribadi-pribadi anak yang menjadi baik. Pendidikan dalam Keluarga dapat memberikan pengaruh besar terhadap karakter anak. Sebab itu kunci utama untuk menjadikan pribadi anak menjadi baik yang terutama terletak dalam pendidikan dalam keluarga.

Dan karakter yang ditumbuhkan adalah faktor yang amat penting dalam kepribadian anak, karena banyak mempengaruhi prestasi dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan dan kemampuan teknik adalah penting untuk pencapaian keberhasilan, tetapi tidak akan mampu mencapai hasil maksimal kalau tidak disertai karakter. Hal itu terutama karena pada waktu ini faktor karakter kurang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Ini semua harus menjadi salah satu hasil penting usaha pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan sekolah maupun pendidikan dalam masyarakat. Akan tetapi karena pendidikan pada anak paling dulu dilmulai dalam pendidikan dalam keluarga, maka pendidikan dalam keluarga yang seharusnya memberikan dasar yang kemudian diperkuat dan dilengkapi dalam pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat.

Akhirnya memang tergantung pada para orang tua sendiri apakah pedoman itu dilaksanakan atau tidak. Akan tetapi karena secara alamiah orang tua ingin anaknya menjadi baik dan sukses, maka banyak kemungkinan orang tua akan berusaha menerapkan pedoman itu dalam hidup mereka.

*Peran Keluarga

Kini kahadiran keluarga sangat dibutuhkan. Ketika lembaga pendidikan tidak lagi kondusif bagi penanaman nilai-nilai moral bagi anak, maka keluarga harus cepat-cepat mengambil peran. Derasnya arus demoralisasi akibat gerak dinamika sosial budaya, teknologi komunikasi dan informasi membawa ekses yang luar biasa bagi anak. Oleh karena itu, keluarga adalah agen untuk mencipakan kondisi yang ramah bagi penanaman nilai-nilai moral, kebiasaan dan perilaku anak dalam kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat. Anak harus diposisikan sebagai subjek utama pendidikan dalam keluarga.

Kegiatan pembelajaran dalam keluarga harus dimulai dari apa yang telah diketahui oleh anak. Di sini, orangtua berperan sebagai fasilitator dalam proses penanaman nilai-nilai moral kemanusiaan melalui interaksi dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. Peran orangtua hanya sebagai perancang dan pengelola, sehingga tidak boleh melakukan indoktrinasi terhadap anak. Sebagai fasilitator, orangtua dalam keluarga harus memiliki pribadi yang berkarakter dan mampu memberikan keteladanan. Di sinilah orangtua berperan sebagai teladan dalam memberikan contoh yang baik bagi anak. Keteladanan harus dipelihara dengan menjaga komitmennya untuk selalu bersikap dan berperilaku serta mewujudkan nilai-nilai moral dalam kehidupan keluarga.

Orangtua juga harus mencegah berlakunya nilai-nilai buruk. Tak kalah penting adalah pemberian perhatian dan penghargaan ketika anak melakukan kebaikan. Semua ini harus menjadi pola dan kebiasaan berperilaku dalam keluarga yang dilakukan secara konsisten dan terus-menerus. Upaya ini diharapkan membentuk kepribadian anak yang bermoral, sehingga mampu menjalankan perbuatan utama.

Pribadi yang bermoral adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai moral kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut menjadi standar kualitas kebaikan, kebajikan dan moral yang mendasari perilaku, pengambilan keputusan dan kepedulian anak. Akhirnya, nilai-nilai moral kemanusiaan menjadi living values dalam kehidupan dan perilaku anak sehari-hari.

author