Kenapa Anak Rewel ?

No comment 943 views

Kenapa anak ku sering rewel ya ? Mungkin kata kata itu sering dilontarkan para orang tua. Untuk mengetahui anak sering rewel kenali dulu penyebabnya dan cara mengatasinya.

1. Kondisi Fisik Tak Nyaman

Anak yang mengantuk, kepanasan, kedinginan, kelaparan, kehausan umumnya menjadi rewel.

Sikap orangtua: Cari tahu penyebab rewelnya dan selesaikan permasalahan itu. Umumnya bila disebabkan masalah fisik, anak akan segera kembali ceria jika dirinya sudah kembali nyaman.

2. Mencari Perhatian

Kadang si batita rewel sekadar untuk mencari perhatian. Ini kerap terjadi karena umumnya orangtua banyak memberikan perhatian kepadanya saat sedang rewel saja. Sementara saat sedang bersikap manis si kecil kurang mendapat perhatian. Akibatnya, si batita telanjur “belajar” bahwa keinginannya akan dipenuhi dengan cara merengek-rengek sambil menangis. Bahkan ada pula yang sampai tantrum.

Sikap Orangtua:

– Jangan berikan perhatian khusus pada saat si batita rewel. Bila perlu jangan penuhi permintaannya sehingga dia menyadari bahwa cara yang telah dilakukan tidaklah benar. Tindakan ini dapat sekaligus untuk mengajari si batita mengendalikan diri.

– Ajak si batita berkomunikasi, sampaikan bahwa cara yang dilakukan adalah salah.

– Biasakan untuk memberi perhatiaan kepada anak setiap saat, terutama saat dia bersikap manis. Bentuk perhatian itu cukup berupa kalimat.

3. Ingin Menunjukkan Kekuatannya

Batita memiliki kecenderungan menolak. Ia sesungguhnya hanya mau menunjukkan bahwa dirinya pun punya keinginan atau pendapat. Jadi tak perlu kaget bila dalam banyak hal si batita kerap menolak dan lebih menyenangi pilihannya sendiri. Bila keinginannya tidak terpenuhi, hal ini menyebabkannya menjadi rewel. Apalagi banyak orangtua yang malah bersikap memaksakan kehendak karena merasa dirinyalah yang paling berhak terhadap anaknya. Makin menjadilah kerewelan si batita.

Sikap orangtua: Jangan paksakan keinginan. Cobalah untuk berstrategi dengan cara melontarkan pilihan semu, yaitu pilihan-pilihan yang tetap memiliki tujuan akhir yang sama. Melalui cara ini, anak diharapkan dapat sekaligus belajar untuk mengambil keputusan sehingga dapat memupuk rasa percaya dirinya pula. Contoh, bila ajakan mandi kita ditolaknya, cobalah lontarkan tawaran, ”Adik mau mandi dengan air hangat atau air dingin?” Melalui tawaran ini, tujuan mandi tetap dapat tercapai dan anak pun bisa mengambil keputusan dari dua pilihan itu sehingga tak terkesan dipaksa.

4. Terluka Perasaannya

Biasanya ini terjadi bila si batita habis dimarahi. Buntutnya dia akan rewel dan kerap tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, seperti, ”Aku benci sama Mama”. Ungkapan itu sesungguhnya hanya untuk menunjukkan rasa sedihnya. Namun, mendengar ucapan itu banyak orangtua yang terpancing dan balik memarahi.

Sikap Orangtua:

Jangan terpancing. Rangkullah si batita dan ucapkan kalimat yang menenangkan seperti, ‘Mama sayang banget, lo, sama Adik. Nangisnya sudah ya nanti capek.” Dengan rangkulan dan kalimat yang menenangkan akan membuat si batita merasa nyaman. Perasaan nyaman dan terlindungi, niscaya tak akan membuat si batita jadi rewel berkepanjangan.

5. Ketidakmampuan Mengerjakan Sesuatu

Orangtua tanpa sadar sering menuntut anaknya untuk mampu melakukan sesuatu dengan ukuran orang dewasa. Dalam hal makan, misalnya, tanpa sadar terkadang orangtua meminta kepada si batita untuk bisa makan dengan cepat dan rapi, padahal si batita belum mampu melakukannya. Buntutnya, untuk menutupi ketidakmampuan itu, si batita malah jadi rewel.

Sikap Orangtua:

Jangan paksa anak melakukan sesuatu yang memang belum mampu dilakukannya. Untuk memacu semangatnya sekaligus membangun rasa percaya diri, berikan penghargaan walaupun kemampuan yang dicapai sangatlah kecil. Contoh, ”Wah, Adek senang makan sayur ya, sayurnya tinggal sedikit tuh.” Intinya, penghargaan itu diberikan hanya pada saat anak mampu melakukan sesuatu yang positif.

author