Ketika Langkah Berat Terasa Tanpa Ayah

No comment 5206 views

Ketika aku lulus kuliah tahun 1998, Ayah ku akan memasuki masa pensiun.  Kata orang, bagi seorang laki-laki, pensiun menjadi momok yang menakutkan.  Apa lagi Ayahku lumayan memiliki posisi di kantornya.  Tapi apa yang dikatakan Ayah padaku?  Ayah mengatakan padaku bahwa pada dasarnya setiap pegawai di kantor mana pun, dia harus siap mengalami hal-hal seperti itu.  Dan itu adalah hal yang biasa.  Bukankah di mana pun kita berada, kita dapat berbuat lebih banyak dan berarti untuk orang lain.

Aku hanya diam mendengar kata-kata Ayah.  Aku takut Ayah hanya menghiburku dan saudara-saudaraku.  Tapi Ayah sepertinya sungguh-sungguh.  Hari-hari pertama menikmati masa pensiun Ayah begitu menikmatinya.

Aku senang memang melihat ayah yang ceria.  Apa lagi ayahku jadi tambah mesra dan romantis pada ibu.  Ayah selalu menemani ibu ketika ibu masak di dapur dengan mengajak ibu ngobrol.

“Wah….ternyata punya banyak waktu begini asyik loh, Chen,” seloroh ayah padaku, “ayah jadi bisa pacaran terus sama ibu.

“Ih…ayah genit!” aku tertawa geli membalas gurauan Ayah.

Melihat muka ayah yang selalu menampakkan muka berseri-seri di depan kami, anak-anak ayah, ternyata mengalirkan suatu kekuatan tersendiri bagiku.  Apa lagi saat itu aku pun kemudian terus bergumul dengan tantangan di depan ku.  Tamat kuliah memang terasa banyak beban yang harus dihadapi.  Aku tidak ingin jadi penangguran.  Aku harus sukses, seperti Ayahku.  Ayah dan Ibuku terus menyemangati dan mendo’akan aku untuk terus maju dan berjuang.

Di tengah kesibukanku, aku dikejutkan oleh Ayah.  Satu malam, Ayah memanggilku dan saudara-saudaraku untuk minta masukan kami.  Ayah memang selalu begitu, kami terbiasa untuk berdiskusi dan bertukar pendapat dalam segala hal.  Ternyata Ayah diterima menjadi Dosen pengajar di Perguruan Tinggi swasta dan satu Sekolah Tinggi Ekonomi di kota kami.

Aku menatap Ayah kagum sekali.  Ayah luar biasa.  Tak kenal lelah dan memandang hidup ini selalu penuh harapan.  Kami berlomba-lomba memberi pendapat, yang intinya Ayah harus maju terus.  Aku bilang, satu saat nanti aku pun akan sepeti Ayah, bisa berbuat banyak di mana pun berada.

“Insya Allah, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk mahluk-Nya,”Kata Ayah memelukku dan meyakinkanku.

Sebagai seorang dosen di dua tempat membuat waktu Ayah cukup padat.  Lama-lama aku khawatir kalau Ayah jatuh sakit.  Aku memang senang Ayah bekerja lagi, tapi tidak kalau itu membuat kesehatan Ayah menjadi buruk.  Tapi Ayah meyakinkan aku kalau dengan bekerj, Ayah lebih bersemangat dan sehat.

Sampai aku di terima kerja di Jakarta , empat tahun kemudian, Ayah masih menjadi dosen, malah sekarang bertambah di satu Perguruan Tinggi lagi.  Ketika aku menelepon ke rumah dan mencurahkan isi hatiku kalau aku kangen sekali pada Ayah dan Ibu, dan meminta Ayah dan Ibu mengunjungiku, Ayah selalu menjadwalkannya pada tanggal-tanggal Ayah tidak mengajar.  Kadang aku kesal tapi kata-kata Ayah yang menasehatiku, kalau kita mengembang tanggung jawab, jangan sekali-kali kita menghianatinya selalu berbekas di hatiku.

Ayah.  Aku begitu menyayanginya dan mengagumi kesungguhannya dalam menapaki hidup.  Ayah yang mengajari kami, anak-anaknya untuk kerja keras, tak kenal lelah, dan tak henti-hentinya menengadahkan tangan, berdo’a kepada Tuhan YME.  Ayah mengajarkan aku untuk bersaing yang sehat dalam hidup, pertemanan dan pekerjaan.  Dan aku ingin seperti Ayah, bisa berbuat banyak dan berguna di mana pun kita berada.

Aku begitu menikmati waktu-waktu indah bersama ayah. Rasanya semua hal yang yang ada di sekelilingku selalu mengingatkanku padanya.  Bila aku membaca buku-buku lama yang sekarang tersimpan di rak bukuku, sosok ayah begitu teringat.  Ayahlah yang paling bersemangat membelikanku buku apa saja yang aku suka, pun sampai aku telah diterima kerja di Jakarta .  Ketika aku tidur pun, ada boneka Garfield berwarna kuning yang dibelikan ayah untukku.  Kadang aku geli sendiri mengingatnya.  Mungkin bagi ayah, aku tetaplah gadis kecil di matanya.  Bahkan setiap sudut kota Palembang selalu terukir kenangan bersama ayah.  Ayah memang senang sekali mengajak ibu dan kami, anak-anaknya menghabiskan waktu bersama.  Entah hanya sekedar cuci mata, melepas segala kepenatan dan wisata kuliner ala keluargaku.  Hff….memang menyenangkan dan bersemangat sekali bila ada ayah bersamaku.

Tanggal 23 Maret 2005, ayah dan ibu datang mengunjungiku. Itu kunjungan pertama ayah dan ibuku ke rumahku, setelah aku menikah (November 2004). Dengan gembira sekali, aku dan suamiku menjemput ayah di Grogol.  Yang membuat aku bertanya-tanya ketika itu, kenapa ayah dan ibuku memilih angkutan bus untuk ke Jakarta .  Padahal selama ini, setiap kali keluar kota, ayah selalu memilih naik pesawat.

“Lebih enak naik bus, bisa berduaan sama ibumu,” kata ayah sambil tertawa ketika aku bertanya.

Tapi ternyata bukan itu saja yang menjadi alasan ayah dan ibuku.  Ternyata ayah dan ibuku membawakan aku banyak sekali barang-barang untuk keperluan kami di Jakarta .  Sampai-sampai sebuah permadani tebal yang besar dan bagus sekali pun diberikan untuk kami.  Aku sungguh terharu sekali melihat perhatian besar yang diberikan oleh ayah dan ibuku padaku.

Kami menghabiskan waktu yang singkat itu (ayah dan ibuku hanya tiga hari di Jakarta ) dengan bahagia.  Menonton VCD pernikahanku, yang baru dibawakan oleh ayah, membuka album-album foto dan berjalan-jalan ke tempat-tempat yang menarik, bahkan mempercantik halaman rumahku dengan menanam bunga-bunga dan pohon mangga.

“Wah…ayah masih kuat ya?” candaku ketika ayah sedang menggali tanah dengan cangkul.

“Iya dong,” ayah tertawa,” semoga pohon mangga ini menjadi kenangan yang indah ya.”

“Uggh…kenangan apaan sih, ayah?” Hatiku memang selalu merasa tak enak bila mendengar kata “kenangan”

Tapi bukan mangga saja yang ingin ditinggalkan ayah untukku.  Bahkan ayah sempat menghadiahkan aku sebuah lemari makan untuk mengisi dapurku yang memang masih kosong.

“Masa sih nggak ada lemari makan, Chen?” goda ayahku ketika lemari makan baru sedang ditata di dapur.

Aku uma menyeringai geli. Ahh…sampai urusan yang sangat kecil pun, ayah begitu sangat perhatian.  Aku bahagia sekali memiliki ayah yang baik dan sangat menyayangiku.

Ternyata, bulan itu adalah bulan terakhir aku bersama ayah.  Dan kini semua itu adalah kenangan yang memberikan berbagai rasa di hatiku.   Rasa rindu yang begitu mendera yang selalu menyiksaku sekarang hingga menciptakan gumpalan-gumpalan harapan dan khayalan yang membumbung tinggi di ruang hatiku.  Keinginan untuk bertemu dan bermanja-manja lagi dengannya.  Dengan lelaki yang begitu kucinta, sosok yang senantiasa menjadi idolaku.  Ayah.

Pedih.  Rasa itulah yang menyentak alam sadarku.  Memberikan sensasi pilu yang cukup membuat kristal-kristal bening berlomba mengalir di pipiku.  Aku kembali terpekur menganggap inilah episode hidup yang begitu menyakitkan.  Dan aku merasa sangat kehilangan.  Berharap waktu kembali ke bulan-bulan dan tahun-tahun sebelum ayah pergi atau cuma hari terakhir, itu pun sudah cukup bagiku.  Aku berandai-andai tapi waktu tak kan pernah berhenti bahkan mundur seperti khayalku.

Tanggal 23 April 2005.  Yah…ayahku pergi untuk selamanya.  Cuma dua belas jam aku memeluk ayah di rumah sakit dan berharap ayah sehat kembali. Walau ayah tak sadarkan diri akibat pendarahan di otak kecilnya tapi aku tetap membisikkan pada ayah tentang segala harapan yang ingin aku bagi dengan ayah. Aku ingatkan  tentang kebahagiaan-kebahagiaan yang telah kami lalui.  Sungguh aku yakin ayah bisa mendengarkan kata-kataku dan aku ingin ayah tahu kalau aku tidak mau kehilangan ayah. Tapi Tuhan berkehendak lain, ayah harus pergi menghadap-Nya dan kami sekeluarga tak kuasa menolak kepergian ayah.

Kehilangan?  Rasa itu sungguh menyakitiku.  Berhari-hari aku menangis.  Pun sampai aku harus kembali ke Jakarta.  Aku sesalkan, ayah pergi sebelum aku bisa berbuat banyak dan membalas jasa ayah yang tiada taranya.  Lama memang aku terperangkap dalam kesedihan seperti tanpa batas. Sampai satu hari, seorang teman menasihatiku.  Kata-kata yang dilontarkannya padaku begitu membuatku tersentak.

”Menurutmu, ketika kamu menangis, sebenarnya apa yang kau tangisi?” demikian dia menanyaiku.

Aku terpana dan melongo!  Betapa bodohnya temanku ini!  Tentu saja aku menangis karena sedih.  Tidak tahukah dia betapa sakitnya hati ini ketika kita harus kehilangan orang yang sangat kita cintai?  Kubalas pertanyaan ”bodohnya” itu dengan marah.

”Tentu saja aku menangisi ayahku!” sentakku kasar.

Temanku itu cuma tersenyum.  Sepertinya dimatanya aku seperti anak kecil yang cengeng.

”Kau salah,” temanku mulai lagi menasihatiku, ”sadarkah kau, ketika kau menangis, sebenarnya yang kau tangisi itu adalah dirimu sendiri.  Ayahmu tidak butuh kau tangisi.  Dia sudah pergi dengan tenang dan tidak berharap kau terus menangis dan berduka panjang karenanya.”

Aku tergugu dalam air mata yang terus melesak, ”apa aku menangisi diriku sendiri, dalam arti mengasihani diri sendiri selama ini?” tanyaku.

”Kau sendiri yang tahu jawabannya,” ujar temanku itu dan berlalu meninggalkan aku yang tercenung masih dalam derai air mata.

Tiba-tiba aku menyadari apa yang telah aku lakukan selama ini.  Aku kehilangan semangat dan hanya menampakkan muka sedih yang panjang.  Ahh…aku memang berkabung, tapi masa berkabung harus segera dilampaui dan aku memang harus siap menerima kenyataan ini.  Oh….ternyata selama ini aku benar-benar menjadi wanita cengeng dan rapuh!

Lihatlah, aku salah selama ini. Aku kehilangan banyak hari hanya untuk menangis.  Padahal aku tidak sendiri.  Ada ibu yang harus selalu aku jaga dan yang sangat mencintaiku, yang untuknyalah aku pun harus kelihatan tegar, untuk memberikan semangat dan kekuatan padanya.  Ada kakak dan adik-adikku tempat aku bercerita dan saling mendukung dan ada suami dan anakku tercinta yang membutuhkan kasih sayang, semangat dan perhatianku.   Sungguh selama ini sku telah menyia-nyiakan waktu karena telah aku isi dengan ratapan.  Aku mengerti kalau semua yang ada di dunia ini adalah Allah yang berkuasa mengaturnya.

Kini ketika rindu begitu mendera di hati, ketika langkah kaki terasa berat tanpa seorang ayah, aku menguatkan hatiku, aku tidak akan membiarkan tangisan tumpah atau khayalan yang tiada ujungnya.  Tapi do’a yang senantiasa kupanjatkan pada Allah semoga  Allah mengampuni salah dan dosa ayah, menempatkan ayaku dalam golongan orang beriman dan dibukakan pintu surga untuk Ayah.  Amin.

Kenangan bersama ayah takkan terlupa selamanya, ayah adalah idola bagiku.

 

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

author