Kisah Anak Tunanetra

No comment 1114 views

Di tangga sebuah bangunan, duduk seorang anak laki-laki tunanetra dengan sebuah kaleng terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: “Saya buta. Tolong saya.”

Anak itu sudah ada di situ selama lebih dari 4 jam, tapi di dalam kalengnya hanya ada beberapa keping uang. Padahal sedari tadi, banyak orang yang lalu lalang melewatinya.
Tanpa diketahui anak itu, ada seorang pria yang sempat memperhatikan kejadian ini selama beberapa menit. Pria itu pun akhirnya berjalan menghampiri anak itu. Setelah memasukkan beberapa uang koin ke dalam topi si anak, pria itu mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata.

Pria tersebut menaruh papan itu kembali, sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, kaleng itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang yang memberi uang pada si anak tunanetra.

Saat sore menjelang, pria yang mengubah kata-kata di papan itu datang kembali untuk melihat perkembangan yang terjadi. Nah, si anak tunanetra ini mengenali langkah kakinya dan segera bertanya, “Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?”
Pria itu menjawab, “Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang telah kamu tulis, dengan cara yang berbeda.”
Apa yang ditulis oleh pria tadi adalah: “Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.”

Bukankah tulisan yang pertama dan yang kedua sebenarnya sama saja? Yakni, anak itu buta. Namun, tulisan pertama hanya menyatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan kedua menyatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangat beruntung karena bisa melihat! Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

Sumber: blogspot.com

author