Kisah Ansori – Bisnis Modal Dengkul

No comment 2605 views

Banyak orang mengecilkan nyalinya sendiri ketika ingin memulai sebuah usaha. Bermacam alasan yang membuat mereka menunda bahkan mengurungkan niat membuka usaha, ada yang mengatakan;  ”Saya tidak punya uang untuk memulai usaha” tetapi dengan modal dengkul Ansori telah berhasil membeli sebidang tanah untuk didirikan rumah, dan memiliki mobil.

Logikanya, bisnis pasti memerlukan modal uang, bukan modal dengkul. Jadi, mana mungkin memulai bisnis dengan modal dengkul? Mungkin saja. Ingin tahu rahasianya? Ternyata memulai suatu bisnis tidak harus selalu diawali dengan uang. Uang memang penting, tetapi ternyata bukan yang terpenting. Ada empat modal dasar yang harus dimiliki jika ingin memulai suatu usaha, yaitu keberanian, percaya diri, keyakinan dan ketekunan.

Banyak orang mengecilkan nyalinya sendiri ketika ingin memulai sebuah usaha. Bermacam alasan yang membuat mereka menunda bahkan mengurungkan niat membuka usaha, ada yang mengatakan;  ”Saya tidak punya uang untuk memulai usaha. Saya belum memiliki cukup modal untuk berbisnis.”. Padahal untuk action berbisnis tidak perlu menunggu sampai modal besar datang. Usaha bisa dimulai dengan modal ”dengkul”.

Sebut saja Ansori, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memulai usahanya di bidang Event organizer sejak tahun 2004. Hal menarik lainnya dari bisnis Ansori adalah tidak perlu mengeluarkan modal uang untuk penyelenggaraan acaranya. Modalnya hanya kemampuan membuat konsep kegiatan yang dituangkan dalam bentuk proposal dan kemampuan menjual ide kepada pihak sponsor dan publik yang jadi sasaran juga target pasar. Bagi orang yang lahir dari keluarga miskin dan berasal dari desa sepertinya, bisnis tanpa modal uang tunai adalah  impian. Bayangkan saja, tanpa modal uang tunai saja Ansori bisa mendapatkan untung. Itu yang membuat Ansori tak pernah putus semangat mengejar impiannya.

Bagi Ansori, selain keberanian, keyakinan dan ketekunan, untuk menjadi pengusaha juga harus punya rasa percaya diri, dan tawakkal. Alasan seperti tersebut di atas telah cukup dijadikan modal dasar dalam mengembangkan bisnis model ini. Itu semua adalah modal yang paling berharga yang telah ia miliki. Tak perlu minta uang dari rumah untuk membiayai usahanya, karena ia sadar berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi Ansori telah punya tekat untuk menata hidupnya dengan usaha mandiri tanpa bergantung dari keluarganya. Ansori adalah satu dari sekian banyak contoh pemuda yang survive hidup sebagai mahasiswa perantau dengan biaya kuliah dari usahanya sendiri sampai lulus, dan ia sosok pemuda gigih yang memiliki impian bisnis bermodal dengkul.

Untuk mengasah kreativitas dan menajamkan kemampuan Ansori sudah “magang” untuk sekedar menimba pengalaman pada beberapa institusi event organizer sejak ia kuliah di Yogyakarta. Kemudian ia kerap aktif terlibat dalam beberapa kepanitiaan, yang membawa bendera event organizer yang berbeda. Sekedar menyebut beberapa contoh, untuk kegiatan sepeda santai (fun bike) biasanya ia bergabung dengan DINI ORGANIZER; untuk kegiatan pameran, ia menyelinap dalam barisan MEDCOM; untuk Islamic book Fair ia tampil dengan baju Syaka Organizer; selebihnya ia lebih banyak menggunakan bendera Masjid Syuhada Yogyakarta. Bahkan pada yang terakhir ini, ia telah berhasil  mendirikan SYUHADA PRO, event organizer khusus kegiatan bernuansa keagamaan. Di di Masjid Syuhada inilah ia juga bersemangat untuk mengkader anak didik asrama di bawah angkatannya agar memiliki jiwa wirausaha.

Mengembangkan bisnis di bidang promotor dan event organizer telah lama Ansori impikan. Selain dinamis, mengandalkan kreativitas, dinamika profitabilitas juga menarik (kalau lagi untung, ya benar-benar untung, tapi kalau lagi rugi juga tak tanggung-tanggung). Bisnis macam ini sangat menantang baginya.

Bisnis di bidang promotor dan event organizer yang mengkhususkan diri pada penyelenggaraan event-event bernuansa keagamaan (baca: Islam) di awal tahun 2000 memang belum banyak diseriusi pihak lain, sehingga kalau dijalankan, ini bisa dikatakan sebagai distinctive competence (kompetensi unik). Rata-rata EO yang lain, lebih banyak menyelenggarakan event umum, tanpa identitas tertentu. Ini adalah salah satu alasan ansori saat itu untuk serius menggeluti EO.

Ansori melihat peluang hampir di semua perusahaan (misalnya perbankan, perhotelan dan rumah sakit) telah mempunyai Bidang Pembinaan Kerohanian Islam (Binrohis). Di Yogyakarta PT. Telkom, PLN, Pertamina, dan Bank Indonesia adalah diantara yang mempunyai Binrohis yang cukup maju, dan mempunyai dana yang besar. Masalahnya adalah, mereka mempunyai dana yang besar tapi kesulitan menjalankan program kegiatan sebagai syi’arnya, karena mereka pun sibuk bekerja.

Sudah sejak tahun 2001 ketika Ansori aktif di masjid Syuhada Yogyakarta, ia telah akrab dengan mereka para pemimpin perusahaan pemilik modal, ia pun tahu persis akan masalah yang mereka hadapi yaitu sulit memanage kegiatan untuk menyalurkan dana sosial perusahaan. Mereka itu, kalau ditawari kegiatan (event) yang besar sekalian, yang nilai publisitasnya (baca: syi’ar) bagus, akan dengan mudah menyetujuinya. Dan bagi Ansori hal tersebut adalah peluang, yang kalau dikelola dengan baik bisa menjadi ladang bisnis yang subur.

Dari segi moment, setiap tahunnya mesti terdapat kesempatan untuk menyelenggarakan event besar bernuansa keagamaan. Katakanlah saja, ada bulan muharam (semangat hijrah dan tahun baru Islam); ada bulan Rabi’ul Awwal (maulid nabi Muhammad); ada bulan Rajab (Isra Mi’raj), ada bulan Ramadhan, dan sebagainya. Itu adalah moment-moment penting yang bisa dikelola dengan baik untuk menggelar event bernuansa keagamaan. Dan itu semua pasti ada dalam setiap tahunnya. Moment itu pula yang bisa digunakan untuk mengedukasi pasar sekaligus untuk mendorong mereka menikmati event yang diselenggarakan.

Dalam perspektif pasar, masyarakat muslim dalam jumlah mayoritas di negeri ini, menjadikan program/event yang bernuansa keagamaan (baca: Islam) akan mudah menemukan sasaran dan target pasarnya. Dapat disimpulkan, bisnis yang Ansori impikan tersebut cukup menjanjikan!.

Pada tahun 2005 bertepatan dengan bulan maulid, Ansori diminta oleh Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) DIY  untuk menyelenggarakan kegiatan yang cukup besar. Acara yang diminta meliputi Dzikir Akbar Bersama Ustadz H. Arifin Ilham, Tabligh Akbar Aa Gym, serta Konser Cak Nun & Kiyai Kanjeng. Rangkaian kegiatan tersebut harus saya kemas sedemikian rupa, agar mempunyai dampak nilai syi’ar  yang “luar biasa”. Ini adalah prestasi yag luar biasa dari jerih payahnya selama lima tahun sebelumnya mempromosikan profesionalitasnya di kalangan para tokoh perusahaan besar di Yogyakarta.

Permintaan tersebut mempercepat langkah Ansori untuk mendirikan lembaga bisnis miliknya sendiri. Bersama dua orang rekanya, Ansori memberanikan diri mendirikan lembaga bisnis yang akan bergerak di bidang tersebut. Perusahaan tersebut ia beri nama CENTRA.

Sejak awal kuliah Ansori sudah terbiasa mengelola kegiatan-kegiatan yang bernuansa keagamaan. Sekedar untuk menyebut beberapa contoh, terhitung sejak tahun 2001 Ansori pernah menggelar Konser Nasyid, Tabligh Akbar Aa Gym, Dzikir Arifin Ilham, Dongeng Anak Bareng Kak Seto, dan sebagainya. Berkat pengalaman tersebut, Ansori sering diminta oleh perusahaan-perusahaan untuk membuat acara yang bernuansa keagamaan bagi mereka. Permintaan tersebut ia maknai sebagai bentuk kepercayaan dari mereka (pemilik modal) kepadanya. Bagi Ansori, memenuhi permintaan mereka tidaklah sulit, karena pengalamanya lima tahun di Masjid Syuhada telah mengantarkan Ansori untuk kenal dengan tokoh-tokoh yang harus ia jadikan mitra dalam bisnisnya ke depan. Ansori telah mempunyai pengalaman dan kepercayaan. Bagi siapapun yang berminat mengelola bisnis sejenis, harus mau menimba pengalaman dan membangun kepercayaan dengan pihak lain, karena dua hal tersebut juga modal penting selain modal dasar keyakinan yang harus dimiliki sejak awal.

Sejak saat itu bisnis EO yang Ansori gawangi namanya mulai berkibar, bahkan kegiatan yg di promotorinya sudah merambah ke luar daerah jawa. Karena perkembangan kegiatan yang pesat, Ansori mulai memetakan segmen. Ia tidak hanya menawarkan kegiatannya ke perusahaan saja, tetapi Ansori mulai melebarkan sayap masuk ke dunia pendidikan. Karena tidak hanya satu segmen maka ia merubah nama brand EO yang semula CENTRA menjadi EDWISE EDUTAINMENT. Saat ini ia sedang mengusung nama Kak Bimo pendongeng anak terkenal di Yogyakarta menjadi icon pendongen anak tingkat nasional. Tidak hanya pendongen anak, Ansori juga sedang mempromosikan nama pencinta dan pencipta lagu anak dari Yogyakarta yaitu Kak Wuntat.

Dari hasil bisnis EO yang ditekuni ini, Ansori telah berhasil membeli sebidang tanah untuk didirikan rumah, dan juga sudah memiliki mobil Daihatsu Terios. Ansori percaya apa yang diimpikan ini kalau dijalani dengan serius akan membawa hasil yang optimal. Ia berharap bisnisnya tidak sekedar mendatangkan untung berupa uang tetapi juga akan membawa maslahat untuk kebaikan umat. Sepatutnyalah semangat bisnis Ansori yang dirintis dengan modal dengkul ini bisa dijadikan proyek percontohan bagi generasi muda untuk mandiri membuka usaha. Kiat dan kunci suksesnya bisa ditiru semua orang agar tidak takut untuk berbisnis.

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author