Kisah Cinta Epi Dan Ceri

No comment 572 views

Cerita ini saya dapat dari seorang sahabat

ketika kami menjadi satu tim kerja di organisasi kampus dulu.

Pertama kali melihat keindahan bunganya, Epi tak kuasa menahan rasa cintanya pada Ceri, “Aku mungkin sudah gila, Cer. Aku begitu mencintaimu!Maukah engkau menikah denganku? Pikirkanlah. Aku tunggu hingga satu purnama.” Namun, apakah cinta mereka bisa sampai akhir hayat? Mana mungkin terjadi? Epi adalah seekor kepiting, sedangkan dirinya hanyalah sebuah pohon mangrove muda yang sedang tumbuh.!

“Dewata tak akan meluluskan permintaanmu, Cer. Kalian berdua tak bisa bersatu. Kamu dan Epi berasal dari dua dunia yang berbeda. Jika Epi minta kembali, tolaklah dengan halus.” Wejangan sang nenek masih begitu membekas di benaknya.

“Aku tak peduli, Cer. Kamu harus menjadi kekasihku.” Setelah banyak berunding, Ceri akhirnya berkeputusan. Akhirnya Ceri berkata, “Aku mau menjadi kekasihmu asalkan kamu bisa memenuhi perrmintaanku.”

“Apa permintaanmu, Ceri. Semua pintamu pasti aku penuhi!” jawab Epi penasaran.
“Syarat pertama, aku mau spesiesmu tak memangsa dan memakan propagul kami yang baru tumbuh. Syarat kedua, aku mau kamu dan seribu ekor teman-temanmu, menanam propagul sebagai ganti atas seribu propagul kami yang tewas dimangsa oleh spesiesmu. Buatkan aku kebun bibit Ceriops. Aku akan menunggu hasilnya dalam satu purnama.”

Walaupun berat, namun Epi bertekad untuk mengabulkan permintaan Ceri. Tentu dengan bantuan teman-temannya.

Bulan ini adalah bulan Agustus, waktunya buah-buah Ceriops berjatuhan dan siap tumbuh menjadi mangrove muda. Dengan suka cita, para kepiting menangkap jatuhan buah itu, mengumpulkannya dan kemudian menanamnya ke lumpur-lumpur mangrove yang lembek dan basah. Waktu berjalan begitu cepat. Kini setengah purnama berlalu. Propagul Ceriops tumbuh subur menjadi bibit-bibit mangrove. Seribu buah Ceriops, telah berubah menjadi seribu bibit Ceriops.

Sebenarnya Epi sadar. Dia telah berbuat tidak baik dengan spesiesnya sendiri karena tidak memperbolehkan teman-temannya untuk merasakan nikmatnya mencicipi makanan mereka. Tapi demi cintanya kepada Ceri, semua itu dikorbankannya. Melihat hasil kerja Epi, Ceri ketakutan. Usahanya untuk membendung cinta Epi seolah termentahkan. Kini dia tak bisa lagi mengelak untuk tidak bersedia dijadikan istri oleh kepiting itu. Ceri berdoa, “Ya Dewata, tolonglah hamba. Hamba begitu mencintainya.” Dewa kasihan mendengar keluh kesah Ceri. Dewa juga terharu, melihat kesungguhan Epi. Akhirnya, Dewa merubah Epi menjadi mangrove. Setelah itu, dua kekasih itu menikah dan hidup bahagia selamanya.

Kira-kira hikmah apa yang dapat kita petik dari petikan cerita di atas? Bahwa hanya dengan ketulusan, kesungguhan hati, pengorbanan, dan doa yang tulus kita bisa menggapai apa yang kita inginkan. Bahkan untuk sesuatu yang awalnya hanya sebuah impian. Tapi, bukankah impian itu beda dengan mimpi. Mimpi ada kemungkinan kita tidak akan menggapainya. Tapi impian adalah bukti bahwa kita masih hidup, karena dengan punya impian, masih ada semangat dalam diri untuk terus menggapainya. Jadi teringat pesan yang ingin disampaikan oleh novel 5 cm, letakkan impian itu 5 cm di depanmu agar kita terus termotivasi untuk menggapainya. Lalu, mau seperti apa akhir dari semua perjuangan kita? Semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Mau menjadikannya impian atau sekedar mimpi tak bertepi? SEMANGAT!!!

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

(sumber : amdefi.wordpress.com)

author