Kisah Cinta Yang Sangat Mengharukan

No comment 908 views

Ada sepasang muda-mudi yang memang sudah saatnya menikah dan dianjurkan untuk segera menikah. Mereka sudah saling mencintai dan disetujui satu sama lain. Namun latar belakang keduanya sangat berbeda. Pemudi tadi memiliki latar belakang yang serba berkecukupan dan sangat memukau kebanyakan Orang yang melihatnya. Sedangkan Pemuda tadi memiliki latar belakang yang berlawanan, seorang anak petani dengan rumah kecilnya dan bau hewan ternaknya yang mengganggu siapapun yang melewati tempat itu. Pemuda itu bernama Farhan dan Pemudi itu bernama Syifa.

Farhan sangat mencinta Syifa. Setiap hari, Farhan melipat kertas hingga berbentuk burung dan memberikannya kepada Syifa. Disetiap lipatan itu, ada masing-masing harapan keduanya. Burung-burung kertas yang mulai mencapai 1000 itu digantung di kamar Syifa hingga memenuhi kamarnya. Banyak sekali kata yang terangkai dan tertulis jelas disetiap burung kertas tadi,

“Jagalah Bidadariku ini”

    “Semoga Tuhan menyatukan Kita”

    “Jangan lunturkan manisnya Syifa”

    “Kuperintahkan semua Malaikatku menjagamu”

    “Aku ingin hidup bahagia bersamamu”

    “Kuserahkan semua yang kumiliki”

    “Semoga Aku hadir disetiap mimpimu”

    “Semoga Kita memiliki bahtera terbaik”

    “Harapku, inilah cintaku yang terakhir”

    “Doaku, semoga Tuhan melindungi Syifa dari Bahaya”

Dan kata-kata indah lainnya. Syifa yang awalnya tidak memandang Farhan, kini akhirnya luluh karena kesetiaannya yang benar-benar luar biasa. Syifa yang tak mencintai Farhan, berubah menjadi gila karena romantisme Farhan dan tekadnya yang kuat pula. Banyak yang tersimpan dalam diri Farhan daripada Laki-Laki yang lain. Farhan terus memberikan semangat kepada Syifa untuk belajar hingga siap dipinang Farhan tak lama direncakannya.

Sebelum kehadiran Farhan, Syifa sudah berulang kali menolak laki-laki lain dengan mudah. Syifa terus dikejar-kejar banyak laki-laki yang ingin meminangnya. Tidak heran juga, Syifa memiliki wajah yang sangat cantik dan tubuhnya yang terus terawat, Kekayaan yang melimpah hingga tak kuasa untuk disembunyikan dari hadapan Orang lain, bahkan agamanya yang berpengaruh kepada sikap dan sifatnya serta perilaku Syifa hingga disenangi banyak Orang.

Namun sangat disayangkan sekali, Syifa selalu melihat laki-laki dari kekayaannya dahulu dan agamanya yang kedua. Hal itu Dia lakukan dengan penuh harapan juga agar kelak, Syifa juga yang akan membantu suaminya belajar agama. Namun tak kunjung datang juga laki-laki yang dimaksud Syifa itu sendiri. Semua tidak memiliki kekayaan yang seimbang dengan Syifa sekalipun. Hanya satu kata yang bisa Syifa katakan, “Maaf”.

Berbeda dengan Farhan. Syifa justru berat untuk meninggalkannya. Farhan sudah memberikan semangat yang luar biasa di dalam hidupnya. Padahal, Farhan semakin jauh dari laki-laki yang diharapkannya. Farhan tidak kaya, tampan, ataupun beragama. Syifa mulai menumbuhkan benih cinta kepada Farhan yang sudah setia terhadapnya.

Suatu hari, burung kertas yang diberikan Farhan sudah berjumlah 999. Rasa cintanya Syifa tak bisa dibendung lagi. Dia rela dipinang seorang laki-laki desa serba berkekurangan itu. Namun keesokan harinya, Farhan memberikan burung kertas yang berbeda. Burung kertas itu dibuat dengan kertas yang mencolok dari kertas yang lain. Burung ini bertuliskan,

“Jujurlah kepadaku. Karena Aku mencintaimu. AKU CINTA KAMU”

Syifa terus memandangi burung kertas mencolok itu yang sudah bergelantungan bersama burung kertas yang lain. Syifa merasa kebingungan luar biasa. Jantung Syifa berdetak sangat cepat dan gelisah luar biasa.

Keesokan harinya, Farhan datang dan bertemu Syifa lagi dengan membawa burung kertas yang berbeda lagi. Burung itu lebih besar dengan kertas tambahan yang bergelantungan dibawahnya. Kertas yang digunakan juga transparan. Sebelum memberikannya kepadaku, Dia berkata,

“Syifa, ini adalah burung kertasku yang terakhir. Ini burung kertasku yang ke 1001. Burung ini berbeda, kertasnya tembus pandang. Dengan burung ini, aku mengharapkan kejujuran dan keterbukaan. Semua kertas itu akan aku gantikan dengan bunga yang harum mewangi. Aku hendak melamarmu dan mewujudkan semua harapan Kita.”

Seketika itu, Syifa akhirnya menangis luar biasa dan berkata,

“Farhan, sungguh sangat senang aku mendengar semua itu. Tapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu. Aku membutuhkan uang dan kekayaan seperti kata Orang Tuaku.”

Mendengar hal itu, Farhan merasa seperti disambar jutaan petir dan terjatuh di jurang sempit yang tak berdasar tanpa cahaya yang menyinarinya. Farhan kemudian kehilangan kendali. Dia marah luar biasa. Farhan merubah suasanya menjadi mencekam. Dia berseru,

“Kamu jahat! Matre! Tidak berperasaan! Kejam! Terserah apa maumu! Tidak sudi lagi aku melamarmu!”, teriak Farhan keras.

Farhan akhirnya meninggalkan Syifa menangis seorang diri. Syifa juga terjatuh tak mampu menahan air matanya. Syifa sangat berat melepaskan Farhan. Memang biasa Dia mengenalnya, namun Dialah yang memberikan Syifa kekuatan dan motivasi. Dia masih saja bersedih dan menyesali apa yang dikatakannya. Namun disisi lain, Syifa merasa benar adanya.

Semangat Farhan akhirnya terbakar. Ia bertekad untuk menjadi Orang sukses dan behasil. Sikap Syifa dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam sebulan, usaha Farhan membuahkan hasil sangat memuaskan. Dia diangkat menjadi kepala cabang dimana Ia bekerja dan dalam setahun Dia diangkat menjadi manager perusahaan tersebut. Tak berapa lama kemudian, Farhan memiliki 50% saham perusahaan tersebut. Sekarang tak ada Orang yang tidak mengenal nama Farhan. Dialah bintang usahawan di tempat itu.

Suatu hari, Farhan berkeliling dengan mobil mewahnya yang baru Dia beli dengan kebanggaan. Tiba-tiba, dilihatnyalah sepasang suami istri tua yang lusuh dan tidak terawat tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Karena hartanya yang melimpah, Farhan berniat membantu keluarga tersebut. Setelah mobil mendekat, Farhan terkejut menemui Orangtua Syifa yang jauh dari kebiasaannya dulu.

Farhan berpikir untuk memberi pelajaran kepada Mereka yang sudah menyakiti dirinya. Namun karena penasaran, Farhan mengikuti diam-diam kedua Orangtua Syifa. Tak menyadarinya, Orangtua itu masuk disebuah pemakaman sederhana. Farhan berpikir, seharusnya pemakanan sekelas keluarga Syifa pasti sangat indah.

Tiba-tiba Farhan berhenti bernafas setelah melihat burung kertas buatannya yang ada di atas salah satu makam-makam tak terurus. Tak bisa disangka juga, ada foto Syifa yang tampak cantik jelita dengan senyum manisnya ada di atas makam tersebut. Farhan pun turun dan berlari mendekat untuk memastikannya. Farhan hanya sanggup diam membisu melihat semuanya.

“Han.. sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk pengobatan Syifa. Sebelum Syifa pergi, Dia sempat membuat surat dan menitipkannya kepada Kami untuk diberikan kepadamu bila bertemu. Surat ini Kami bawa terus dimanapun Kami pergi.”, terang Bapak Syifa sembari memberikan sepucuk surat.

Farhan membaca surat itu,

“Farhan, Farhan, Farhan kah ini? Alhamdulillah, aku masih bisa berkata kepadamu meski hanya dengan beberapa kalimat yang tersisa. Maafkan aku, maafkanlah aku yang membohongimu. Aku terpaksa menyembunyikan sebuah kenyataan kepadamu. Aku terkena penyakit kanker rahim yang ganas dan mungkin banyak Orang berpikir tidak akan bisa disembuhkan. Namun kehadiranmu memberikanku semangat untuk bertahan.

Maafkan aku lagi, aku hendak berkata jujur dan terbuka kala itu. Namun maaf aku tak melakukannya. Sebab ketika Kau tau, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh dengan keputus-asaan yang akan membawa hidupmu kepada kehancuran. Karena itu aku lakukan ini.

Biarkan aku menerima semua ini. Biarkan aku menyerah atas semua penyakitku yang terus membayangi hidupku. Terimakasih juga sudah mempercepat penderitaanku. Kejujuranku yang terakhir, AKU SANGAT MENCINTAIMU MELEBIHI KAU MENCINTAIKU. Terimakasih

Note: Aku ingin tidur bersama kertas-kertas harapannya dan biarkan semua hilang bersamaku. ^^”

Farhan akhirnya harus menangisi hidupnya. Dia sudah berprasangka buruk terhadap Syifa. Emosinya keterlaluan dan pikirnya itu adalah tindakan egois untuk mencemooh Syifa yang sudah menangis tak karuan. Dia merasakan kesakitan seorang diri hingga maut menjemputnya dan Syifa pasti sangat mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan seperti itu. Dia mengorbankan dirinya demi Farhan agar tak terjatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

 

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

author