Kisah Keluarga Sakinah

4957 views

Selera makanku mendadak punah.

Hanya ada rasa kesal dan jengkel yg memenuhi kepala ini. Duh ….

betapa tidak gemas ,dalam keadaan lapar yg memuncak seperti ini,makanan yg tersedia tidak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang,

sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. ”Ummi…Ummii,kapan kau dapat masak dgn benar?

…..Selalu saja, kalau tak keasinan… kemanisan, kalau tak keaseman…ya kepedesan!

” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tidak mennggerutu. ”Sabar bi…..,

Rosulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…?” Ucap isrtiku kalem. ”Iya…tapi Abikan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini….!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang benada emosi,

kulihat itriku menundukan kepaa dalam-dalam.

Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

Sepekan sudah aku keluar kota. Dan tentu,

ketika pulang benak ini penuh dgn jumput-jumput harapan untuk menemukan ”baiti jannat” di rumahku.

Namun apa yang terjadi….? Ternyata kenyataan tidak sesuai dengan yang kuimpikan.

Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling.

Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak ( pecah).

Pakaian bersih yang belum di setrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian…. ouwww…. berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari di rendam dengan detergent tapi tak juga di cuci.

Melihat keadaan seperti itu aku hanya bisa ber istighfar sambil mengurut dada. ”Ummi….ummi,

bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…..?

” Ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

”Ummi….istri sholehat itu tak hanya pandai ngisi pengajian,

tapi dia juga harus pandai dalam mengatur segala sesuatu urusan rumah tangga.

Harus bisa masak, nyetrika, nyci, jait baju,beresin rumah….?

” Belum sempet kata-kataku habis sudah terdenga ledakan tangis istriku yang kelihatan begitu pilu.

”Ahh….. wanita gampang sekali untuk menangis….” batinku berkata dalam hati. ” Sudah diam Mi,

tak boleh cengeng.

Katanya mau jadi istri shalehat…? Isrti shalehat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat airmatanya menganak sungai di pipinya. ”Gimana nggak nangis! Baru aja pulang udah ngomel-ngomel terus.

Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa.

jangankan untuk kerja, untuk jalan aja susah. Ummi kan muntah-muntah terus,

ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isriku di selingi isak tangis. ” Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang hamil muda…. ”

Ucap isrtiku lagi, sementara air matanya kulihat tetep merebak

”Bii…. siang nanti antar Ummiii ngaji ya…?” pinta istriku. ”Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri aja ya?” ucapku. ”Ya sudah,kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja,

mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isrtiku. ”Lho, kok bilang giti…?” selaku. ”Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi di tambah berdesak-desakan di dalam bus dengan suasana panas menyengat.

Tapi mudah-mudahan sih nnggak kenapa-kenapa,”Ucap istriku lagi ”Ya sudah, naik bajai saja,” jawabku ringan.

Pertemuan hari ini ternyata di undur pekan depan.

Kesempatan waktu luang ini ku gunakan untuk menjemput istriku.

Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindi padanya.

Motorku sudah sampai di tempat istriku mengaji.

Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.

Ku perhatikan sepatu yang brejumlah delapan pasang itu satu persatu.

Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal.

”Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sandal jepit yang di apit sepasng sepatu indah.

Dug! Hati ini menjadiluruh. ”Oh……bukankah ini sandal jepit istriku?”tanya hatiku.

Lalu segera ku ambil sandal jepit kumalyang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tak terasa.

Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah menperhatikan istriku.

Sampai-sampai kemana ia pergi harusbersandal jepit kumal.

Sementara teman-temannya bersepatu bagus. ”Maafkan aku Maryam”,pinta hatiku

”Krek….” suara pintu terdengar di buka.Aku terlonjak,

lantas menyelinap ketembok samping.

Ku lihat dua Ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjlbab indah nan cerah,

secerah warna baju dan jilbab Umminya.

Beberap menit setelah kepergian dua Ukhti itu, kembali melintas Ukhti-ukhti yang lain.

Namun, belum juga kutemukan Maryam ku.

Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi istriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas.

”Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku.

Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja.

Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah,

ia hanya memakai baju warnagelap yang sudah lusuh pula warnanya.

Diam-daim hatiku kembali di rayapai perasaan derdosa karena selama ini kurang memperhatikan istri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya.

Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan istriku,

padahal di balik semua itu begitu banyk kelebihanmu,

Wahai Maryamku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Alllah dan Rosul-Nya.

Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang istriku tak pernah ku urusi.

Padahal Rosul telah berkata; ”Yang terbaik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

Sedang aku…?Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Alllah menyuruh para sumi agar menggauli istrinya dengan baik.

Sedang aku…? terlalu sering mgomel dan menuntut istri dengan sesuatu yang ia tak mampu melakukannya.

Aku benar-benar merasa nenjadi suami terdzolim!!!

”Maryam….!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas.

Tubuh itu lantas membalik kearahku, pandangan matanya menunjukan ketidak percayaan atas

kehadiranku di tempat ini.

Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum.
Senyum bahagia. ”Abi….!” bisiknya pelan dan girang.
Sungguh, aku baru melihat istriku segirang ini.

”Ah, kenapa tidak dari dulu ku lakukan menjemput istriku?” sesal hatiku..

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk istriku.

Ketika tahu hal itu, senyum bahagia senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. ”Alhamdulillah….Jazakal​lahu…,” ucapnya dengan suara tulus.

Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu.

Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh istri zuhud dan ‘iffah sepertimu….

Kenapa baru sekarang pula ku tau betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku….

author