Kisah Kepahlawanan Terbesar 2010

No comment 752 views

Setelah terjebak dalam tambang selama 69 hari dikedalaman hampir 622 meter, 33 pekerja tambang Chile akhirnya bisa diselamatkan,Selasa 12 Oktober 2010. Suasana di area pertambangan yang terletak di Acatama, Cile,tampak penuh haru. Ratusan orang termasuk keluarga korban menunggu dengan hati berdebar saat proses evakuasi berlangsung.

Warga Bolivia, yang ikut terjebak bernama Carlos Mamami, disambut sang Isteri yang bernama Veronica dengan sukacita dan berpelukan mesra dan bersyukur kepada Tuhan, hingga suaminya dapat selamat. Mamami baru saja memulai pekerjaan sebagai operator alat berat pada saat tambang itu ambruk. Veronica mengatakan, dia hampir tiap hari berdoa baik itu di rumah dan juga berdoa setiap ke Gereja, agar suaminya dapat di selamatkan dan tetap hidup dan dalam lindungan Tuhan selalu.Proses evakuasi dimulai pukul 22.55 waktu setempat dan dihadiri oleh Presiden Chile Sebastian Pinera bersama istri. Selain itu, proses evakuasi juga disiarkan secara langsung oleh televisi lokal. Warga Chile di sejumlah kota provinsi negeri itu bisa menontonnya dari layar besar yang disediakan.

Ketika petambang pertama bernama Florencio Avalos diangkat ke permukaan menggunakan kapsul “Phoenix”, segenap rakyat Chile langsung bersuka cita. Mereka begitu bangga dengan aksi penyelamatan heroik ini.

Setelah Florencio Avalos, satu demi satu mereka ditarik ke permukaan sampai Luis Alberto Urzua, penambang yang diangkat paling akhir. Luis Alberto Urzua adalah pemimpin para pekerja tambang tersebut.

Semua orang, termasuk Presiden Sebastian Pinera, bersorak ketika Urzua muncul ke permukaan dengan keadaan sehat, “Kita sudah melakukan sesuatu yang ditunggu-tunggu seluruh dunia,” kata Urzua kepada Presiden Pinera. Presiden pun memeluknaya dengan suka cita.

“Selama 70 hari kami berjuang sangat keras untuk tidak menyerah. kami punya kekuatan, punya semangat, dan berjuang demi keluarga. Itulah hal yang terbesar,” ujar Urzua.

Proses evakuasi memakan waktu 15-20 menit per orang dan membutuhkan persiapan hingga satu jam untuk setiap pengangkutan dengan kapusl Phoenix. Alhasil, operasi penyelamatan terus berlangsung hingga Rabu dinihari. Mereka diangkat ke permukaan sesuai urutan yang dirahasiakan. Ini sengaja dilakukan oleh tim medis karena mempertimbangkan faktor psikologis pekerja.

Namun seperti dikutip media lokal, Menteri Kesehatan Chile, Jaime Manalich, menyatakan pekerja yang diangkat pertama adalah yang memiliki kondisi fisik dan mental terbaik. Hal ini sekaligus untuk membuktikan kepada para pekerja yang masih di bawah bahwa kapsul tersebut aman untuk dinaiki.

Selanjutnya, sepuluh orang berikutnya adalah yang terlemah atau memiliki gangguan kesehatan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, infeksi pernafasan dan iritasi kulit.

Penyelamatan yang dramatis
Para pekerja tambang tersebut terjebak di kedalaman hampir 700 meter setelah terowongan penghubung runtuh pada 5 Agustus lalu. Selama dua hari pertama mereka hidup secara darurat di ruangan sempit, sebelumnya akhirnya mereka bisa melakukan kontak dengan dunia luar lewat sebuah lubang kecil.

Dari lubang itu mereka mendapat pasokan makanan dan minuman darurat. Mereka juga mengabarkan kondisi mereka lewat kertas yang ditulis dan digulung kemudian ditarik ke atas oleh tim penyelamat.
Selama menunggu bantuan datang, mereka hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Ahli psikologi menyatakan banyak hal buruk bisa terjadi pada mereka jika mereka tak segera diselamatkan. Selain soal kesehatan, masalah kejiwaan juga dapat timbul. Misalnya halusinasi, disorientasi, bahkan hingga gangguan jiwa.

Baru pada hari ke-17 sejak mereka terperangkap, tim penyelamat berhasil mengebor sebuah lubang yang mencapai lokasi petambang. Namun diameter lubang itu hanya 30 cm, sehingga 33 pekerja tambang itu belum dapat dikeluarkan. Paling tidak dibutuhkan lubang berdiameter 70 cm untuk menarik mereka ke atas. Tim penyelamat berharap penambang dapat dibebaskan pada awal November.

Sementara menunggu operasi penyelamatan yang diperkiran memakan waktu minimal satu bulan, mereka mulai mendapat pasokan makanan, minuman, dan obat-obatan secara rutin. Pasokan itu dikirim ke bawah menggunakan alat semacam ember. Para pekerja sempat meminta rokok, namun ditolak tim medis.

Tim penyelamat yang dibantu para ahli dari Inggris, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia terus bertarung dengan waktu. Mereka harus bekerja cepat dan tepat. Betul para pekerja sudah mendapat pasokan makanan, tapi mereka tak mau mengambil resiko dengan membiarkan para pekerja lebih lama terjebak di bawah tanah.

Operasi penyelamatan dimulai dengan membuat tiga rencana pengeboran yang disebut rencana A, B, dan C. Rencana A gagal, karena mata bor patah. Tapi rencana B berhasil. Sebuah lubang berdiamater 70 cm berhasil mereka buat dan menembus ke sebuah ruangan yang dapat dicapai oleh pekerja tambang.

Sebelum proses evakuasi, tim penyelamat membuat penahan berbahan baja pada 56 meter pertama. Tujuannya, agar lubang tidak longsor saat evakuasi berlangsung.

Setelah katrol di permukaan siap, tim penyelamat menurunkan sebuah kapsul yang diameternya sedikit lebih kecil daripada diameter lubang. Kapsul ini dinamai “Phoenix” nama burung yang menjadi legenda suku Indian Amerika dan dapat mengangkut satu orang.
Menggunakan kapsul tersebut, dua orang tim penyelamat turun ke bawah untuk membantu pekerja menaiki kapsul.

Sebelum menaiki kapsul, petambang mengenakan pakaian khusus yang dapat menyerap keringat dan mencegah pertumbuhan jamur atau bakteri.
Akhirnya, satu persatu petambang yang telah terjebak 69 hari dapat ditarik ke atas. Mereka tampak kelelahan namun dipastikan dalam keadaan sehat. Keluarga mereka yang menunggu di permukaan tak kuasa menahan haru. Para petambang langsung berhamburan memeluk anggota keluarga tercinta.

”Tuhan tidak pernah meninggalkan kami,” ujar Luis Alberto Urzua dengan mata berkaca-kaca.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

(Sumber : inspirasijiwa.com)

author