Kisah Nelayan Pencari Kepiting

No comment 858 views

Di atas sebuah kapal penangkap kepiting, tinggallah seorang nelayan tua dan anaknya. Mereka seringkali hanya mengandalkan lampu gas dan mendayung perahu sampan untuk pergi menangkap kepiting. Bagi si nelayan tua, bulan dan bintang seperti bunga yang terus mekar tiada habisnya. Sayangnya, nelayan tua menderita penyakit mata hingga nyaris buta, tetapi dia tetap mendampingi anaknya menangkap kepiting.

Suatu malam, saat sedang menangkap kepiting, tiba-tiba awan gelap menyelimuti. Ombak bergulung-gulung, angin bertiup sangat kencang dan menjatuhkan lampu hingga hancur. Seketika mereka berada dalam pekatnya kegelapan. Sekarang yang terpenting adalah berlayar ke tepian. “Ayah, saya tidak dapat mengenal arah,” kata anaknya dengan berputus asa. Nelayan tua itu pelan-pelan jalan ke atas dek, memegang kendali menggantikan anaknya.

Akhirnya, kapal penangkap kepiting tadi bisa menghindari badai, lalu bergerak menuju lampu pelabuhan yang bersinar terang dalam kegelapan. “Ayah, penglihatan kamu tidak baik, bagaimana kamu bisa mengenal arah?”. Nelayan tua itu menjawab dengan tenang, “Di dalam hati saya ada sebuah lampu”.

author