Kisah Nyata Ibu Tangguh Menafkahi 5 Anak

Potret kemiskinan warga Kotolua, Pauh, Syamsiwar, 48, yang disiarkan televisi nasional kemarin (17/1), seakan “menampar” wajah Pemko dan Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kota Padang. Bazda Padang sebagai BAZ terbaik nasional dan Wako Fauzi Bahar sebagai tokoh penggerak zakat nasional, dinilai kecolongan memperhatikan warganya yang miskin.

Syamsiwar yang ditinggal wafat suaminya dua tahun lalu, kini terpaksa seorang diri menafkahi lima anaknya. Sehari-hari, wanita paruh baya ini bekerja mencari tanaman pakis (paku, red) ke rimba Lambuangbukik, Pauh. Rimba yang dituju pun cukup jauh, sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Syamsiwar hanya berjalan kaki, pergi pagi pulang sore.

Rata-rata Syamsiwar mendapat 25 ikat sehari. Pakis itu dijualnya ke Pasar Bandarbuat. Karena keterbatasan sumber daya manusia (tak bersekolah, red), Syamsiwar tak mematok harga pakis tersebut. Kadang, 25 ikat pakis dijual Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 30 ribu. “Berapa pun dibeli orang, saya terima,” ujarnya polos.

Dengan penghasilan Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu sehari, berat bagi Syamsiwar mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Uang tersebut lebih diprioritaskan untuk belanja sekolah tiga anaknya yang kini bersekolah di MIN Kotolua. “Kadang, kami tak makan. Cukup minum air putih dan makan gulai paku,” katanya.

Syamsiwar sebenarnya memiliki delapan anak. Tiga anaknya meninggal karena sakit. Begitu pula suaminya, Umar Dani, meninggal karena sakit. Sehari-hari, Syamsiwar bersama lima anaknya, tinggal di pondok kayu ukuran 4×4 meter.

Tak ada ruang tamu, dapur dan WC. Mereka tidur berenam di pondok tersebut. Listrik tak ada. TV juga tak ada. Dinginnya angin malam, menusuk tulang. Klop sudah.

Anaknya yang sulung, Desi, 25, belum bekerja. Ari, anak keempat, putus sekolah karena ketiadaan biaya. Tinggal Ita, Ipil dan Idet yang bersekolah. Ita, anak ketiga sering tinggal kelas. Makanya, kini ia selokal dengan adiknya, Ipil, duduk di kelas III. Adiknya yang bungsu, Idet duduk di kelas I.

Dulu semasa suaminya masih hidup, Syamsiwar tinggal di Lambuangbukik. Di sana, ia juga tinggal di sebuah pondok. Karena suaminya meninggal, ia pun pindah ke Kotolua. Di tempat tinggal sekarang ini, Syamsiwar hanya menumpang. Suatu waktu, pondok tersebut juga akan dibongkar, karena jalan yang melewati pondok tersebut, termasuk planning jalan tata kota.

Awalnya, Syamsiwar sempat kikuk saat didatangi rombongan Bazda bersama Bagian Kesra Setko Padang. Raut wajahnya tegang melihat rombongan orang berpakaian PNS itu. Namun setelah dijelaskan pihak kecamatan dan kelurahan, barulah Syamsiwar mengerti. Tak lama kemudian, dua petugas Bazda datang membawa dua karung beras.

Ketua Harian Bazda Padang, Maigus Nasir didampingi Kabag Kesra Setko Padang, Al Amin segera menghampiri Syamsiwar. “Ini bantuan dua karung beras dan uang Rp 1 juta untuk ibuk dan anak-anak. Semoga bermanfaat ya buk,” kata Maigus.
Air mata Syamsiwar langsung pecah dan segera memeluk Maigus. “Tarimo kasih, Pak,” tutur Syamsiwar.

“Ibuk lai sumbayang,” tanya Maigus. “Ndak, Pak,” jawab Syamsiwar malu-malu. “Ambo sanang, ibuk jujur. Dari iko ka ateh, ibuk harus sumbayang. Jaan karano miskin, awak ndak sumbayang, Buk. Badoa ka Tuhan, mohon dibukakan jalan dan pintu rezeki,” tambah Maigus. Sekali lagi, Syamsiwar memeluk Maigus erat-erat. “Iyo, Pak. Ambo janji,” tukas Syamsiwar.

Kepada Padang Ekspres, Maigus mengatakan bantuan ini bantuan spontan. “Kami merasa malu, potret kemiskinan Padang terekspos di TV nasional. Seakan pemda bersama Bazda tak bisa berbuat untuk masyarakatnya yang miskin. Tahun ini, kami akan membentuk tim khusus untuk mendata warga miskin di Padang. Jujur, kami menilai data gakin versi Pemko dan BPS, masih belum valid,” ulas mantan Ketua DPRD Padang itu.

Di hadapan Syamsiwar, Maigus juga berjanji membuatkan rumah untuknya. “Kami akan berkoordinasi dulu dengan RT, LPM dan Lurah, akan mencarikan tanah untuk rumah permanen Syamsiwar,” terang Maigus. Bola mata Syamsiwar, berbinar mendengar rencana pembuatan rumah tersebut.

“Selain rumah, apo yang ibuk nio lai,” tanya Maigus. Mata Syamsiwar berkaca-kaca. Mulutnya seakan tak sanggup bicara. “Banyak, Pak. Tapi, kalau rumah alah ado, kami nio TV, pak. Alah lamo kami ndak nonton TV. Anak-anak yo taragak bana nonton TV,” jawab Syamsiwar dengan logat Minang.

Mendengar itu, Maigus pun terharu. “Iyolah, buk. Awak siap an rumah dulu yo,” ulas Maigus.
Kabag Kesra Setko Padang, Al Amin juga tak menampik, masih banyak gakin yang belum terdata. “Selama ini, ada mindset yang buruk. Jika didata, warga langsung berpikir dapat bantuan.

Makanya, masih banyak juga warga yang bangga mengaku miskin. Begitu pula dengan petugas yang mendata, berlaku KKN terhadap keluarganya. Sudahlah, biarkan saja yang telah berlalu. Mulai hari ini dan ke depan, mari kita saling peduli dengan lingkungan sekitar,” ujar Al Amin.

Al Amin juga mengajak warga Kotolua menyukseskan program terbaru Pemko, beras genggam. “Masih ada sepertiga warga kita yang miskin. Masa kita yang dua pertiga berada ini tak bisa mengeroyok rame-rame untuk membantu gakin yang sepertiga itu,” pungkasnya. (***)

___________________________________________________________________________________

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

 

( Sumber : padangekspres.co.id )

author