Kisah Ragil Kuning – Sebuh Pilihan Hidup

No comment 1211 views

Tak selamanya yang kita harapkan bisa tercapai dengan mulus, meski niatan dalam hati sudah bulat sebulat bola dunia.. Tapi jika Allah berkehendak lain, semua bisa dibelokkan. Seperti jalan hidupku yang sudah jauh melenceng dari cita-citaku. Tapi bagaimanapun aku tetap bersyukur atas semua yang terjadi padaku. Aku yakin pilihan Allah tak kan pernah salah.

Sebenarnya dulu aku bercita-cita ingin menjadi guru. Bagiku sosok seorang guru itu mulia sekali. Entah kenapa sampai kelas tiga SMU cita-cita itu masih melekat di pikiranku. Tapi ternyata cita-cita itu kandas di tengah jalan. Aku tak tega memaksa orangtuaku untuk membiayai kuliahku nantinya jika aku nekat masuk ke perguruan tinggi demi mencapai cita-citaku. Sedangkan saat itu, untuk makan sehari-hari saja Bapak sudah sekuat tenaga banting tulang agar periuk tetap terisi. Alhasil, lulus SMU aku lalui tanpa mendaftar ke perguruan tinggi manapun. Kecewa? Jelas iya. Di saat teman-teman pada ribut mendaftar UMPTN, aku malah santai-santai di rumah menanti ijazah keluar.

Mungkin orang tua mengerti keinginanku, tapi sayang mereka tak mampu berbuat banyak. Masalah ekonomilah yang menjadi penghalangnya. Aku juga tak menyalahkan orangtuaku, sudah disekolahkan sampai SMU saja sebenarnya aku sudah merasa beruntung, daripada teman di desaku ada yang hanya sekolah sampai SMP. Tak ingin putrinya kecewa, Bapak dan Ibu lalu menyuruhku untuk mengambil kursus selama 1 tahun, setidak-tidaknya bisa buat bekal dalam mencari pekerjaan nantinya. Aku benar-benar senang. Akhirnya kesempatan belajar itu kuperoleh lagi. Meski hanya sebatas kursus.

Aku semangat mencari tempat-tempat kursus yang terbaik di kotaku. Aku berniat ingin kursus komputer saja, mengingat sekarang komputer bukan menjadi barang yang asing lagi dalam dunia kerja. Setelah ketemu tempat kursus yang cocok, aku mulai tanya soal biaya dan sebagainya. Eh, ternyata Allah mau membelokkan niatku lagi. Saat melihat-lihat brosur di tempat kursus itulah aku melihat ada juga program kuliah 1 tahun di bidang kesehatan, istilahnya ASPER (Asisten Perawat). Kok kelihatannya menarik ya, pikirku. Lantas aku tanya-tanya lagi tentang program itu. Dan akhirnya, aku malah mendaftar ke program ASPER. Padahal niat awalnya hendak mengambil jurusan komputer, tapi tiba-tiba berubah pikiran. Ya Allah.. rencana apa lagi yang hendak Kau berikan pada hamba?

Jujur aku merasa puas dengan jurusan yang aku ambil. Meski aku hanya mengambil program 1 tahun. Tapi itu semua tak menyurutkan semangatku untuk terus belajar. Orang tuapun juga jadi semangat membiayai aku. Tapi lagi-lagi Allah punya rencana lain. Saat baru mendapatkan semester pertama, Bapak jatuh sakit. Stroke menyerang tubuh kuatnya, tubuh kekar yang selalu melindungi kami, keluarganya. Tubuh yang selalu tak bosan-bosannya mencari sesuap nasi demi mengisi perut kami. Aku sedih, tak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya, karena Bapaklah tulang punggung satu-satunya dalam keluarga kami.

Aku sudah putus asa, hampir saja aku nyopot dari sekolahku. Aku tak mau membebani keluargaku. Tapi ibu punya pandangan lain, pokokknya aku harus menyelesaikan program sekolahku yang 1 tahun itu. Ibu yang menggantikan posisi Bapak dalam mencari nafkah. Ibu bekerja di pabrik. Semua itu demi keluarga, demi membiayai sekolahku. Tak tega rasanya melihat Bapak yang masih terbaring lemah, dan melihat Ibu yang tiap sore pulang dengan rasa lelahnya. Sesampainya di rumah Ibu masih harus mengurus Bapak yang sakit. Jika Ibu berangkat kerja, akulah yang menyuapi bapak, memandikan bapak, memberikan obat ke bapak. Untung saja sekolahku waktu itu masuk siang, jadi aku bisa operan dengan Ibu dalam menjaga Bapak yang cuma di rawat jalan di rumah.

Akhirnya, 1 tahun sudah aku menyelesaikan sekolahku. Tentu berkat kerja keras iIbu. Aku tak ingin mengecewakan Ibu. Nilai tertinggi aku peroleh. Ibu senang menghadiri acara perpisahan di sekolahku. Di sana aku mendapat piagam penghargaan beserta hadiah atas prestasiku. Kondisi Bapakpun juga sudah membaik. Meskipun belum sembuh benar.

Apakah dengan begitu aku sudah puas dan mendapatkan apa yang aku inginkan?? Ternyata tidak. Allah masih mengujiku lagi. Melamar kemana-mana dengan ijazah ASPER ternyata sulit. Semua lowongan hanya membutuhkan tenaga kerja lulusan D3. Tapi aku tak putus asa. Aku pun tak malu lagi bekerja apa saja demi membantu Ibu. Akhirnya aku bekerja di sebuah warung makan dekat kampus terkenal di Solo. Malu juga kalau ketemu dengan teman-teman yang kebetulan mampir di warung tempatku bekerja. Tapi apa artinya sebuah rasa malu jka dibandingakan dengan pengorbanan Ibu dan Bapak selama ini. Lama-lama aku tepis juga rasa malu itu. Aku harus bisa mencari uang untuk membantu Ibu. Dan lagi-lagi semua tak berjalan mulus. Warung itu bangkrut karena banyak saingan, akhirnya ditutup. Aku pun terpaksa mencari kerja lain. Di saat menunggu ada pekerjaan yang sesuai, aku menjual gorengan di depan pabrik tempat Ibu bekerja. Biasanya Bapak yang setia menunggui aku jualan. Lumayan rame juga yang beli. Maklum karena kebanyakan daerah di situ dihuni oleh anak-anak kos yang bekerja di pabrik. Setiap pulang kerja, Ibu selalu menyempatkan untuk membantu aku jualan.

Ternyata itu semua tak membuatku puas begitu saja. Karena merasa pendapatan yang aku peroleh dari jualan gorengan tak cukup banyak membantu Ibu. Akhirnya aku putuskan untuk melamar ke pabrik yang sama di mana Ibuku bekerja. Ya, aku melamar sebagai Helper, sebutan buat karyawan yang bertugas menjadi asisten operator jahit di pabrik itu. Mulai dari menyiapkan kain, mengambar, menandai kancing, menyeterika, bahkan sampai kalau ada permakan dari penjahitpun proses pendedelannya harus dikerjakan oleh Helper. Sungguh berat memang. Tapi aku harus kuat. Kerja dimulai pukul 07.00 dan tiap hari harus lembur sampai pukul 20.30 dalam kondisi berdiri.

Mungkin Allah ingin mencetak aku menjadi wanita yang kuat. Yang tegar dan tak gampang menyerah dalam kondisi sulit sekalipun. Semangat itulah yang membuat aku bertahan untuk bekerja di pabrik itu selama setahun. Meski badan kurus, tak kupedulikan semua itu. Aku yakin Allah sedang menempaku. Inilah saat-saat tersulit dalam hidupku. Bapak meninggalkan aku dan ibu. Penyakit strokenya kambuh untuk kedua kalinya. Dan kali ini, dokter tak mampu berbuat banyak. Setelah dirawat di ruang ICU selama empat hari, akhirnya Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Sebuah pukulan yang sangat menghantam. Aku harus menerima kenyataan bahwa Bapak telah meninggal. Kecewa rasanya karena aku belum bisa membahagiakan Bapak. Benar-benar terasa berat. Tapi aku berpikir, mungkin inilah jalan terbaik buat Bapak. Bapak tak perlu merasakan sakit lagi. Kulihat ada senyum mengembang di bibir Bapak, saat aku lihat wajahnya yang terakhir kalinya. Setelah kepergian Bapak, aku harus berjuang melanjutkan hidup ini berdua dengan Ibu.

Hingga akhirnya aku mulai mendapat sedikit titik cerah. Suatu hari aku mendapat telepon dari tempatku sekolah dulu. Aku diberi tahu kalau ada sebuah klinik yang membutuhkan karyawan. Lalu aku minta persetujuan Ibu untuk melamar ke klinik tersebut. Alhamdulillah aku diterima. Dan aku sudah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan ijazahku. Aku senang bekerja di klinik itu. Apalagi banyak ilmu yang aku dapat selama bekerja di sana. Mulai dari membantu proses persalinan, hingga merawat bayi. Setidak-tidaknya ilmu itu bisa aku terapkan jika aku sudah berkeluarga nanti.

Selama hampir tiga tahun aku bekerja di klinik tersebut. Hingga akhirnya rencana menikah itu melintas dipikiranku. Sempat aku bimbang, karena aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak yang sesuai dengan jurusanku. Tapi kini aku harus rela melepaskan pekerjaan itu karena rencana menikah itu. Calon suamiku menginginkan aku keluar dari pekerjaanku karena selama bekerja di klinik jatahku libur hanya sebulan sekali, dan tentu saja calon suamiku keberatan dengan keadaan tersebut. Dia menginginkan seorang istri yang bisa menemaninya setiap hari di rumah, sedangkan jika aku tetap di klinik tersebut jelas tidak mungkin.

Dan lagi-lagi, Allah menentukan jalan hidupku. Aku harus keluar dari klinik sebelum hari pernikahan. Untung saja segera setelah aku keluar ada lowongan sebagai operator warnet. Akhirnya aku melamar ke warnet itu. Dan sampai sekarang inilah aku bekerja di warnet. Tapi sungguh aku sangat menikmati pekerjaan baruku.

Bukan hal yang mudah untuk mewujudkan pernikahan itu. Sudah menjadi tekadku sebelumnya, jika menikah aku ingin menggunakan uang tabunganku sendiri. Tak mau lagi merepotkan Ibu. Semua aku persiapkan sendiri bersama calon suami. Mulai dari mengurus surat-surat hingga membeli perlengkapan buat mas kawin. Alhamdulillah acara sakral itu berlangsung lancar meskipun jauh dari kesan mewah, karena kami hanya melaksanakan ijab qabul di rumah dan dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak.

Setelah aku menikah, aku bisa menemani suamiku setiap hari yang mungkin tak akan bisa aku lakukan jika aku masih bekerja di klinik. Bagiku yang terpenting sekarang adalah keluarga. Atas ridha suamilah aku bekerja di warnet ini, dan aku yakin itu juga merupakan sebuah pilihan yang indah dalam hidupku yang sudah digariskan oleh Allah. Meski banyak orang yang menganggapku bodoh, karena aku keluar dari klinik dan malah memilih bekerja di warnet. Mungkin bagi orang-orang itu status sosial lebih penting, tapi tidak bagiku. Karena aku punya pilihan hidup sendiri dan aku bahagia dengan pilihan hidupku yang sekarang.

Hidup itu penuh dengan pilihan, tinggal kita hendak memilih yang mana. Dan kalau aku, aku pribadi lebih memilih untuk hidup sederhana bahagia bersama keluarga. Meski aku tak pernah mendapatkan kesempatan duduk di bangku kuliah, meski aku bukan seorang wanita karier  dan bekerja di kantoran,  tapi aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Dan semoga saja kelak, aku dan suami dapat memberikan yang terbaik buat anak-anak kami. Amiinnn…

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author