Kisah Robert Budi hartono

No comment 1149 views

Robert Budi Hartono (Terlahir dengan nama Oei Hwie Tjhong) di Kudus tahun 1941 adalah Seorang Pengusaha Indonesia Keturunan Tionghoa yg merupakan CEO dari perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia, Djarum. Budi Hartono adalah adik dari Michael Bambang Hartono (Oei Hwie Siang) yg juga merupakan pemilik Perusahaan Djarum.

Robert adalah anak kedua dari Oei Wie Gwan, pendiri Pabrik Rokok Djarum. Ia adalah orang terkaya ke-10 di Asia Tenggara dan ke-321 di dunia pada tahun 2005 menurut majalah Forbes, dengan kekayaan sebesar 2,3 miliar dolar AS. Sebelumnya, pada tahun 2004, ia berada di posisi ke-8 dengan kekayaan sebesar 2,2 miliar dolar AS. Pada bulan Juli 2007, majalah Globe Asia menyatakan Robert sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 37,8 triliun rupiah.

Selain Djarum, Robert dan Michael adalah pemegang saham terbesar di Bank Central Asia. Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 persen saham BCA.

Dua Bos Djarum Kuasai BCA

Dua bos Djarum Group, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, kini menjadi pemegang saham utama di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Keduanya melalui Alaerka menguasai 92,18 persen saham Farindo Investment Ltd yang memiliki 51 persen saham BCA.

Sedangkan pemilik Farindo lainnya adalah perusahaan investasi asal AS yakni Farallon Capital yang memiliki saham Farindo sebesar 7,82 persen Semula, Alaerka hanya memiliki saham Farindo 9,36 persen sedangkan Farallon mencapai 90,64 persen. Berubahnya komposisi di Farindo, membuat Alaerka secara tidak langsung menguasai 46 persen saham BCA.

Peningkatan saham Alaerka di Farindo ini diungkapkan oleh Wakil Presdir BCA Jahja Setiaatmadja, kemarin.

“Manajemen BCA menerima surat perubahan kepemilikan Farindo pada 2 Januari lalu dan sudah pula kita sampaikan ke Bank Indonesia (BI) dan Bapepam,” kata Jahja. Jahja menjelaskan, meski terjadi perubahan pengendali di Farindo, BCA tidak akan melakukan perubahan strategi.

“Djarum kan sudah sejak dulu ada, bedanya sekarang mereka punya saham lebih banyak, tapi manajemen menegaskan tidak ada perubahan strategi dalam pengelolaan BCA,” ujar Jahja.

Menurut Jahja, BCA akan tetap menjadi perusahaan terbuka dan menjalankan bisnis perbankan lebih profesional. Sebelum menjadi penguasa mayoritas BCA, Grup Djarum memiliki dua bank yakni Bank Haga dan Bank Hagakita.

Arsitektur Perbankan

Namun pada 13 Juli 2006, Bank Haga dan Bank Hagakita dilego ke Rabbobank Group yang berkedudukan di Belanda. Bank Haga dan Bank Hagakita memiliki aset gabungan Rp 3,97 triliun per 31 Desember 2005. Kedua bank ini memiliki 78 kantor cabang yang tersebar di Jawa, Bali dan Sumatra bagian selatan dengan 1.537 karyawan.

Grup Djarum mulai aktif memikirkan langkah Bank Haga dan Bank Hagakita setelah keluarnya aturan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan single presence policy (SPP). Kini setelah melepas Bank Haga dan Bank Hagakita, Djarum bisa lebih fokus memiliki BCA dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 61,665 triliun

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author