Kisah Seorang Ibu Yang Berginjal Satu

No comment 1382 views

Seluruh keluarga besar dari Ibuku berkumpul di sebuah rumah joglo di desa kelahiran ibuku. Duka menggantung di langit-langit keluarga saat itu. Salah seorang anggota keluarganya dinyatakan mengalami kegagalan fungsi ginjal. Dia adalah kakak laki-laki ibuku atau kami biasa memanggilnya pakde. Pakdeku yang seorang dokter dan kala itu masih menjabat sebagai kepala sebuah rumah sakit daerah di kota Magelang, tak mampu berkutik ketika vonis gagal ginjal menimpanya. Untuk itulah keluarga besar itu berkumpul. Membicarakan masalah kondisi kesehatannya dan bagaimana solusi yang akan diambil.
Semua mata menunduk, ketika terucap kalimat “saya butuh seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya untukku..” dari mulut Pakdeku. Kontan suasanya sepi senyap menyeruak ke dalam lingkaran puluhan anggota keluarga yang terduduk diatas tikar rotan anyaman. Dari kesepuluh bersaudara, diketahui ada 4 orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Pakdeku, salah satunya adalah Ibuku. Ibuku adalah anak nomor sepuluh dari sepuluh bersaudara atau biasa disebut anak ragil (bungsu). Pakdeku yang lain yang masuk dalam golongan empat itu secara terang-terangan menolak untuk menjadi pendonor, alasannya adalah karena kondisi kesehatannya sendiri yang kurang prima. Seorang bude yang dengan lantang berkata “Mbok digenteni duit 5 juta wea aku nggak bakal gelem “ (Walau diganti dengan uang 5 juta saja aku nggak akan mau). Nilai uang senilai 5 juta kala itu (tahun 1981) tentu sebuah nilai uang yang sangat besar. Tapi bude menyatakan dirinya tak sudi andai ginjalnya digantikan dengan nilai uang sebesar itu.

Suasana kembali hening. Dalam keheningan sekaligus kesedihan yang sedang menyelimuti keluarga, tiba-tiba Ibuku bersuara lantang “Nggih, kulo purun..” (Ya, saya mau). Kontan semua mata tertuju kearahnya. Tak menyangka bahwa kalimat itu akan muncul dari seorang anak ragil . Kemudian bude-budeku yang lain kembali menanyakan kebenaran kalimat itu “Bener kamu sungguh-sungguh mau menjadi pendonor darah untuk Zaenal?” . Zaenal, nama pakdeku yang terkena vonis gagal ginjal. “Nggih, Insya Allah”. “Tapi piye, anakmu kan isih cilik-cilik ? opo kowe wis siap ninggal anak-anakmu sing isih cilik iku? (Gimana anakmu kan masih kecil-kecil, apa kamu sudah siap meninggalkan anak-anakmu yang masih kecil-kecil itu?) “ Kali ini giliran kakekku yang meragukan keputusan ibuku. “Insya Allah siap Pak, semuanya kuserahkan kepada Allah semata” sebuah jawaban mantap keluar dari mulut ibuku.

Sepulang dari acara kumpul keluarga besar itu. Ibuku dan bapakku mengumpulkan ketiga orang anaknya yang masih BALITA. Bapak kembali mempertanyakan keputusan Ibu “Apakah Ibu sudah mantap dengan keputusan yang Ibu ambil tadi?, kalau ibu tidak mantap, mendingan ibu mundur saja” Tanya Bapak. “Insya Allah, Ibu mantap Pak. Ibu nitip anak-anak selama proses operasi nanti dan andaikan operasi itu tidak berhasil Ibu percaya bapak mampu membesarkan anak-anak kita nanti” . Setitik airmata menetes di pipi Ibu. Kulihat roman kesedihan juga di wajah bapak. Aku yang kala itu masih berumur 3 tahun sudah bisa memahami bahwa saat itu adalah saat-saat yang mengharukan dan menyedihkan bagi keluargaku. Kakak laki-lakiku saat itu berumur 5 tahun dan adik laki-lakiku berumur 1,5 tahun pun seolah mengerti suasana kesedihan yang sedang terjadi. Kami hanya saling berrangkulan, menyadari bahwa setelah itu kami akan ditinggal pergi dalam waktu yang cukup lama oleh Ibu.

Keputusan sudah diambil oleh Ibu, kami semua hanya bisa berpasrah dan harus mendukung demi suksesnya donor ginjal yang akan Ibu lakukan. Namun ternyata tak semua orang mau mendukung , banyak pihak yang justru menyuruh Ibu mundur. “Lihat itu anak-anakmu, masih kecil-kecil gitu kok..nanti kalo ada apa-apa gimana? Siapa yang akan merawat dan membesarkan mereka?” seorang bude berkata pada Ibu. Lain hari teman ibu bahkan melontarkan kalimat pedas “Apa nyawamu rangkap 2? Kok mau-maunya sih mengorbankan ginjalmu untuk orang lain? Kamu diberi uang berapa sih?” . Astagfirullah, ternyata untuk berkorban demi sang kakak pun Ibu harus menghadapi suara-suara sumbang tak mengenakkan. Tak serupiah pun diberikan untuk mengganti ginjal Ibu. Semuanya dilakukan murni dengan niat menolong sang kakak.

Namun ditengah banyaknya suara-suara yang meragukan niat tulus ikhlas Ibu, Ibu tetap bergeming. Kemantapan sudah mengkristal dihatinya. Kejadian apapun yang akan terjadi semua pasti sudah diskenario oleh Sang Pencipta. Itulah prinsip yang selalu dipegang ibu. Prinsip yang selalu menguatkan langkahnya untuk mengorbankan sebuah ginjalnya kepada sang kakak atas nama sebuah cinta.

Akhirnya, di pertengahan tahun 1982, Ibu berangkat ke RS Cikini Jakarta untuk menjalani proses donor ginjal itu. Beliau berpamitan kepadaku dan kakakku yang akan beliau tinggalkan, Ibu berangkat mengajak adikku yang masih 1,5 tahun dengan diantar oleh Bapak. Sementara aku dan kakaku berada dirumah dengan ditemani paman, adik bapak.

Berbilang bulan lamanya, kami berdua ditinggalkan, Ibu kembali ke rumah setelah proses transplatasi ginjal dan recoverynya selesai. Kami bersatu kembali dengan dengan kerinduan yang telah kami tahan selama beberapa bulan lamanya. Ibu telah kembali. Tapi, kembali dengan kondisi yang tak sama lagi dengan dulu, kini Ibu hanya memiliki satu ginjal.

Mungkin karena hanya memiliki satu ginjal, sejak saat itu, kesehatan Ibuku menjadi gampang sekali drop, hampir setiap bulan pasti beliau jatuh sakit. Hari-hari dilalui dengan beberapa penyakit yang menderanya silih berganti. Penyakit demi penyakit seolah telah menjadi kawan akrabnya sehari-hari. Aku seringkali sedih melihat kondisi ini. Ternyata, pengorbanan Ibu tak cukup sampai proses transplantasi ginjal itu selesai, melainkan terus berlanjut tak mengenal batas akhir.

Meski segala penderitaan harus dialami Ibu, Ibu tak pernah menyesal memberikan satu ginjanya untuk kakak tercintanya. Ternyata pakde Zaenal hanya mampu bertahan dengan ginjal pemberian Ibu itu selama 2 tahun saja. Setelah itu beliau dipanggil olehNya. Saat-saat proses sakaratul maut, Pakde sempat memanggil Ibu. Disampaikannya segala rasa terimakasihnya atas segala pengorbanan yang Ibu lakukan untuknya.

Kini, setelah lewat seperempat abad peristiwa itu terjadi. Aku banyak mengambil ibrah dari semua itu. Satu pelajaran yang amat sangat berharga telah diajarkan oleh wanita mulia yang telah melahirkanku ke dunia. Pelajaran tentang Pengorbanan, Cinta, Ketulusan dan Keteguhan hati telah diajarkannya kepada kami anak-anak mereka bahkan sejak kami masih sangat muda untuk bisa memahaminya.

Seiring dengan perjalanan waktu, kami terus menggali makna yang terkandung di dalam peristiwa itu. Sampai kini kupahami bahwa untuk menanamkan sebuah pelajaran kepada anak, tak perlu dengan banyak kata-kata, namun bukti langsung melalui sebuah pengorbanan muliamu dan tindak nyata. Semoga, pengorbanan Ibu akan selalu kami jadikan contoh untuk anak cucu kami kelak. Berikanlah khusnul khatimah untuk Ibuku Ya Allah. Jadikanlah Ibuku yang bernama Ibu Syahidah sebagai seorang syahidah sejati.

Ibrah dari kisah yang kutuliskan ini saya tujukan terutama untuk diriku sendiri. Adapun jika pembaca pun turut merasakannya, aku berharap para pembaca tak segan-segan untuk turut mendoakan ibuku agar segala pengorbanannya itu menjadikannya sebagai bekal “tiket” yang mengantarkannya ke syurga. Amiin.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

author