Kisah Sofjan Wanandi

No comment 714 views

Sofjan Wanandi lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 3 Maret 1939. Terlahir dengan nama Lim Bian Koen adalah pengusaha Indonesia , pemilik bisnis Gemala Group.

Sofyan Wanandi adalah Adik dari Jusuf Wanandi yg merupakan politisi senior dan pendiri CSIS (The Centre for Strategic and International Studies) pada Tahun 1971 di Jakarta. Beliau dikenal sangat dekat dengan pemerintah di zaman Orde Lama.

Pengalamannya dalam bidang ekonomi, birokrasi, dan politik tersebut membuat mantan aktivis 1966 ini sering dijadikan koordinator dan juru bicara para pengusaha keturunan Tionghoa.

Ketua Umum APINDO

Usahawan dari Grup Gemala Sofjan Wanandi (62), Rabu (14/5/2003), terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menggantikan Suparwanto. Setelah terpilih, ia langsung membentuk pengurus, yang di antaranya terdiri atas Teddy P Rachmad (Wakil Ketua Umum) dan Djimanto (Sekjen). Sejumlah profesional dan usahawan di antaranya Eva Riyanti Hutapea, Sudhamek Agoeng, Anton Supit, Benny Sutrisno, dan Mintardjo Halim, ia gandeng untuk ikut menjadi pengurus.

Sementara, sejumlah usahawan senior ia ajak menjadi pembina atau penasihat, yaitu Sukamdani Sahid Gitosardjono, Sudarpo, Mochtyar Riady, The Ning King, dan Ciputra. ”Hal pertama yang kami kerjakan adalah konsolidasi pengusaha, dengan tujuan ikut memberi kontribusi membangun republik ini,” tutur Sofjan Wanandi hari Kamis 15/5/2003.

Apindo di bawah kepengurusan baru akan segera membentuk sekretariat kerja bersama dengan serikat buruh untuk memperlancar komunikasi dan menyelesaikan persoalan-persoalan perburuhan secara bipartit. Dengan cara itu diharapkan iklim investasi bisa membaik karena keributan antara pengusaha dan buruh bisa dihindarkan.
Selain itu Apindo akan bekerja sama dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk meningkatkan kualitas buruh dan sekaligus pengusaha sehingga dapat terbentuk kemitraan yang bertujuan memperbaiki iklim investasi karena semakin baiknya saling pengertian.

“Kami akan membuka Sekretariat Bersama dengan buruh sehingga kalau ada masalah bipartit bisa kita selesaikan sendiri sebelum ribut. Jadi tidak usah lewat pemerintah dulu selama kita bisa selesaikan masalah-masalah kita,” ujar Sofjan.

Komunikasi
Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea, ada 68 serikat buruh, sementara yang memiliki anggota hanya sekitar 38 buah.

“Kami usulkan para pimpinan serikat buruh ketemu paling sedikit sekali sebulan sehingga komunikasi lancar agar persoalan bisa kita selesaikan sebelum ribut. Kami betul-betul ingin membuat suatu iklim investasi yang kondusif karena banyak dari pengusaha asing selalu mempersoalkan masalah buruh ini sebagai salah satu dari masalah besar mereka,” ujarnya.

Tahun lalu, katanya, setidaknya 43 perusahaan Korea dan 10 perusahaan Jepang hengkang dari Indonesia antara lain karena persoalan buruh di samping masalah legal dan keamanan. Selain itu, daya kompetisi buruh Indonesia juga sudah kalah dari Cina dan Vietnam.

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author