Kisah Wanita Tua Penjual Serabi

No comment 2206 views

 

“ Serabine kaleh nggih ,mbah “ ( Serabinya dua ya, mbah)
“ Nggih neng..”
Aku menatap wajah tua yang penuh keriput itu. Dengan perlahan dituangkannya adonan tepung beras ke dalam cetakan berbentuk lingkaran.Diaduk-aduknya perlahan lalu ditutupnya dan kemudian dia diam, menunggu hingga matang.
Malam itu bayu berhembus cukup kencang, membelai lembut setiap jiwa yang dilewatinya. Aku bergidik, rasanya dingin menjelajahi setiap sendi dan tulangku. Tetapi wanita tua itu tak bergeming, dia masih saja asyik menjelajahi setiap sudut jejalanan yang mulai lenggang. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi dia terlihat begitu menikmatinya.
” Putrane pinten mbah?? (Anaknya berapa mbah?)
” Tigo neng,”
” Lha simbah sadeanipun piyambakan?” (Simbah jualannya sendirian ?)
Dia mengangguk.
” Anak kulo sampun merdamel sedanten, boten teng griyo ” (Anak saya sudah bekerja semua, tidak di rumah).
” Mboten ndherek putranipun kemawon mbah? Kan boten usah sadean dalu-dalu kados mengaten?” (Tidak ikut anaknya saja mbah? Kan tidak usah jualan malam-malam seperti ini.)
Dia menggeleng.
” Mboten neng..Kulo boten purun ngrepoti anak-anak kula. Mireng piyambakipun sampun sukses kemawon kulo pun remen..” (Tidak neng, Saya tidak mau merepotkan anak-anak saya. Mendengar mereka sukses saja saya sudah senang).

Aku terharu, lidahku kelu. Siapa sangka seorang penjual serabi di depanku ini mempunyai anak tiga yang menjadi pengusaha sukses di kota Jakarta. Dan dia lebih memilih untuk tidak merepotkan anak-anaknya, baginya apa yang dia lakukan untuk membesarkan anak-anaknya selama ini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan untuknya. Hingga dia merasa tidak harus menerima sedikitpun imbalan atas jerih payahnya.

Aku menerawang memandang gemintang di atas sana. Ayah, ibu, kakak, adik, sahabat, keluarga, dan teman-temanku. Sedang apa kalian di sana? Aku menerawang pilu. Ada rasa menyeruak di dalam hati. Merutuki mengapa seringkali hati ini terlalu cepat untuk berbangga dan tinggi hati. Meminta dan menuntut kepada orang tua bahwa mereka memang seharusnya mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya, dan ketika tak bisa muncul gumpalan rasa kecewa. Kadang rasa marah muncul, ketika setiap pertolongan kepada sahabat atau kawan diabaikan. Alih-alih mengucapkan terima kasih, yang ada malah umpatan cacian yang di dapat ketika ada perselisihan.

Bantuan demi bantuan yang kulakukan untuk mereka hilang tersaput ombak kemarahan mereka. Yah, rasa tak suka mulai memenuhi setiap sudut hati menganggap orang tersebut tak tahu balas budi. Tetapi wanita tua ini melakukan hal yang berkebalikan. Di saat peluh, lapar, dan dahaga menjadi sajian tiap harinya karena dia harus membanting tulang untuk anak-anaknya, dia tidak mengeluh malah bahagia. Dan ketika anak-anaknya sukses dan tidak mempedulikan dirinya dia semakin bahagia karena anaknya berhasil meraih impian mereka. Tak tebersit sedikitpun penyesalan telah membesarkan anak-anak yang tak tahu balas budi itu. Ah, betapa malunya aku…Aku bukan apa-apa dibanding wanita penjual serabi itu.

Serabi dan wanita tua itu mengajariku akan hidup yang indah. Hidup tanpa mengharap kata ” terimakasih” ataupun balas budi. Dia mengajariku untuk melakukan kebaikan untuk dilupakan, dan melakukan kesalahan untuk diingat agar tidak terulang di kemudian hari. Terimakasih mbah, serabimu adalah santapan jiwaku yang paling nikmat.

Lebih baik kuterima 1 kata terimakasih dari hati
Diantara 1000 kebaikan yang kulakukan
Daripada aku menerima 1000 terimakasih
Tetapi hanya sebuah kata basa basi….

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber: id.shvoong.com )

author