Makna Sujud Mbah Maridjan

No comment 424 views

Damainya semenanjung negeriku kini terhempas deburan ombak yang selama ini begitu bersahaja dalam pandangan rasaku, seiring detak-detak angin dipenghujung fajar ia menghanyutkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam mimpi yang semakin pudar warnanya….
Rangkaian mimpi-mimpi itupun seketika berakhir seirama terhempasnya jiwa dari jasad-jasad yang berserakan.

Wahai malaikat-malaikat penjaga bumi mentawai, apakah kamu terlalu sibuk dengan urusan Tuhan-Mu sehingga enggan menyelamatkan jiwa-jiwa yang malang dalam hanyutan yang terserak seperti sampah-sampah yang mengalir terbawa banjir..?

Ataukah ini adalah bagian dari urusanmu yang telah terpatri dalam ketetapan Ilahi yang harus terjadi..?

Baru kemarin aku mendengar kicauan burung Cendrawasi yang mengabarkan kedukaan yang dalam di tanah Wasior-bumi papua, kini dihadapanku seekor merak mengisahkan kedukaan Mentawai, belum lagi usai nyanyian duka Merak, seekor Elang meraung keras diatas langit lalu mengabarkan Merapi yang meletus kembali. Negeriku tercabik nestapa dalam kedukaan yang tiada terpahami akal…

Lautan adalah jiwa bumi, karena darinya terpercik tetesan hujan yang melahirkan kesejukan bumi.. jika jiwa terkalam pilu maka bumi menuai duka…

Gunung adalah tempat mahkota bumi, karena keteguhannya sehingga landasan lempeng bumi kokoh dari bias-bias energi rotasi perjalanan.. Jika keteguhan mulai luntur maka bumipun gelisa…

Dan yang kurasakan saat ini adalah kegelisahan yang melebur dalam duka dan mengantarkan nestapa lalu menjadikan bumi seperti Neraka, menerjang siapapun yang terdekat tanpa memilah bahkan membakar jiwa yang lagi bersujud di lereng Merapi… Selamat jalan Mbah Maridjan..

Wahai jiwa-jiwa yang bodoh… Pahamkah anda dengan semua episode ini..?
Sadarkah jika sesungguhnya yang terjadi ini adalah cerminan dari Bumi diri..?
Mengertikah kamu dengan Bumi diri..?
Jika jiwa bumi adalah lautan samudera, maka jiwa bumi dirimu adalah samudera ketulusan.
Jika gunung adalah tempat mahkota bumi sebagai ketetapan geologi dalam mengikat lempeng bumi, maka mahkota dirimu adalah akal pikiranmu yang diletakan tertinggi dalam ragamu yakni kepala.

Olehnya, apa yang dilakukan Mbah Maridjan adalah mengabarkan kepada alam bahwa diatas bumi ini (makrokosmik) masih ada bumi diri (mikrokosmik) yang memiliki samudra ketulusan dan senantiasa sujud dalam menaklukan keteguhan akal pikiran yang penuh dengan keserakahan…
Mengertikah kamu dengan keteguhan akal pikiran..?
Keteguhan akal pikiran adalah ketetapan dalam Kebenaran yang terbias dari Cahaya Ilahi dibalik samudra jiwa yang tulus…

Mbah Maridjan juga menyampaikan pesan kepada kita semua agar mau membaca pesan alam ini dengan melapangkan ketulusan yang ada dalam samudra diri lalu perbanyaklah bersujud dalam makna meruntuhkan segala ketamakan dan kesombongan yang senantiasa menghiasi akal pikiran kita dalam mengelola bumi dan seisinya..

Wahai alam… kuberikan jiwaku untuk engkau renggut dalam ketulusan, agar murkamu dapat memahami dukanya negeriku, kuberikan ragaku untuk engkau bakar dipenghujung sujudku, agar pesanku tersampaikan dengan sempurna. Meskipun nanti banyak manusia yang mengatakan Aku orang terbodoh di bumi ini.

Jika jiwa-jiwa yang tertapak diatas bumi cenderung melangkah dalam keserakahan, maka bumipun gelisa lantaran hilang keseimbangan Ekosistimnya, ekosistim yang meliputi alam fisikal berupa perusakan alam secara buta, ekosistim metafisikal yang meliputi komunikasi dalam tatanan sosial yang lebih mementingkan diri sendiri serta konsistensi pemimpin negeri ini yang jauh dari kebenaran dalam menata energi-energi Umanity…

Wahai jiwa-jiwa yang memahami kebenaran…. Kabarkanlah nyanyian alam ini pada mereka-mereka yang lagi dibutakan mata hatinya…

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author