Mama, Darimu Aku Belajar

No comment 653 views

Dear Mamaku tersayang,

Hari ini aku hanya berpikir tentang dirimu. Beberapa hari ini aku tak mampu melakukan apapun. Aku tak tahu lagi apa yang hendak kutulis dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali memikirkan dirimu. Sesuatu yang teramat jarang kulakukan selama ini.

Mama, terima kasih atas semua yang telah kau ajarkan padaku. Tentang hidup sebagai seorang wanita, seorang istri dan seorang ibu. Aku belajar banyak darimu, meskipun aku tahu aku takkan pernah bisa sebaik dirimu.

Dari aku kecil, aku melihat mama selalu bekerja mengurus kami dengan penuh dedikasi. Kau urus kami tanpa bantuan siapapun, meskipun Papa mungkin sanggup menggaji pembantu. Kau juga sempat mengurus tujuh orang anak angkat yang semuanya kau anggap seperti anak-anakmu sendiri. Kau sanggup mengurus kami semua dengan baik, memasak dengan lezat dan bahkan masih sempat meluangkan waktu berorganisasi.

Mama yang berkata bahwa berbuat baik itu seperti membuang hajat, tak boleh diingat dan tak boleh dikenang ketika aku marah karena tak seorangpun dari anak angkatmu mau menengokmu setelah mereka berhasil menjadi orang, bahkan sekedar bertanya tentang kesehatanmu sajapun tidak. Lagi-lagi hanya senyum yang muncul di bibirmu dan kau berbisik, “Itu tabungan akhirat mama, sayang.”

Mamaku sayang, kau yang tak pernah berkata kasar namun juga tak pernah berkata lemah. Kau biarkan aku melanglang buana, mencari cinta dan belajar tentang kehidupan dengan satu pesan, “Jagalah dirimu, jagalah kepercayaan Mama Papa dan pulanglah kalau kau sudah lelah.” Dan itulah yang kudapatkan, aku belajar tentang dunia, menemukan cinta dan membawanya ke hadapanmu.

Aku ingat di hari pernikahanku, saat aku bersujud di kakimu kau berkata, “Jangan menangis anakku, kau harus kuat karena di manapun kau berada bersama suamimu nanti, mama tak pernah ke mana-mana karena mama selalu ada di hatimu.”

Dan Mama memang benar. Kau telah ajari aku bahwa seorang Istri dicintai karena kekuatannya. Bukan kekuatan fisik, tapi kekuatan hati. Darimu, aku belajar menjadi istri yang tangguh menghadapi ujian, tahan menghadapi cobaan dan tabah dalam menghadapi rintangan. Kau benar, Mama, Karena aku yakin kau selalu bersamaku.

Suatu ketika aku pernah bertanya pada suamiku, apa yang membuatnya memilihku? Dia bilang padaku, karena aku putri dari seorang perempuan yang tangguh dan tabah. Dia percaya, aku pasti belajar banyak dari Mama dan dia bilang “Kau memang setabah Mamamu dan aku makin mencintaimu setiap hari karena melihat ketangguhan itu.”

Kau juga tularkan bahwa hidup sehat itu penting. Olahraga, makanan dan gaya hidup sederhana adalah sesuatu yang harus dijalani dengan baik. Dulu aku selalu mau muntah setiap kali kau sajikan jamu. Dulu aku juga selalu mengelak setiap kali diajak berolahraga dan aku juga sering membuang diam-diam sayuran yang kau hidangkan. Tapi kesabaranmu membuatku aku akhirnya belajar menerima dan terbiasa melakukannya. Cara hidup sederhana itulah yang akhirnya membentuk pribadiku menjadi istri yang tidak neko-neko.

Mama, aku ingat mama pernah bilang bahwa dunia yang paling indah adalah duniamu. Dulu aku tertawa geli karena menganggap setiap pekerjaan di dunia selalu tentang materi. Dan kini aku memahami artinya. Aku kini seorang mama dari tiga orang anak. Saat mereka tertawa, sehat dan tumbuh sempurna, aku merasa inilah bayaran yang pantas untukku atas semua dedikasi merawat ketiga anakku. Berkat Mama, aku memahami bahwa menjadi Mama bukanlah sebuah beban tapi adalah sebuah pekerjaan mulia paling menyenangkan di dunia.

Mama, kaulah inspirasiku dalam menulis. Aku telah menularkan apa yang kupelajari darimu melalui tulisan. Aku mengajari banyak orang dengan cerita, menginspirasi dan memberi nasehat tanpa kesan menggurui, sama seperti dulu mama mengajariku. Airmataku sering menggenang saat membaca begitu banyak email berisi rasa terima kasih karena aku berhasil membuka mata hati mereka. Semua karenamu, Mama.

Dan hari ini… satu hal lagi yang kupelajari darimu, Mama. Kau sampaikan berita terburuk dalam hidupmu di hadapan kami dengan wajah penuh senyum, “Anak-anakku sayang, mama terkena kanker payudara. Tapi Mama akan berjuang melawannya, kalian mau mendampingi mama?”

Aku tak bisa memahamimu, Mama. Dari mana kekuatan itu? Setangguh itukah dirimu sampai mampu mengucapkan sebuah penyakit yang bisa memisahkan kita hanya seperti terkena flu?

Aku terdiam, adik-adikku menangis dan Papa, lelaki kuat yang terbiasa menggenggam senjata itu terdiam dengan mata basah. Aku mencoba menahan diri semampuku, walaupun dadaku seperti dipukul palu godam. Aku yang paling pertama tahu soal benjolan itu bahkan sebelum putraku lahir tujuh tahun lalu, tapi aku membiarkannya karena kupikir itu adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi padamu. Pada orang yang aku tahu selalu berusaha hidup sehat. Tapi mungkin karena gaya hidupmulah, kau bisa bertahan selama itu.

Maafkan aku, Mama. Aku tak pernah memperhatikan kesehatanmu. Aku lupa kau bukan manusia besi. Aku tak pernah bertanya tentang benjolan itu, aku membiarkanmu mengobati dirimu sendiri dengan jamu-jamuan ala kadarnya. Berkali-kali kau mengeluh tentang kram di pundakmu, tapi aku tak pernah menanggapinya. Maafkan aku Mama, aku benar-benar menyesal.

Aku tak bisa berkata apapun selain menulis surat ini untukmu. Aku ingin mengatakannya langsung, tapi aku takut airmataku membuatmu sedih. Karena aku belum sanggup menerima kenyataan ini.

Aku akan mendampingimu, Mama. Aku berjanji akan menjadi tangan dan kakimu seperti dulu kau dampingi aku dari aku kecil, saat aku sakit, saat aku lemah dan saat aku melahirkan. Aku akan berjuang bersamamu, dengan senyum dan bukan dengan airmata. Aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku dengan menggenggam tanganmu setiap kali kau butuhkan aku agar kau tahu kau takkan pernah sendiri menghadapi penyakit ini.

Putrimu yang akan selalu mencintaimu sepenuh hati.

Iin

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author