Memberikan Semua Yang Dimiliki

No comment 447 views

 

Marian Anderson lahir tanggal 27 Februari 1897 merupakan salah seorang penyanyi yang paling terkenal di abad keduapuluh. Toscanini berkata bahwa suara Anderson memerintah di gedung opera di Amerika dan Eropa. Kritikus musik Alan Blyth berkata “Suaranya adalah kontralto, kaya bersemangat keindahan intrinsik.”  Sebagian besar karier bernyanyi dihabiskan tampil di konser dan resital di tempat musik utama dan dengan orkestra besar di seluruh Amerika Serikat dan Eropa antara 1925 dan 1965. Dia mempunya range suara yang sangat luar biasa, dari soprano hingga kontralto yang sangat rendah. Sebagai seorang Afrika-Amerika, Anderson menjadi tokoh penting dalam perjuangan untuk seniman hitam untuk mengatasi masalah rasial di Amerika Serikat pada pertengahan abad kedua puluh.

Marian Anderson memulai karirnya dengan menggosok lantai dengan bayaran sepuluh sen per jam, dengan tekun ia menabung uangnya hingga ia sanggup membeli sebuah biola di toko penggadaian. Gerejanya mengenali bakatnya dan membayar guru vocal profesional untuk membimbingnya. Waktu gurunya mengatakan dia sudah siap, Anderson pergi ke New York, dan di sana para kritikus menyerang habis dengan kritikan-kritikan pedas. Marian pulang untuk mengumpulkan kekuatan kembali dengan di dukung oleh ibunya dan gerejanya.

Waktu itu karena masalah RAS di Amerika masih sangat kuat, ia ditolak dan penolakan terhadap Anderson menjadi sorotan masyarakat internasional pada tingkat yang biasanya hanya ditemukan oleh selebriti profil tinggi dan politisi.

Maka  ia pergi ke Eropa dan menggebrak benua Eropa dengan suara bulat dan kuat, indah dan memukau. Kembali ke Amerika dengan bantuan dari Presiden Franklin D. Roosevelt dan First Lady Eleanor Roosevelt, Anderson melakukan konser terbuka pada Paskah Minggu, 9 April 1939, di Lincoln Memorial Washington, DC, dikerumunan lebih dari 75.000 orang dan penonton.

Dia terus untuk memecahkan hambatan bagi seniman hitam di Amerika Serikat, menjadi orang kulit hitam pertama, Amerika atau sebaliknya, untuk tampil di Metropolitan Opera di New York City pada tanggal 7 Januari 1955.

Penampilannya sebagai Ulrica dalam Un Ballo Giuseppe Verdi di maschera di Met adalah satu-satunya waktu dia menyanyikan peran opera di panggung. Ketika Martin Luther King Jr, berpidato tentang kebebasan “I Have a dream,” orang-orang berkata bahwa suara Marian lebih memukau dari pidato King.

Suatu hari seorang wartawan bertanta kepada Marian ketika ia berada di puncak karirnya, “Apa momen terbaik dalam hidupmu, setelah mencapai puncak karir seperti ini?.” Tanpa ragu Marian menjawab bahwa saat paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika ia pulang suatu saat dan memberitahukan kepada ibunya tidak perlu mencucikan baju lagi untuk orang lain. Ada banyak momen-momen berharga dengan banyak penghargaan-penghargaan, namun momen bersama ibunya adalah yang terbaik. “Apa yang telah diberikan oleh ibu Anda?”, kata wartawan itu. “Semua yang dia punya,” sahut Marian.

Itulah kesuksesan, memberikan semua yang kita bisa berikan untuk mensukseskan hidup seseorang.” Kehidupan yang miskin dan sulit tidak mematahkan semangat Marian mencapai aktualisasi diri dan potensi maksimal. Biar bagaimana pun untuk mencapai sukses membutuhkan dukungan dari banyak pihak, terlebih lagi kegigihan dari pribadi yang mau berjuang dan menghargai dukungan orang lain. Salam Sukses!

 

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

(Sumber : inspirasijiwa.com)

author