Menangis Untuk Mengakui Kebenaran

No comment 1050 views

Seorang Ayah terlihat begitu stress melihat kelakuan anak-anaknya. Dia terus mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain. Sang ayah seringkali harus mengomel karena tindakan bahaya dari anak-anaknya tersebut. Anak-anak yang sedang asyik bermain sepertinya tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Ayah mereka. Sang ayah yang sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan anak-anaknya tersebut, berteriak keras kepada anak-anaknya. Mereka pun akhirnya terdiam dan langsung masuk ke kamar tidur mereka.

Ayah ini merasa menyesal akan tindakan yang dilakukannya terhadap anak-anakNya. Keesokkan paginya, sang ayah masuk ke kamar anak-anaknya. Anak-anaknya yang sudah bangun dari tadi, memalingkan mukanya ketika tahu ayahnya masuk ke kamar. Dengan jalan perlahan, dia mendekati tempat tidur anak-anaknya.

Sang ayah memanggil nama anak-anaknya, tapi ketiganya tidak ada yang menoleh. Sang ayah lalu menyatakan kesalahan dan penyesalannya kepada anak-anaknya tersebut. Dengan wajah penuh air mata, ketiga anaknya menghadapkan badannya ke hadapan ayahnya tersebut dan memeluk ayahnya erat-erat. Salah seorang anaknya berkata dengan sesegukkan, “Ayah, aku menangis bukan karena bentakan Ayah ke aku, tetapi karena aku nakal hingga ayah jadi marah. Ayah, maafkan aku.”

Terkadang di dalam hidup, kita pun seperti layaknya anak ini yang kurang bisa mendengar dengan baik. Kita menjadi marah ketika orangtua, sahabat, istri menasihati hal yang benar, tetapi akhirnya menyesal di kemudian hari karena perkataan mereka benar adanya.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber :  www.jalanallah.com )

author