Mendidik Anak Untuk Mandiri

No comment 1052 views

Orang tua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri.Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin dicapai orang tua dalam mendidik anak-anaknya.Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri,menalikan sepatu dan bermacam pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-hari lainnya.Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya.Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan. Atau langsung memberi segudang nasehat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun caraini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa “lari”kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.Lalu upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan?Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.

• Beri kesempatan memilih
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri.Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatihuntuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilihanak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akandipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan – keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.

• Hargailah usahanya
Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendirikesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutamabila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untukmembuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya.Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaanatas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-halkecil seperti itu.

• Hindari banyak bertanya
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkanuntuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yangterlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yangbaru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan -pertanyaan seperti, “Belajar apa saja di sekolah?”, dan “Kenapa seragamnya
kotor? Pasti kamu berkelaihi lagi di sekolah!” dan seterusnya. Sebaliknya, anakakan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek :”Halo anak ibu sudah pulang sekolah!” Sehingga kalaupun ada hal-hal yang inginia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.

• Jangan langsung menjawab pertanyaan
Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padany auntuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatanini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahanmasalah. Misalnya, “Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari? ” Biarkananak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua,yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.

• Dorong untuk melihat alternatif
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah , orang tuabukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumberlain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasisuatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban :”Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda.”

• Jangan patahkan semangatnya
Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, “Bu, Andi mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput,bolehkan? ” Tindakan untuk menjawab : “Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baiktidak usah deh, ya” seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaliknya ibu berkata “Andi mau naik mobil antar jemput? Wah,kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andimau naik mobil antar jemput.” Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahuibahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipunakhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.

Sumber: scribd.com

author