Menghirup Udara Luar

No comment 599 views

Sejak lulus Sekolah Dasar aku bagai anak burung yang dilepas induknya untuk belajar terbang. Keharusan untuk segera meninggalkan sarang dan belajar beradaptasi dengan dunia luar mutlak tak dapat kubantah walau dalam hati sebenarnya masih ingin menikmati masa kanak-kanak di Sekolah Dasar. Kenangan dan keceriaan semasa masih di bangku Sekolah Dasar bersama teman-teman tercinta membuatku tak kuasa menahan tangis dan meninggalkan ruang sesak di dada.

Hari pertama aku menapakkan kaki di gedung sekolah yang megah, bahkan konon katanya sekolah ini merupakan sekolah yang paling besar di kota tempatku tinggal, ternyata telah membuat nyaliku ciut. Mobil-mobil mewah berjajar rapi di lapangan tempat parkir. Kebun sekolah yang luas berhiaskan tanaman-tanaman segar dan bunga-bunga indah berwarna warni menambah keindahan bangunan yang menurutku lebih mirip sebuah hotel daripada sekolah.

Teman-teman yang usianya sebaya denganku dan memakai seragam putih biru tampak menyebar di tiap sudut ruangan dan selebihnya memenuhi halaman sekolah. Beberapa ada yang masih dikawal oleh orang dewasa dan sebagian lagi tampak berjalan bergerombol sambil bersenda gurau satu sama lain, menandakan telah terjalin keakraban di antara mereka. Betapa mereka terlihat sebagai anak-anak orang kaya dan terpandang, pikirku. Kulit mereka bersih-bersih. Pakaian mereka semuanya rapi. Tas dan sepatu mereka juga tampak sebagai barang mahal di mataku. Berbeda dengan penampilan teman-temanku semasa Sekolah Dasar. Sebagian besar penampilan mereka sama denganku. Pakaian seragam selalu kusut walau hari masih pagi. Baju atasan yang seharusnya putih cemerlang terlihat lebih mendekati warna putih tulang bahkan hampir kekuningan. Belum lagi noda makanan yang menempel di baju, dan rambut mereka yang acak-acakan tak pernah rapi karena selalu menghabiskan jam istirahat di lapangan sekolah yang penuh dengan debu dan hampir tak ada penghijauan sama sekali. Lain dengan halaman sekolah yang tampak asri ini. Semuanya tampak hijau dan menyegarkan mata.

Aku berjalan sendirian menyusuri lorong bangunan yang sesak dipenuhi murid-murid beserta orang tua wali murid. Begitu bising suara mereka sampai di telingaku. Anehnya aku semakin merasa kesepian dan seolah tidak punya teman. Kuteruskan langkah kakiku dengan penuh kelesuan untuk mencari kelas yang sudah ditetapkan untukku sesuai dengan yang tertera dalam lembaran kertas yang kini kugenggam. Kupegang erat selempang tas sekolah yang menyilang di dadaku. Kuperhatikan satu persatu papan nama di tiap pintu kelas sebagai petunjuk letak kelas. Ketemu…! Ini dia kelas yang kucari. Sejenak aku terhenti di depan kelas. Kuperhatikan dari pintu suasana kelas yang saat itu tengah gaduh. Sedikit terlambat aku sampai di kelas ini hingga hampir semua bangku telah terisi. Kumasuki ruang kelas sambil berusaha mencari bangku yang masih kosong. Sulit sekali menemukannya apalagi aku sangat kikuk berada di dalam ruang kelas yang bising dan dipenuhi wajah-wajah manusia yang asing.

Kulihat di bangku nomer dua dari depan ada seorang gadis usia sebayaku, berambut ikal dan berkulit putih bersih. Tubuhnya lebih kecil dariku, sedang duduk termenung seorang diri. Walaupun berada di tengah keramaian ia tidak bergeming sedikitpun. Tampak kalau ia merasa tidak nyaman. Kedua tangan disilangkan di atas meja dan kepalanya sedikit tersembunyi dalam dekapan kedua belah lengannya sendiri. Kuhampiri ia dan mengatakan maksudku untuk bisa duduk di sebelahnya. Ia mengangguk tanda setuju dan tersenyum kecil.

Aku lega akhirnya dapat menemukan tempat duduk walaupun mendapatkan teman sebangku yang kurang bersahabat sikapnya. Kusodorkan tanganku sambil menyebutkan nama, “ Vita.” Ia tersenyum dan membalas uluran tanganku. “Rani,” jawabnya. Tak lama kemudian datanglah seorang guru baru yang ternyata akan menjadi wali kelasku. Dalam sekejap kelas berubah menjadi sunyi. Akupun bersiap-siap mengerahkan konsentrasiku menerima semua petunjuk dan bimbingan yang akan diberikan guru ini. Dalam masa orientasi sekolah ini tentu banyak sekali hal-hal baru yang perlu kupelajari nantinya.

Hari demi hari. Bulan demi bulan tak terasa satu semester akan segera terlampaui. Selama ini aku belajar dengan keras sesuai kemampuanku, bahkan mungkin melebihi tenaga yang selama ini kukerahkan untuk belajar setiap harinya saat masih di Sekolah Dasar. Kurangnya rasa percaya diri dan merasa takut tertinggal mengejar prestasi membuatku selalu berlatih keras memecahkan soal-soal ujian. Sekolahku yang terkenal elit dan selalu menempati rangking teratas dibanding sekolah-sekolah lain membuatku tak melewatkan sedikitpun waktu untuk belajar.

Rani, teman sebangkuku ternyata anak yang sangat pintar. Nilai-nilai yang didapatkannya selalu yang teratas dibanding nilai teman-teman sekelas. Rani pun menjadi murid kesayangan guru. Begitu juga teman-teman, sangat menyukai dan selalu meminta bantuan Rani tatkala ada pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, bangku Rani selalu penuh dikelilingi anak-anak yang hendak menyalin jawaban pekerjaan rumah Rani. Dalam setiap tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok, Rani selalu menjadi rebutan. Aku jadi merasa sangat tertinggal dengan teman sebangkuku itu. Prestasi yang kumiliki seolah tidak ada apa-apanya.

Sehari sebelum para orang tua wali murid diundang untuk menghadiri acara penerimaan raport, ibu guru wali kelas berdiri di depan kelas untuk menyampaikan siapa saja yang menduduki peringkat tiga besar teratas. Setelah menyebutkan dua peringkat terbawah dan diiringi sorak sorai seisi kelas, lalu ibu guru berusaha membuat penasaran seisi ruangan dengan mempersilahkan anak-anak untuk menebak siapa kira-kira yang menduduki peringkat teristimewa itu. Beberapa anak terdengar menyebut dengan suara lantang beberapa nama yang dianggap pantas menyandang predikat tersebut. Sebagian besar dari mereka menyebutkan nama Rani sebagai penyandangnya, namun sang wali kelas hanya tersenyum saja dengan tingkah polah murid-muridnya. Tatkala nama itu disebut, seisi kelas langsung terdiam dan suasana kelas mendadak menjadi hening saat disebut nama penyandang rangking satu di kelas itu dengan nilai di atas rata-rata. Bu Guru menyebut “VITA”.  Bagai disambar petir, antara sadar dan tidak, aku terdiam sesaat. Seolah tak percaya dengan pernyataan yang baru saja terucap. Seolah tersihir oleh kuatnya makna satu kalimat yang menyebutkan namaku. Semua pandangan mata tertuju ke arahku. Aku menoleh ke seisi kelas, beberapa anak bahkan tersenyum dan mengawasi gerakku seolah tak ingin melewatkan bagaimana ekspresi saat itu. Tak lama kemudian terdengarkan tepuk tangan bergemuruh yang ditujukan untukku.

Seisi kelas langsung menghampiriku untuk memberikan ucapan selamat atas keberhasilanku sambil menjabat tanganku. Aku begitu senang namun juga sekaligus kikuk menerima begitu banyak perhatian yang bertubi-tubi. Semuanya satu persatu memberiku selamat. Sampai bel waktu tanda pulang sekolah berbunyi, mereka lalu membuyarkan diri masing-masing. Aku terperanjat tatkala menyadari teman sebangkuku Rani yang kala itu hanya duduk terdiam di bangkunya sedari tadi. Ia hanya duduk mematung. Aku begitu merasa bersalah tak memperhatikan ekspresi teman sebangkuku itu. Sepertinya ia tidak senang dengan prestasi yang telah kudapat. Di sisi lain aku juga bertanya-tanya dalam hati, mengapa bukan Rani yang menyandang peringkat nomor satu ini. Aku tersenyum padanya, ia membalas dengan senyuman kecil dan segera mengemasi tasnya lalu berlalu meninggalkanku begitu saja.

Hikmah:

Allah maha kuasa atas segala sesuatu

Manusi tidak tahu apa yang akan terjadi

– Rosita Kusuma

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author