Menjadi Ranting Yang Kuat

No comment 841 views

“Nduk, doakan mama bisa liat kamu wisuda yaa..”

Nyess…hatiku langsung sesak waktu mama sms ini di tahun 2005, waktu itu aku baru kuliah semester dua.

Masih segar ingatanku tanggal 3 November 2006. Siang itu mama pergi berobat ke Bangun Rejo bersama papa, tante Par dan om Yono. Tatapan mata terakhirnya sangat dalam seakan kami akan berpisah jauh. Malamnya, hatiku sangat berat meninggalkan rumah, meninggalkan Metro tercinta. Seandainya aku tak ingat UTS (Ujian Tengah Semester) di Jatinangor, aku pasti masih di Metro, berat rasanya meninggalkan rumah, terutama meninggalkan adik-adik.

Mama menderita kanker sejak tahun 1993. Saat itu mama baru punya anak dua. Pertama, di vonis kanker rahim. Waktu itu dokter bilang, mama tidak akan bisa punya anak lagi karena rahimnya harus diangkat. Nyatanya, mama masih menghadiahiku dua adik yang umur keduanya tidak terpaut jauh. Kedua, saat aku memasuki masa SMA, mama kembali terserang kanker, kali ini kanker mulut rahim atau kanker serviks. Mama pun di operasi. Waktu itu adalah ujian bagiku. Saat mama sedang di operasi, kiki, adikku yang kedua mengalami kecelakaan saat berangkat sekolah. Dia pun dirawat inap di Rumah Sakit.  Sekolahku pun sempat terbelangkai. Dua orang yang aku sayangi berada di Rumah Sakit yang berbeda. Kemudian saat aku kuliah, kanker kembali menyerang mama, kanker payudara. Kali ini mama tak mau operasi lagi. Kanker mulai menggerogoti Mama. Mama memang tegar. Tak pernah mengeluh dan mengaduh. Belum pernah aku mendengar keluhan dari bibirnya. Bahkan saat sakit pun, mama tak pernah meminta pertolongan aku, walaupun aku sering memaksanya. ”Nanti saja, mandiin mama kalau udah nggak ada.” Begitu katanya.

Dan firasatku memang benar. Tepat dua minggu kemudian, 17 November 2006. Seperti orang yang tak berpijak ke lantai. Aku disuruh pulang mendadak. Bagaimana tidak panik? Di saat bunyi suara azan magrib. Handphoneku berbunyi. Aku harus pulang? Bagaimana caranya? Jam segini pasti tidak ada bus Kramat Jati maupun Pahala Kencana? Betapa paniknya aku! Betapa kacaunya aku saat itu! Cara apa yang harus kutempuh untuk pulang dengan cepat? Ternyata, aku beruntung mempunyai teman-teman kos yang sangat kekeluargaan. Aku diantarkan dari Jatinangor ke Lampung hanya dalam waktu kurang lebih delapan jam. Padahal waktu normalnya paling cepat adalah dua belas jam!

Setiap aku mendengar kabar orang yang kehilangan orang tuanya, hatiku ngilu. Bagaimana kalau aku merasakan seperti itu juga?? Terbayang saat kita jauh dari orang tua; ayah atau ibu kita sudah terbujur kaku. Dan…hari itu adalah hari yang selalu kubayangkan. Hari dimana kita hanya bisa menatapnya yang sudah menutup mata. Ya Allah, kenapa kau ambil dia begitu cepat?? Aku belum siap, aku belum membahagiakannya, aku belum meminta maaf padanya. Semuanya sudah terlambat, mama sudah pergi selama-lamanya.

Siapa pun yang pernah kehilangan sesuatu yang mereka pikir milik mereka, pada akhirnya bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar milik mereka. Siap tak siap kita harus menghadapi yang namanya kehilangan. Kehilangan mama sangat mempengaruhi hidupku. Kehilangan mama ibarat kehilangan setengah jiwa. Rasanya hidup tak bergairah, tak ada semangat hidup. Kuliahku pun anjlok, IPK-ku menurun drastis. Untunglah aku sadar, masih ada setengah jiwaku yang lain; Papa dan tiga adikku. Masih harus menjaga mereka, masih harus menyelesaikan kuliah.

Ternyata, tak semudah yang dibayangkan. Berbagai masalah menimpa keluargaku. Holy, adikku yang pertama, sedang duduk di kelas tiga SMA. Ibarat tanaman, dia layu. Seharusnya aku menjadi tanaman disampingnya yang melindungi. Adikku yang paling kecil, Gifa adalah yang paling tergantung dengan mama, masih kelas lima SD. Dari kecil, dia memang paling berbeda dibandingkan yang lain. Maklum, mama melahirkannya saat sudah berumur 39 tahun, umur yang rawan. Mama bilang, walaupun bersaudara, setiap orang tidak ada yang sama. Ada yang jadi jempol, ada yang jadi telunjuk. Walaupun berbeda, setiap jari bisa merasakan sakitnya jari yang lain. Begitu pula aku yang merasakan kesedihan mereka. Papa jadi kerepotan mengurus adik, aku yang seharusnya menjadi ibu kedua bagi mereka malah jauh di pulau seberang demi menyelesaikan kuliah.

Seperti pisang yang di karbit, aku dewasa sebelum waktunya, memikirkan segala permasalahan. Aku adalah penentu semuanya. Mama pernah bilang, ”Laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan. Kalau mama udah pergi, mama ikhlas papa nikah lagi.” Hati siapa yang rela pohonnya dibagi? Karena berbagai pertimbangan akhirnya aku menganjurkan papa menikah lagi, walaupun waktu itu mama belum genap setahun pergi. Inilah yang terbaik, tekadku bulat.

Berbagi itu memang tak mudah. Siapa pun tak rela. Bahkan hingga hari-H itu datang. Air mata rasanya sudah habis. Ya Allah, semoga aku tidak salah memilih jalan. Hhmmm…berbagi bapak saja berat, apalagi berbagi suami.

Banyak hikmah setelah kepergian mama. Aku lebih memperhatikan keluarga, memperhatikan adik-adik. Bahkan, darah pun akan kuberikan bagi mereka. Aku lebih menghargai waktu, tidak ada yang namanya membuang waktu dalam kamus hidupku. Selagi bisa, aku melakukan hal-hal yang positif. Tak boleh mengeluh, apalagi berkata lelah. Aku lebih dekat dengan-Nya, sewaktu-waktu aku bisa dipanggil-Nya. Memicu semangatku hingga aku akhirnya lulus kuliah.

“Nduk, doakan mama bisa liat kamu wisuda yaa..”

Kata-kata itu kembali terngiang. Hari ini mama, malaikatku pasti tersenyum saat melihatku melewati ritual bertoga setelah berjuang selama 4,5 tahun. Mama, kupersembahkan ijazah ini untukmu.

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author