Menjadi Secerdas Einstein, Bisakah?

No comment 676 views

Otak Manusia

Otak disusun oleh 100.000.000.000 (100 miliar) neuron dan 100.000.000.000.000 (100 triliun) sel pendukung (sel gila). Jumlah yang sangat spektakuler ini (mungkin melebihi jumlah galaksi di alam semesta) membentuk gumpalan-gumpalan otak. Hasil interaksinya atau sirkuitnya membentuk pikiran, pengalaman dan pribadi manusia, walaupun tetap ada faktor-faktor nonfisik atau nonlinear. Kegiatan berpikir dan merasa dalam diri manusia, yang kemudian membentuk kesadaran dan pribadinya, dinisbahkan pada sel-sel saraf ini.

Dalam satu kepala manusia ada dua otak (otak kiri dan otak kanan), dan karena itu, ada dua pikiran (rasional dan intuitif). Otak kiri berkaitan dengan kegiatan-kegiatan rasional, analitis, bahasa, dan matematis. Sedangkan otak kanan banyak berisi struktur yang mengatur urusan emosi, musik dan intuisi. Otak kiri dan kanan bekerja secara berbeda. Siapa yang mengenal dan memanfaatkan kekhususan itu akan mendapatkan keuntungan yang sangat bermakna.

10 Jenis Kecerdasan

Dalam Neurosains (ilmu tentang otak), ada sepuluh macam kecerdasan.

Pertama, kecerdasan verbal. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu mengolah kata dengan sangat hebat. Orang-orang seperti Rowling (penulis novel Harry Potter), Tolkiens (penulis novel Lord of The Ring) serta Dan Brown (penulis novel The Davinci Code) termasuk di dalamnya.

Kedua, kecerdasan musikal. Idris Sardi (pemain biola) dan Jaya Suprana (pianis), seperti memiliki otak pada kepala dan jari sekaligus. Mereka memainkan biola dan tuts piano seolah tanpa bepikir karena “otak” mereka telah berpindah ke jarinya. Penyanyi serbabisa Hetty Koes Endang memiliki telinga dan otak yang peka terhadap bunyi dan nada. Telinga mereka tajam untuk membedakan bunyi serumit apapun.

Kamu tahu penari Sardono Kusumo (satu-satunya professor di Indonesia lulusan SMA), pebulu tangkis Rudi Hartono, serta pemain sepak bola Iswandi Idris? Mereka adalah manusia yang memiliki kemampuan olah fisik yang hebat. Semua bagian tubuh mereka yang luwes, cekatan, tapi mantap menjadi alat yang menampilkan kegeniusan. Orang-orang seperti ini memiliki kecerdasan kinestetik yang bagus.

Para arsitek, perancang busana, fotografer dan pilot memiliki kemampuan mental imaging yang bagus, mampu membuat visualisasi spasial yang terperinci dari semua yang diamati, mengolah gambar sedetail mungkin serta mampu mereproduksi semua yang mereka lihat. Kemampuan yang disebut kecerdasan spasial.

Seseorang yang memiliki keunggulan dalam menghitung, menalar, membuat rasionalisasi, dan berpikir runtut, seperti seorang akuntan, programmer kompuer, atau peneliti yang piawai dalam hal angka dan logika, berarti orang-orang seperti ini memiliki kecerdasan logis-matematis yang bagus

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan membangun komunikasi antar personal, membangun kerja sama sehingga mudah diterima dalam suatu kelompok. Orang seperti ini dapat memahami jalan pikiran dan kemauan orang lain dengan sangat mudah. Mereka adalah diplomat, pekerja humas, dan pengusaha.

Jika kamu cenderung menjadi perenung, suka mencari sesuatu di dalam diri, pintar mengolah jiwa, lebih menyukai hubungan yang intens dengan Sang Pencipta, suka bekerja sendiri, memilih tempat yang sunyi untuk melakukan sesuatu, dan mengolah semua hal dengan berorientasi pada diri sendiri, berarti kamu memiliki kecerdasan interpersonal. Orang yang seperti ini antara lain filosof (filsuf), teolog, mistikus, atau sejenisnya.

Tiga kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan natural, kecerdasan eksistensial, dan kecerdasan spiritual.

Apapun yang diketemukan mengenai sepuluh macam kecerdasan ini, ketahuilah bahwa kita semua unik. Yang Maha Esa memberikan otak yang spesial kepada setiap orang.

Otak Einstein

Albert Einstein, bagian parental bawah pada otak kirinya berkembang sangat baik, dan memiliki kemampuan pemetaan ruang (spasial) yang baik. Perkembangan bagian parental bawah pada otak kiri Einstein ini 15% lebih besar dibandingkan dengan orang lain (Einstein sengaja menyumbangkan otaknya kepada ilmuan untuk diteliti demi kemajuan ilmu pengetahuan). Selain itu Einstein juga memiliki kecerdasan logis-metematis dan kecerdasan musik.

Jadi…

Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa otak manusia menyediakan keunggulan pada tiap-tiap orang. Kita sering mendapati ada orang yang unggul dibidang-bidang tertentu, padahal di lingkungannya bidang-bidang tertentu itu kurang mendapatkan perhatian atau tidak tersedia suasana yang wajar dan mendukung. Oleh Sang Pencipta, otak manusia telah ditata sedemikian rupa sehingga menjadi alat yang canggih bagi manusia.

Apakah kita bisa menjadi secerdas Einstein? Jawabannya, tidak semua orang bisa memiliki kemampuan seperti Einstein, ini dikarenakan dominansi otak setiap manusia berbeda. Kita hanya dituntut untuk bisa me-manage potensi-potensi luar biasa yang ada pada diri kita masing-masing.

Setiap manusia memiliki dominansi otak dengan tipe kecerdasan yang berbeda-beda. Tugas kita adalah cerdas menggali potensi otak kita, tangkas melatihnya, cermat mencari jalan pengembangannya, dan lebih dari itu, menjadikan sebagai kekuatan kita untuk sukses. Tak ada yang menentukan kesuksesan kita selain kita sendiri—meski sekolah sekalipun. Jika kamu merasa kurang beruntung di sekolah/perguruan tinggi, yakinlah bahwa potensi otak kamu mungkin tidak bisa dinilai oleh sistem penilaian di tempat itu.

Karena itu, kita dituntut untuk mengetahui potensi yang kita miliki, dan meraih kesuksesan dengan berkarya. Jadi, mulai dari sekarang, kenalilah isi otakmu, mulailah berkarya, lakukan sesuatu yang baru dan bermanfaat, mulai dari sekarang, jangan menunda untuk memulainya dihari esok, atau lusa, atau tahun depan, kata pepatah “jangan selalu menunggu hari senin”

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : amdefi.wordpress.com )

author