My New Journey

No comment 488 views

“Welcome to your new journey, Iin”

Itu tulisan di kartu kecil yang saya terima saat kelahiran putri saya bersama sebuah topi bertulis Baby Love hadiah seorang teman, mantan rekan sekerja. Teman yang tak pernah dikaruniai seorang anakpun, tapi hidup dan bekerja dikelilingi oleh anak-anak.

Tadinya saya tak paham maksudnya. Saya anggap waktu itu hanyalah bermaksud mengucapkan selamat dengan nada berbeda. Dan kartu itu mengisi album foto Cindya, my first princess.Ternyata The New Journey itu memang sebuah perjalanan. Saya berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menjelajah hal-hal baru, dan bertemu orang-orang baru. Seperti sebuah perjalanan, saya merasakan berbagai macam emosi, kadang naik dan kadang turun. Terkadang menangis, terkadang tertawa, terkadang tangispun dicampur tawa.

Sebenarnya banyak sekali hal-hal menyenangkan agar kita bisa menikmati peran kita dalam petualangan baru menjadi ibu. Sayangnya, karena faktor kesibukan dan egoisme diri, kita kadang-kadang lupa menempatkan diri sebagai ibu yang menyenangkan untuk anak. Kita selalu berpikir hanya dengan memikirkan saat segala urusan si kecil sudah diatur maka semua sudah selesai.  Tamat. I’m a perfect Mom.

Tapi Ayah Bunda… kebahagiaan anak bukanlah karena pakaiannya yang selalu bersih dan rapi, makanan yang tinggal mangap, uang jajan yang selalu ada atau pekerjaan rumah yang selalu dibantu. Pengaruh mungkin ada, tapi bukanlah ukuran kebahagiaannya.

Saya mendapat satu surat dari Sahabat Bunda mengenai keluhannya pada anak-anaknya. Hubungan seorang Ibu pada anaknya, biasanya terbentuk menjadi buruk atau baik bukan karena masalah satu hari atau satu bulan tetapi karena waktu yang cukup lama.

Kok bisa? karena mungkin si ibu sudah menganggap mengurus anak adalah pekerjaan, bukan lagi sebagai suatu pekerjaan yang menyenangkan.

Saya, selalu dibilang anak-anak adalah Emak gagal karena jarang bisa menyelesaikan masalah sesuai dengan buku-buku pedoman pendidikan pengasuhan dan sebagainya. Tapi saya punya cara sendiri agar bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Saya juga masih belajar, dan masih untung karena anak-anak saya juga pandai mengajari Emaknya (atau membodohi?

Marilah kita sama-sama belajar membangun hubungan baik, mencari kegiatan-kegiatan menyenangkan bersama si kecil, mengajaknya berbicara, menasehatinya sambil bermain dan Ingat Ayah Bunda, tidak semua wanita di dunia ini punya kesempatan jadi Ayah Bunda.

Bulan Maret ini saya ingin membawa para Bunda (atau Ayah) untuk menikmati kebersamaan dengan si kecil. Membuat berbagai pernak-pernik, bermain fun tapi gak ribet dan menikmati kebersamaan dengan cara-cara menyenangkan baik melalui artikel maupun cerita agar bisa membangun kembali komunikasi yang baik, agar si kecil tahu Ayah Bunda tak perlu jadi sempurna untuk menjadi Ayah Bunda yang menyenangkan.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author