Ollie dan Bejo (Belajar Cinta)

No comment 451 views

“Gue titip ponakan gue ya, Li,” ujar Bejo berharap sambil mengerlingkan matanya memohon pada Ollie.

Ollie diam, satu belum selesai eh ini lagi. Dia belum memberi perhitungan waktu Bejo membohonginya karena penyamarannya waktu itu. Tapi Ollie suka anak-anak dan gadis kecil mungil berkepang dua berambut keriting itu terlalu manis untuk ditolak. Ollie suka sekali padanya, hanya dengan sekali lihat Ollie tahu anak itu gambaran dirinya saat masih kecil dulu. Mungil, manis dan lucu.. ehem.

“Please, Oli. Gue ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. Maminya Polie juga ada meeting. Pengasuh Polie minta berhenti waktu gue datang ke rumah tadi pagi. Gue ga sempat ngontek Maminya. Sementara ini gue titip Polie sama lo ya,” Bejo terus memohon.

Ups, namanya Polie. Hampir mirip nama gue… tuh kan gue juga bilang apa. Ini anak mirip banget sama gue.

“Mmmm… dia nakal ga?” tanya Ollie akhirnya.

Senyum Bejo merekah. “Gak, gak. Polie manis banget, ya kan Pol?” kata Bejo sambil menatap Polie. Polie diam, hanya mata indahnya yang memperhatikan Bejo dan Ollie bergantian.

“Oke, tapi jangan lama-lama ya,” dan Bejo tanpa menunggu dua kali, langsung berlari menuju mobil besar hitamnya.

Kini, tinggal Polie dan Ollie saling bertatapan.  Ollie berjongkok dan tersenyum pada Polie.

“Hai! Namaku Ollie. Aku… calon tantemu!” kata Ollie sok akrab. Polie masih menatapnya.

“Kamu pacar om yang keberapa?” tanya Polie. Ollie melongok. “Pacar om cantik-cantik, gak mungkin tante jelek seperti kamu jadi pacar omku yang ganteng.” Toeng!

Wajah Ollie berasa seperti dibakar. Bagaimana mungkin anak sekecil ini punya lidah setajam silet? Untuk sesaat Ollie ingin sekali menjawab, Heh Om lu yang naksir gue. Gue mah korbaaaan.. Korban yang kebetulan jatuh cinta sama pelakunya. Tapi Ollie teringat sesuatu. Mata Polie yang indah tapi melotot, mulut yang berbentuk bunga tapi setajam silet itu mengingatkannya pada seseorang. Ollie tersenyum, Polie memang benar-benar mirip dirinya.

Dulu, Papa selalu meninggalkan Ollie bekerja. Puluhan pengasuh keluar masuk rumahnya, semua hanya berorientasi pada uang atau berharap menjadi nona beruntung yang akan dipilih papa jadi pengganti Mama. Ollie begitu membenci semua orang, kecuali Papa.  Bagi Ollie, semua orang hanyalah ingin menginginkan sesuatu darinya. Sampai Bik Simin datang.

Ollie duduk di sofa, tetap menatap Polie. “Sudah berapa pengasuhmu, Pol?”

Polie menatapnya, ada heran di mata bulat itu. Ollie tersenyum, oke aku berhasil menarik perhatiannya. Ollie mengacungkan tangannya, berpura-pura mengingat jumlah pengasuhnya, lalu ia tersenyum lagi lebih lebar lalu berkata pada Polie, “17 orang!! ya tujuh belas orang! Hebat kan!”

“Aku sudah 4 orang!” jawab Polie tak mau kalah. Ia melangkah mendekati sofa Ollie.

Ollie mendelik. “Wow! Umurmu baru segini sudah empat orang. Waaah, bukan main!”

Senyum tipis terlihat di bibir Polie. Tanpa menunggu, Polie duduk di sofa di depan Ollie. Wajahnya tak lagi setegang tadi. “Mereka bodoh!” ujar Polie pendek.

“Oh ya, sama dong. Dulu para pengasuhku juga bodoh, ” timpal Ollie. “Lalu seseorang yang sangat pintar datang ke rumahku,” sambung Ollie.

Polie memiringkan kepalanya, ia tertarik mendengar kalimat Ollie. Ollie tahu itu, dan ia sengaja menunda kata-katanya.

“Kamu mau susu?” tanya Ollie mengalihkan perhatian Polie. Polie merengut. Ia menggeleng.

“Siapa orang pintar itu? Mamiku pasti bisa menggajinya,” kata Polie sombong. Ollie tertawa kecil

“Dia memang pintar. Saking pintarnya, dia gak bakalan mau kerja sama sembarangan anak.”

“Oh ya, memangnya dia sepintar apa?”

Mata Ollie menerawang, mengingat almarhumah Bik Simin yang mengajarinya tentang cinta. “Dia ahlinya cinta,” jawab Ollie.

Polie diam. Ollie kembali berkata, “dulu aku tak tahu caranya mendapatkan perhatian Papa. Dulu aku juga suka marah-marah. Sampai orang ini mengajariku caranya supaya semua orang mencintaiku.”

“Caranya?”

“Hmm, kamu benar pengen tahu?”

Polie mengangguk. Ollie harus menahan napas. Polie benar-benar perlu diajari, dia haus dan lapar karena butuh cinta.

Ollie mendekati Polie. “Tapi kalau aku ajarin Polie, Polie juga harus mau belajar. Harus dipraktekin, kalau nggak entar ilmu cintanya ngilang. Serius mau belajar?”

“Iya, tante. Aku mau… mau, cepat tante ajarin. Aku anak pintar kok. Sebentar saja pasti bisa ngerti. Aku janji.”

Ollie tersenyum, ia makin mendekati pada Polie. “Oke, caranya begini. Kalau kita memandang orang lain, anggap saja seperti memandang cermin. Kalau kita melotot padanya, maka orangpun akan melotot pada kita. Kalau kita memandang orang dengan sayang, maka orangpun akan memandang kita dengan sayang.”

“Masak sih?”  Polie terlihat tak percaya. Ollie mengangguk dengan yakin.

“Kalau kamu gak percaya coba aja. Coba sekarang pandangi tante, terserah mau merasa marah atau merasa sayang.”

Polie menatap Ollie. Raut  wajahnya melembut dan senyum tipis tersembunyi di bibir mungilnya. Ollie harus menahan diri untuk tidak memeluk wajah memelas di hadapannya. Tapi teringat pesan Bik Simin, Ollie pun hanya tersenyum.

“Polie sedang memandang tante dengan sayang. Nah, tante juga sayang Polie,” ujar Ollie. Ia menjawil dagu mungil Polie.

Polie tertawa, giginya yang ompong terlihat membuatnya kelihatan seperti anak pada umumnya. Yah, aku berhasil. Sedikit lagi.

“Sekarang, satu lagi. Masih mau lanjut gak?” Polie mengangguk kuat-kuat. Kuncirnya bergoyang-goyang.

“Kalau kita sayang sama orang, kita harus belajar cara membuatnya agar tetap subur. Tanaman aja kan gak cukup kalau hanya diperhatiin, tapi juga harus disiram. Nah cinta juga begitu.”

“Gimana caranya, tante? Ayo ajarin Polie!” kata Polie tak sabar.

“Caranya begini. Pertama kita belajar saling menyalami, seperti ini.” Ollie meraih jemari Polie. “Lalu mencium pipinya seperti ini,” Ollie mencium pipi Polie lembut. “Dan terakhir kita harus mengakhirinya seperti ini.” Ollie memeluk tubuh mungil Polie, menggoyang-goyangkannya.

Ollie melepaskan pelukannya. Wajah Polie tampak bingung. “Kenapa? Rasanya beda kan?” Polie mengangguk ragu.

“Naah, sekarang Polie coba sama tante ya. Habis itu Polie rasakan sendiri lagi. Oke?”

Polie mengulangi semua pelajaran Ollie dengan benar. Ia menyalami Ollie, mencium, lalu memeluk Polie dengan hangat. Ollie harus menahan keharuannya. Anak kecil ini begitu merindukan kasih sayang. Dia bahkan tak ingin melepaskan pelukannya.

“Tante, aku pengen jadi anak tante saja. Boleh gak?” pinta Polie saat Ollie membalas pelukannya.

Ollie terdiam, ia meneguk liur. Polie benar-benar haus kasih sayang. Bahkan hal sekecil ini saja bisa begitu menyentuh perasaannya.

“Boleh Papa join, Ollie?” suara Papa yang tiba-tiba muncul, membuat Ollie dan Polie menoleh padanya. Senyum ingin tahu Papa membuat Ollie memiliki ide baru.

“Pol, tadi udah tante ajarin kan caranya?” Polie mengangguk. “Sekarang Polie coba sama Opa itu, dia itu Papanya tante. Polie bisa?” Kembali Polie mengangguk.

Polie melangkah mendekati Papa, menyalaminya lalu melanjutkannya sesuai dengan ajaran Ollie, mencium dan memeluk Papa. Papa juga membalas pelukan Polie dengan hangat. Sudah lama ia ingin merasakan pelukan seorang anak kecil, sekarang seorang anak semanis Ollie saat masih kecil dulu mau memeluknya tentu saja Papa menikmatinya.

Ollie menatap keduanya berpelukan dengan mata berkaca-kaca. Polie memang benar-benar mirip seperti dirinya. Anak-anak yang dipelihara dari satu pengasuh ke pengasuh lain. Yang lebih tahu cara memerintah orang lain, daripada belajar mencintai. Ollie beruntung bertemu Bik Simin, yang lebih berlaku seperti ibu dibandingkan pengasuh. Almarhumah yang memilih hidup tanpa anak dan suami karena pacarnya meninggal dalam kecelakaan kerja itu memang telah mengajarinya banyak hal dan belajar tentang cinta adalah salah satunya. Ollie berjanji, jika ia benar-benar jadi tante Polie, maka ia akan mengajari semua cara memberi cinta yang diajari Bik Simin padanya.

“Tante, Opa ngajak Polie berenang. Kita berenang yo, Tan!” ajak Polie. Dia sudah tak sependiam tadi. Sekarang gadis kecil itu sibuk melonjak-lonjak di hadapan Ollie, tak sabar ingin berenang. Ollie akan mengangguk tapi tiba-tiba….

“Yaaaah, kok hujaaan sih!” keluh Polie. Wajahnya kecewa sekali. Ollie juga kecewa, tapi Papa justru tersenyum.

“Oh tidak, Pol. Ini justru tambah asik. Ayo lepas sepatumu! Kita main hujan!” ajak Papa. Ia sudah melepas sepatu, jas dan dasinya. Ia juga mulai menggulung celananya. Orangtua bertubuh tambun dan berambut hampir botak itu terlihat seperti anak kecil saat mengajak Polie bermain hujan.

Papa dan Polie berlarian keluar rumah dan mulai berlompatan di rerumputan. Menikmati derasnya hujan sambil tertawa-tawa. Dan Ollie pun sudah terlalu lama tidak melakukannya. Ia segera melepas sweater dan sepatu sandal yang dikenakannya. Bergabung bersama Papa dan Polie, menikmati hujan, mencurahkan kasih sayang dan menyambung cinta di hati Polie. Semoga Polie, mampu mengajari orang-orang di sekitarnya.

Aku cinta kamu, Bejo. Aku juga cinta Papa dan aku ingin mengajari semua anak seperti Polie agar punya cinta sebesar cintaku padamu dan Papa.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : bundaiin.blogdetik.com )

author