Peranan Ayah Dalam Keluarga

No comment 1131 views

Sosok laki-laki dalam keluarga, baik sebagai ayah maupun suami, selayaknya memiliki karakter “family man”. Dengan begitu kehormatan sebagai laki-laki tetap terpelihara sehingga keberadaannya menguatkan keluarga. Family man melambangkan supremasi laki-laki dalam keluarga, namun juga harus diimbangi dengan kesetaraan dengan melihat istri sebagai mitra dalam berumahtangga, serta kehangatan yang membuatnya selalu diinginkan dan dihargai oleh seluruh anggota keluarga.

Psikolog Tika Bisono menganalogikan peran family man seperti dalam struktur kepengurusan sebuah organisasi. Dalam analogi ini, peran pria di keluarga terbagi menjadi enam. Laki-laki dikatakan sebagai family man jika memiliki peran pelindung, penasihat, pengarah, penyantun, pelaksana, dan pengaudit.

“Laki-laki sebagai family man tahu kapan harus menjadi pelindung, penasihat yang mengarahkan istri, namun juga tetap terjun bareng istri dalam mengurus rumah tangga. Menyantuni keluarga tak hanya berarti memberikan nafkah, tetapi juga dukungan moral, bahkan mengaudit. Peran ini merupakan siklus yang harus diterapkan di rumah oleh laki-laki. Meskipun begitu, jangan menjadi feodal yang melebihkan peran laki-laki yang semua perkataannya harus dituruti. Laki-laki perlu menjaga dan memiliki kehormatannya sebagai family man, dan menyeimbangkannya dengan prinsip kesetaraan. Peran ini perlu dijalankan laki-laki dalam konteks partnership bersama pasangan dan keluarga,” jelas Tika kepada Kompas Female, usai pengumuman pemenang program “M-150 Mencari Pahlawan. Anda Bisa!” di Kempinski Ballroom Grand Indonesia

Kehormatan yang melekat pada diri laki-laki inilah yang menjadikan seorang pria menjadi family man, lanjut Tika. Ketika kehormatan ini hilang, atau tidak dihadirkan dalam keluarga karena sosok ayah dan suami tak dianggap atau dihargai oleh anak dan istri, maka jangan heran jika sebuah keluarga tak punya sosok kepala keluarga.

Sosok pria yang bertanggungjawab dalam keluarga ini sebenarnya adalah pribadi yang berpikir sederhana, bahwa ia akan melakukan segala cara untuk keluarganya. Ia merasa bangga menjadi suami yang menafkahi istri dan anak-anaknya sesuai kemampuannya, dan dihargai karenanya. Ia merasa terhormat karena keberadaannya diakui oleh istri dan anak, apapun kondisinya. Pengakuan dan penghargaan dari keluarga ini juga lah yang melanggengkan karakter family man dalam keluarga.

Sumber: kompas.com

author