Perasaan Ajaib

No comment 676 views

Ulin hampir nggak percaya apa yang barusan Adon katakan. Ditatapnya cowok yang sedang di depannya lebih lekat. Ditatanya kembali hatinya yang dalam sedetik hancur berantakan berkat Adon. Ulin mengambil nafas panjang. Merangkai kalimat. Menikam manik mata Adon.
Kau telah membuatku jatuh cinta, Adon. Kaulah satu-satunya yang mampu membuatku merasakan perasaan ajaib yang nggak pernah aku duga akan bisa merasakannya. Apa jadinya aku bila tanpamu? Adon mencoba menghindari telaga mata Ulin yang menatapnya tajam. Ada gelombang disana, siap menelannya. Semilir angin taman mempermainkan poni rambut Ulin. Damn, gimana ini? Bayangan senyum manis Allya seperti menariknya agar menjauhi Ulin.
Aku.. nggak bisa Lin. Aku.. aku sepertinya sudah kehilangan perasaan ajaib itu. Maaf. Adon menunduk. Dasar pengecut! Hardiknya pada diri sendiri! Mengapa jadi ribet begini. Dia kira akan mudah mutusin cewek yang selama 3 tahun ini, sejak mereka sama-sama kelas 2 SLTP ini, selalu menemaninya, menjadi sahabat sekaligus kekasihnya.
Karena Allya kah? tebakan Ulin langsung menikam jantungnya. Adon benar-benar kehilangan muka. Wajahnya memerah. Adon rasanya ingin mengecil agar bisa sembunyi dari pandangan Ulin.
Ulin menghembuskan nafas panjang. Tersenyum pahit. Ia sudah menduganya. Allya.. dia hadir diantara kami. Sejak Allya pindah ke sekolah ini, dia selalu mencari masalah denganku. Ditambah dengan kenyataan kalau Ayah akan menikahi mama Allya, yang ternyata juga sekretaris Ayah di kantor. Tak perlu alasan lain lagi untuk tidak memusuhinya. Apalagi kecurigaanku kini terbukti. Allya pun menaruh hati dengan cowokku, Adon.
It’s oke, kalau itu keputusanmu. Aku harap kau bahagia, Don. Ulin berdiri, menyibakkan roknya yang kotor karena rumput. Ulin memang kuat! Aku Adon sambil ikut bangkit. Adon menyambut uluran tangan Ulin dengan setengah hati. Benarkah aku telah menyakiti hatinya? Selama 3 tahun, baru sekali ini Adon melihat Ulin terlihat sedih. Meski disembunyikan, Adon tahu Ulin terluka. Andai aku bisa memiliki kalian berdua,.. harap Adon kosong.
Kau berhasil menyakitiku, cowboy! bisik Ulin sedikit bercanda sambil memukul lembut bahu kanan Adon. Cowboy,.. itu julukan Ulin untuknya. Iya, aku cowboy, Lin, dan sebentar lagi mungkin menjadi playboy!
Adon menatap Ulin yang berlalu meninggalkannya. Batinnya perang, benarkah apa yang telah dilakukannya? Pantaskah aku melepas bidadari baik hati itu demi Allya? Bayangan Ulin menghilang, berganti dengan sosok Allya yang perlahan mendekatinya. Adon tersenyum menyambutnya.
Udah selesai urusannya dengan Ulin, kan?bisik manja Allya memabukkannya. Di dalam mobil, Ulin bisa melihat kemesraan mereka dari kejauhan. Kamu menang Allya! Kali ini kamu menang! Ulin langsung tancap gas meninggalkan taman kenangan tempat Adon menyatakan cinta, sekaligus mencampakannya. Ulin membelokkan mobilnya menuju rumah sakit.

Bau obat-obatan yang khas langsung menyergapnya begitu masuk ke kamar bundanya dirawat. Sesosok tubuh terbujur lemah di tempat tidur yang bernuansa serba putih itu. Mbak Ijah tampak sedang sibuk membereskan meja. Ulin tersenyum. Diambilnya kertas gambar di rak. Lalu Ulin menulis sesuatu.
Bunda,.. dunia ini terlalu kejam untukku. Kadang-kadang aku nggak kuat untuk menghadapinya. Aku tidak bisa pura-pura kelihatan kuat terus. Saat aku jatuh, aku butuh pegangan. Bolehkah aku berpegangan padamu, bunda? Ulin memperlihatkan kertas yang ditulisinya pada bunda nya yang masih terbujur karena stroke. Mata bundanya berkedip-kedip membaca setiap barisnya. Ada telaga penuh luka, sama persis yang dipunyai Ulin. Tangan bunda bergerak-gerak seperti ingin memeluknya. Ulin mengerti. Didekatkan kepalanya lembut ke atas dada bunda. Bundaku sayang cepatlah sembuh, anakmu membutuhkanmu..

Ulin melempar tasnya sembarangan di ruang tamu. Hari ini sangat melelahkan. Dicampakkan Adon di taman, mencari perlindungan di rumah sakit tempat bunda di rawat, dan sekarang ia sampai di rumah tak ada yang menyambutnya. Sudah cukupkah apa yang dialaminya hari ini? Rumah ini sepi, sangat sunyi. Sejak bunda mengalami stroke gara-gara berita ayahnya mau menikah lagi, rumah ini seperti mati. Untung aku tidak punya saudara. Jadi aku tidak akan melihat telaga yang sama penuh luka. Cukup miliknya dan bunda.
Ulin beranjak ke dapur, masak seadanya. Ah, ternyata Mbak Ijah sempat membuatkan makan malam untuknya sebelum berangkat ke rumah sakit. Biasanya ada Mbak Ijah yang mengurus keperluan keluarganya. Tapi seharian Mbak Ijah merawat bunda di rumah sakit. Bunda jauh lebih membutuhkan mbak Ijah daripada dirinya. Seminggu seperti ini. Ulin beberapa kali absen kegiatan ekskul dan band nya. Ah, di saat-saat seperti ini biasanya ada Adon yang selalu menemaninya. Ulin ingat, Bunda sudah menganggap Adon seperti anak sendiri. Mau mandi, makan, ngobrak-abrik taman belakang dan dapur, main catur,.. semuanya diperbolehkan bunda. Mungkin karena Adon sudah biasa main ke rumah dan selalu mendapat suntikan cerita positip dariku, makanya bunda membuka pintu lebar-lebar untuk cowok yang selama 3 tahun sudah memberinya cerita indah. Tapi kejadian tadi benar-benar menyakitinya. Sama sakitnya dengan kepergian Ayah demi wanita lain, mamanya Allya. Kenapa cinta bisa menyakiti? Ah, bodoh! Bunda dan Ayah yang sudah menikah selama 20 tahun saja bisa berpisah, apalagi aku yang baru 3 tahun pacaran. Don’t give up, Ulin! Ulin mengambil air wudhlu, mencoba melabuhkan dukanya pada Yang Maha Esa.

Kak Ulin datang.. kak Ulin datang.. teriakan-teriakan dari mulut mungil menggemaskan itu menyambutnya saat tiba di panti asuhan Melati sepulang sekolah. Ah, sudah lama ia tak kesini. Ibu Reni, pengasuh panti ini, tampak kewalahan ditarik-tarik anak-anak umur 5 tahunan penghuni panti asuhan itu untuk menyambut kedatangannya. Ulin tak kuasa menahan senyumnya. Inilah penghiburanku!
Wah tumben nak Ulin datang, senyum arif wanita bijak pengelola panti asuhan ini menyejukinya. Ulin tersenyum tak bisa mengucap sepatah katapun. Dadanya sesak! Lalu diisyaratkan anak-anak itu untuk mengambil makanan kecil yang tersimpan di bagasinya. Kunci mobil dilemparkannya pada Ujang, anak asuh yang tertua. Tanpa dikomando dua kali, anak-anak itu sudah mengerumuni Ujang. Bu Reni mengajak Ulin ke dalam.
Bagaimana keadaan Bunda nak Ulin?tanya bu Reni prihatin.
Seperti biasa, bu. Kata dokter semuanya tergantung kemauan bunda dan doa kita, Ulin menelan ludah, pahit rasanya.
Nak Ulin gadis yang baik. Doa nak Ulin pasti didengar Nya,bu Reni tersenyum bijak.
Amien.Ujar mereka bebarengan.
Ingin nengok anak-anak bu. Ada perkembangan baru selama saya lama tidak datang?
Hmm, ini nak.. sebenarnya ibu nggak tega mau ngomongin hal ini karena kondisi nak sendiri yang nggak begitu baik. Ibu hanya ingin ngasih tahu saja, kalau mulai bulan depan, ayah nak Ulin menghentikan dana untuk panti asuhan ini Dwar! Rupanya badai yang dialaminya belum cukup.
Kapan Ayah bilangnya? Kenapa? Ulin tersekat.
Kemarin, di telepon. Beliau sih nggak menjelaskan alasan rincinya soalnya seperti terburu-buru. Tapi nak Ulin nggak usah khawatir, anak-anak kan sudah bisa membuat souvenir buat dijual. Lumayan buat tambah-tambah makan mereka,
Lalu sekolahnya gimana? Baju? Ayah keterlaluan! emosi Ulin tak terbendung lagi.
Sabar nak.. sabar.. bu Reni mencoba menenangkannya.
Bu, saya pamit dulu. Sampaikan salam saya pada anak-anak. Lain kali saya datang lagi. Tolong jaga mereka.. Ulin bergegas keluar menghampiri mobilnya yang menggigil di luar. Ulin masih bisa melihat lambaian tangan anak-anak tak berdosa itu menyemangatinya.

Ulin seharian resah di ruang kelas, nggak konsen sama pelajaran hari ini. Pikirannya sibuk mencari cara untuk menolong anak-anak panti itu. Ulin bahkan malas keluar waktu jam istirahat tiba. Adon yang dari tadi memperhatikan Ulin di bangku belakang ikutan resah. Jangan-jangan ini karena ulahnya kemarin, tebaknya. Tiga tahun selalu bersama dan sekelas bukan waktu yang singkat untuk melupakan Ulin begitu saja. Adon memberanikan diri mendekati bangku Ulin. Di ruangan kelas ini hanya ada mereka berdua.
Nggak keluar? Biasanya kamu ke perpustakaan Adon ragu-ragu menyapanya. Suaranya lirih, hampir mirip bisikan. Ulin mendongak mencari-cari keteduhan yang dulu selalu ditemuinya di mata Adon. Keteduhan itu masih ada disana tapi bukan lagi miliknya! Ulin tersenyum kecut.
Kamu baik-baik saja? tanya Adon lagi lebih keras. Ulin memicingkan matanya.
Oh cowboy… jangan ge er. Aku sedih bukan karena kamu putusin, Don. Tenang saja. banyak masalah yang lebih besar dibandingkan ulahmu! Adon merasa ditampar.
Kok, kamu jawabnya gitu sih? Iya, aku akui aku memang salah telah menyakitimu. Aku minta maaf. Tapi persahabatan dan kebersamaan kita selama tiga tahun nggak akan rusak gara-gara itu, kan? Kita masih bisa berteman Lin. Aku bisa menjadi temanmu seperti dulu. Tempat kamu curhat. Kamu jangan sok kuat, deh.
Adon! lengkingan suara dari luar kelas bisa ditebak milik siapa. Allya! Ulin menelan ludah. Pahit!
Nggak, don. Situasinya udah beda sekarang. Jangan coba-coba jadi pahlawan! ujar Ulin lalu keluar kelas. Tak diperdulikannya Allya yang menatapnya dengan pandangan ingin menerkamnya.

Ayah, Ulin ingin ketemu,suara Ulin seperti tersangkut di tenggorokan.
Makan malam sama Ayah, yuk? suara ayahnya di telepon terdengar sangat gembira. Ulin mengiyakan nama restoran langganan keluarganya kalau ingin makan malam diluar. Aku harus bicara dengan ayah, tekad Ulin bulat sambil menutup telepon. Ulin mengambil kertas gambar dan menuliskan pesan untuk bundanya seperti yang setiap hari ia lakukan untuk berkomunikasi dengan bundanya. Kata dokter ini termasuk terapi yang akan membantu kesembuhan bunda.
Bunda, nanti malam Ulin janji makan malam dengan ayah. Panti asuhan harus diselamatkan dengan dana dari ayah. Do’ain Ulin, ya? begitu tulisnya. Mata bunda berpendar-pendar membaca tulisan itu lalu menatapnya dengan pandangan iba.
Ulin tahu. Bunda pasti selalu mendukung Ulin, Ulin merebahkan kepalanya. Diletakkannya tangan bunda di rambutnya. Mbak Ijah terharu melihat pemandangan di depannya. Hatinya dipenuhi dengan doa.

Ulin sedikit terlambat. Ayahnya tampak masih sibuk dengan laptop-nya. Ah, Ayah, nggak berubah juga.
Ayah.. laki-laki setengah baya itu menutup laptop-nya dan menatap gadis muda yang duduk di depannya. Ia melihat garis-garis kecantikan yang pernah dikaguminya 40 tahun yang lalu..
Apa yang ingin kamu bicarakan?straight to the point, itulah ayah. Keras, seperti dirinya.
Soal dana panti asuhan. Kenapa ayah menghentikannya?tanya Ulin cepat.
Oh, masalah itu. Ada pengetatan dana di perusahaan. Bukan dihentikan, cuma dikurangi,jawab Ayahnya pasti sambil menikmati cappuccino nya.
Jangan dikurangi, Yah. Jumlah anak panti kan selalu bertambah. Dari mana mereka mencari kekurangan dana mereka kalau ayah menguranginya?
Ulin, Ayah ingin tanya. Apa urusan Ulin dengan mereka? Toh, Ulin nggak kenal dengan mereka. Mereka bukan teman bukan saudara. Rasanya bantuan kita sudah cukup banyak pada mereka. Lagi pula, panti itu nggak menghasilkan apa-apa untuk Ulin atau ayah.
Ayah salah. Panti itu berarti banyak buat Ulin. Di panti itu, Ulin menemukan keluarga yang tak pernah Ulin punyai.. Limpahan kasih sayang yang bahkan tak pernah Ulin dapatkan dari.. ayah,jawab Ulin agak pilu sarat rindu.
Lelaki yang biasanya terlihat perkasa itu tercengang. Benarkah apa yang didengarnya? Selama ini ia telah berperan menjadi ayah yang sempurna. Mencukupi apa kebutuhan Ulin dan keluarga, bahkan lebih. Lalu istrinya mulai sakit-sakitan dan ia harus mencari kesenangan di luar. Apa ini salah? Ulin, anak satu-satunya, mengalahkan limpahan hartanya demi panti asuhan itu? Sulit dipercaya!
Apa yang ayah cari? Ulin lebih memilih kedamaian, yah. Untuk Ayah, bunda dan Ulin. Ulin menginginkan cinta yang sederhana. Sebuah keluarga yang dilingkupi dengan kedamaian dan cinta. Panti asuhan itu telah menjadi bagian dari kebahagiaan Ulin, Ayah nggak bisa merebutnya begitu saja… seperti Ulin yang nggak akan mengganggu kebahagiaan Ayah dengan wanita yang Ayah anggap bisa menggantikan Bunda. Ayah yang mengajarkan Ulin untuk mandiri, kuat, dan berani dengan apa yang Ulin yakini. Ulin yakin dengan tindakan Ulin kali ini, yah. Pidato singkat keluar dari mulut anak kesayangannya. Iya, apa yang sebenarnya ia cari? Saat semuanya ada tiba-tiba menjadi tidak ada..
Oke. Ayah nggak akan mengurangi dana panti itu,keputusan ayahnya membuatnya terlonjak. Dipeluknya pria yang telah menanamkan sifat keberanian itu erat-erat. Sungguh, Ulin nggak mau kehilangan lagi!

Ulin diantar ayahnya sampai pagar rumah Ayahnya janji akan lebih rajin menjenguk bunda bersama dirinya. Ah leganya.. Ulin membuka pintu pagar setelah deru mobil ayahnya berlalu.
Adon?Ulin tak percaya melihat Adon duduk lesu di tangga teras rumahnya. Adon buru-buru bangkit dan merapikan rambutnya dengan jari. Malam ini cerah sekali.
Kamu kemana saja? Aku telepon dari tadi siang mailbox melulu. Aku mencemaskanmu. Ulin tersenyum sekaligus heran. Telepon genggamnya memang sengaja ia matikan sejak siang tadi. Ulin mengambil tempat di samping Adon. Berdua mereka duduk di tangga teras sambil melihat jalanan dan langit yang cerah berhiaskan bintang dan bulan.
Kapan ya terakhir kita seperti ini?bisik Ulin.
Kalau nggak salah pas kamu ulang tahun. Setelah itu kamu sibuk dengan bunda yang masuk rumah sakit dan seabrek urusan lainnya. O iya, tadi aku udah nengok bunda. Kondisinya makin membaik. Kamu hebat Ulin.. sanjung Adon tulus. Ulin tersenyum.
Saking hebatnya sampai kadang-kadang aku merasa nggak pantas mendampingimu,” lanjut Adon. Ulin mengernyitkan dahi. Wajah Ulin makin bersinar terkena sinar bulan.
Mengapa kamu berkata seperti itu? Dengan semua yang telah terjadi padaku, pada keluargaku, aku memang harus kuat. Aku terpaksa kuat, Don. Kalau tidak, mungkin aku lebih baik bunuh diri saja, ups.. Adon refleks menutup lembut mulut mungil Ulin dengan telapak tangannya. Ulin menahan nafas. Tuhan.. apa yang akan terjadi?
Kamu nggak boleh berkata seperti itu, Adon lalu menggenggam tangan Ulin.
Banyak orang membutuhkanmu, menunggu kau menularkan sinarmu pada orang lain, juga padaku. Kau matahariku, Ulin. Maaf, aku telah silau dengan sinar palsu yang sejenak saja keindahannya. Allya.. aku terperangkap dalam jeratnya. Kenapa kamu nggak bilang kalau dia anak wanita yang merebut ayahmu?Ulin perlahan melepas jari Adon.
Apa itu penting, Don?Ulin tersenyum sambil menatap bulan. Semua masalahnya satu persatu bisa diselesaikannya. Seperti sinar bulan yang lembut memberi terang bumi ini dan selembut hati Adon yang diam-diam selalu memberinya kekuatan. Adon menggeleng.
Nggak penting lagi. Semuanya akan baik-baik saja.. aku berjanji. Kamu mau memaafkanku?Ulin mengangguk. Ulin telah menemukan keteduhan di mata Adon, nyata untuknya.
Apa kabarnya ‘perasaan ajaib’ itu?canda Ulin.
Adon tersenyum. Diambilnya tangan Ulin, di dekatkannya ke dadanya.
Disini, ‘perasaan ajaib’ itu tinggal. Penuh. Apa kau merasakannya?
Ulin tersenyum. Tangan mereka saling menggenggam sangat erat.

Sumber: ideceria.com

author