Piyu: Hidup untuk Menghidupi Orang Lain

No comment 1617 views

Segala stereotipe, label, dan atribut yang dilekatkan masyarakat pada “anak band,” langsung lenyap seketika, begitu kita bertemu dan berbincang dengan Satriyo Yudi Wahono – gitaris grup musik Padi yang lebih dikenal dengan nama PIYU. Paling tidak, begitulah impresi yang muncul ketika redaksi Majalah LuarBiasa berkunjung ke studionya yang berada di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat.

Gambaran tentang seniman yang easy going, tidak tepat waktu, serta kurang disiplin, tak sedikit pun mewakili personifikasi produser dan pencipta lagu yang menyandang gelar sarjana ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya ini. Terlebih kalau kita ikuti kiprahnya, sejak mulai berjuang merintis karier musik hingga mencapai kejayaannya.

Awal Perjalanan

“Tahun 1994 akhir-saat belum selesai kuliah-saya sudah memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Padahal pada waktu itu saya tidak punya modal apa-apa, kecuali sebuah gitar. Berbekal uang Rp75.000 di kantong, saya naik kereta ekonomi GAYA BARU yang harga tiketnya sekitar Rp10.000. Selama di Jakarta saya tinggal di rumah seorang teman yang punya bengkel. Saya tinggal di situ, sekaligus bekerja di bengkel itu sebagai cleaning service, tukang cuci mobil, pokoknya apa saja saya kerjakan, asal bisa dapat uang buat makan. Setelah setahun – belum jadi superstar, bahkan sempat bikin band tapi gagal – saya pun memutuskan pulang kembali ke Surabaya untuk menyelesaikan kuliah.

Persis setelah menyelesaikan skripsi, saya ketemu dengan teman-teman yang kemudian menjadi personel Padi pada akhir tahun 1996. Dari situ kami mulai membuat demo dan mempersiapkan segala macam, kemudian kembali ke Jakarta untuk menawarkan demo ke produser rekaman. Eh, pas mau menawarkan demo, tiba-tiba saya ditelepon oleh Andra-gitarisnya Dewa 19-untuk diajak menjadi kru. Tawaran itu langsung saya terima. Maka jadilah saya petugas angkat-angkat barang dan teknisi bagi grup Dewa, selama kurang lebih 6 bulan.”

Piyu menceritakan, “Waktu itu sebenarnya saya sudah mulai menawarkan demo, tapi kebanyakan ditolak. Ada yang bilang vokalisnya tidak cocok, lagunya terlalu idealis, dan lainnya. Tapi saya tetap terus berusaha. Dan setelah saya menjadi krunya Dewa, kesempatan dan akses saya ke beberapa label jadi semakin dekat.”

Lain Dunia

Kegigihan anak-anak Padi tak sia-sia. Album pertama LAIN DUNIA, yang mereka rilis pada tanggal 6 Agustus 1999, memperoleh Multi PLATINUM dan terjual lebih dari 800.000 kopi. Dua tahun kemudian, album kedua – SESUATU yang TERTUNDA, bahkan lebih fenomenal, karena berhasil terjual 2 juta kopi lebih. Tak heran, kalau pada tahun 2001, PADI menerima Indonesian Music Awards, dan memenangkan 8 kategori, termasuk Best Album, Best Song, dan Best Recording Production. Dan, pada akhir tahun itu juga, mereka berhasil menyempurnakan pesta suksesnya dengan memenangkan MTV ASIA’s Most Favorite Band Award.  Sejak saat itu, kesuksesan demi kesuksesan seakan tak dapat dibendung datangnya. PIYU pun mulai aktif menjadi produser dan penulis lagu bagi artis lain, seperti Ari Lasso dan Iwan Fals, menyusul kemudian Drive, Titi Kamal, Armada, dan juga Tompi. Belakangan, ia bahkan memprakarsai sebuah proyek yang bertujuan mengorbitkan bakat-bakat muda, yang bertajuk PIYU-Search TheNEXT Surabaya Super Band.

Ultimate Gift

Berbicara tentang The Ultimate GIFT – atau hadiah tertinggi yang pernah diterima sehingga akan selalu disyukurinya-PIYU menjelaskan, “Saya rasa hadiah yang tak ternilai itu berupa rasa dan perasaan saya yang selalu gelisah, dan yang tidak pernah berhenti berpuas diri. Sampai sekarang pun saya juga tetap seperti itu. Perasaan inilah yang selalu saya gali terus, bagaikan sumber yang tak pernah ada habisnya. Makanya, sampai sekarang saya selalu meyakini dan menyadari, bahwa apa pun yang kita inginkan akan bisa terwujud, asal kita selalu persistent atau tekun. Persistensi inilah yang sangat saya syukuri, bahwa itu ada dalam diri saya. Bahkan saya selalu yakin, seandainya persistensi ini dimiliki oleh setiap warga negara, maka pasti Indonesia akan menjadi negara superpower.”

Piyu menambahkan, “Kalau dari orangtua, saya menerima hadiah tertinggi dalam bentuk nasihat. Ada satu nasihat yang paling saya ingat dari bapak saya. Mungkin karena kebetulan bapak saya mantan seorang pejuang ya, jadi orangnya sangat disiplin dalam mendidik saya. Almarhum bapak saya selalu mengatakan, ‘Kamu harus bisa menghargai orang lain terutama dalam soal waktu. Jadi kalau membuat janji, kamu jangan sampai terlambat memenuhi.’”

Lalu-setelah hampir semua mimpinya terwujud-apa tujuan tertinggi atau purpose of life yang masih akan terus diperjuangkan sampai akhir hayat nanti? Dengan nada suara yang rendah, PIYU menjelaskan, “Kalau saya sih, dengan melihat orang lain bisa berhasil atau sukses karena saya, akan membuat saya sangat bahagia, karena itu adalah purpose saya. Yaitu, bisa memberi manfaat bagi banyak orang, bisa inspiring bagi banyak orang, dan bisa memberi pekerjaan bagi banyak orang.

Meskipun mungkin saya tidak seperti seorang pemilik pabrik, yang memiliki 5000 sampai 10.000 karyawan, dan bisa memberi pekerjaan bagi begitu banyak orang. Tapi saya akan lebih suka, kalau hanya melalui satu atau dua orang saja, tetapi bisa mengguncangkan dunia. Ibaratnya seperti itu, saya lebih memilih yang seperti itu.”

Begitulah perbicangan singkat dengan Piyu, gitaris yang lahir pada 15 Juli 1973 di Surabaya ini. Semoga kisah tentang kegigihan dan perjuangannya dapat menginspirasi kita semua.

Penulis : Tim Andrie Wongso

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author