Renungan Hidup

No comment 560 views

Indah dalam sorotan, hingga menyentuh dalam pandangan.

Bening di sudut kelopak meneteskan sebait makna.

Tak ada yang mengerti dengan apa yang tersirat, walau tatapannya begitu sempurna merangkai makna.

Ia diam dalam bahasa, sementara jiwanya mabuk dengan linangan air mata pada momen sebuah rasa, mengalun indah di kedalaman bathin, lalu mengalir menembus batas langit.

Tuhan..

Semua derita seakan tiada henti mendekapnya, namun Engkau menyuruhnya untuk sabar.

Segala nestapa silih berganti merangkulnya, namun Engkau menyuruhnya untuk tabah.

Kemelut hidup yang tiada berujung, menikam dari segala arah lalu menghempas jiwa ketika terjaga dari lelap.

Mimpi buruknya adalah hidupnya…

Tuhan..

Ini adalah kenyataan dan realita yang disimpulkan oleh mereka yang tidak mengerti akan perjalanannya, dalam do’anya dia memohon agar Engkau memaafkan mereka lantaran mereka menganggapnya berpura-pura bahagia dan tak peduli denga deritanya, karena mereka tidak mengerti jalan yang ia lalui. Walau ia sadar masih ada sedikit ganjalan ketika tapakan hidupnya berpijak diatas duri yang begitu tajam atau batu cadas yang begitu perih merobek daging untuk mengalirkan darah-darah kepedihan. Akan tetapi ia tetap memilih jalan itu.

Tuhan..

Dulu ia begitu buta dan bodoh, egonya begitu memuncak, lalu terbesit kesombongan pada setiap jalan yang ia lalui, ia tebarkan pesona kasih dunia dan berharap segala puja-puji menyelimuti segala lakonnya.

Ia begitu bangga atas apa yang telah ia raih dan ia pun yakin, semua karena kemampuannya, kekuatannya.

Tiada sedikitpun belas kasih nan tulus dalam jiwanya lantaran pamrih sanjungan menghanyutkannya begitu dalam.. bahkan ia tiada peduli.

Ketika orang bertutur tentang kemalangan dalam esensi makna hidup, tidak sedikitpun mengusik dirinya karena ia merasa bukan golongan orang-orang yang sial.

Ketika orang bertutur tentang kesakitan sebagai bagian dari memaknai hidup, tiada sedikitpun terusik hatinya sebab ia merasa bukan golongan orang-orang yang lemah.

Ketika orang bertutur tentang kematian sebagai fase kesudahan dalam pemenuhan segala ego dalam hidup, tiada sedikitpun ia mendengarkannya lantaran merasa masih jauh jarak antara dirinya dengan kematian.

Keberlimpahan dalam kemewahan, seolah membuatnya mampu mengatur segala warna dan irama hidupnya sehingga ia menggapai apapun yang ingin ia miliki. Ia bahkan kurang peduli dengan tangis kerinduan orang-orang disekitarnya.

Dan ketika orang bercerita tentang eksistensi ke-Tuhan-nan, ia bahkan tidak merasa apa-apa, kosong, dingin dan tidak meresapkan sedikitpun kedamaian di hatinya.

Mereka bercerita tentang keberadaan Tuhan dengan berbagai sabda dan ayat-ayat kitab suci, namun tetap membuatnya kabur dalam pandangannya. dan kadang membuat ia semakin tidak peduli lantaran akhlak merekapun kadang tidak seperti ucapan mereka.. yaah.. mereka hanya bicara.. bahkan mereka mungkin ber Tuhan hanya pada bicara mereka, karena tiada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan ; “Akulah wakil Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya kepadamu setiap kali aku berbicara dengan-Nya”

Tuhan..

Akhirnya Dia mengerti Tuhan..

Dan ia pun melantunkan dalam pengakuannya.

Maafkan aku Tuhan.. Maafkan segala kebodohanku yang terbodoh.

Aku mengerti karena engkau sendiri yang datang kepadaku dalam wujud zahir-Mu.. lalu mengantarku memahami dengan sebenarnya akan wujud Bathin-Mu. Engkaulah yang Zahir dan yang Bathin.

Engkau hadir dan merangkul diriku begitu dalam bagaikan sepasang kekasih yang melepaskan kerinduannya.

Begitu terasa rangkulan-Mu dalam wujud-Mu sebagai kemalanganku, sementara aku tidak peduli akan kehadiran-Mu dalam wujud rangkulan bahagia yang sebelumnya selalu menyertaiku.. Tuhan Maafkan aku.

Tidak hanya itu.. Engkaupun membelaiku dalam wujud-Mu sebagai deritaku dalam kesakitan, sementara belaian-Mu dalam wujud nikmat kesehatan selama ini begitu aku sia-siakan.. Tuhan Maafkan Aku.

Lalu Engkaupun memangku diriku dengan segala gejolak asmara dalam wujudmu diambang maut yang (nyaris) akan mengantar kematianku.

Awalnya aku begitu bodoh..

Mulanya aku berontak akan hadirmu.

Namun lantaran ketidak mampuan untuk menepis segala yang datang, akupun menyerah, egoku gemetar dalam segala sendi. lalu membuatku berani untuk PASRAH..

Aku pasrah.. Tuhan

Lalu aku mencoba untuk kuat dalam menerima kematianku.. yahh.. aku kalah..

Dan ketika tabir ikhlas itu bersemi di jiwaku, Engkaupun membuka segala pemahamanku tentang Kasih dan Sayang-Mu, Tentang Karunia-Mu, tentang Keberadaan-Mu.

Engkau mengajariku dalam Pangkauanmu hingga sadarkan diriku jika aku lagi dalam pangkaan-Mu, lalu memahami akan belaian-Mu dan juga pelukan-Mu. Lalu meleburkan segala egoku, kesombonganku, keserakahanku, serta kebodohanku.

Tuhan..

Engkau menghadirkan derita sebagai guru yang membuatku mengerti akan arti melepas pada semua keterikatan, yang akhirnya membawaku berlabuh dan tertambat tali cinta di pelabuhan keabadian-Mu.

Dan aku mengerti karena mengalami dalam lakon hidupku, bukan sebatas nyanyian altar atau puisi mimbar suci.

Engkau mengajariku untuk menjadi petualang sejati dalam hidup ini. Seorang petualang tidak akan terjebak lalu terlena dengan segala irama dan warna perjalanannya dalam menggapai tujuan utamanya.

Tuhan..

Sungguh, hadir-Mu yang begitu mempesona dalam hidupku hingga semikan cinta dihatiku untuk-Mu. Mekarkan makna mencintai dalam esensi cinta yang sesungguhnya.. cinta yang tidak bermuara pada surga dan neraka, karena semuanya hanya untuk-Mu

Tuhan..

Hadirmu dalam hidupku kini bukan lagi sebatas zahir, namun telah mengantarku pada esensi rasa dan mengerti akan cinta-Mu dalam wujud Bathin. Engkaulah Zahir dan Yang Bathin telah menyelimuti jiwa ragaku.

Menjagaku sepanjang hidupku, lalu menjadikanku abadi kala tersingkap segala hijab dunia dalam aliran pengharapan dan pasrah.

Lantaran aku hanyalah sebuah sebutan dari keberadaan-Mu.. Segalanya adalah Engkau.

Jika Anda tersentuh dengan renungan di atas, tolong “share” renungan ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : topmotivasi.com )

author