Renungan : Permata Kehidupan

No comment 1023 views

Melihat kembali sepasang batu pancawarna kesayangan nenek, saya jadi tersenyum simpul. Betapa tidak, benda yang telah lama tak diketahui keberadaannya itu kini kembali begitu saja tanpa disangka-sangka. Setelah dianggap hilang selama bertahun-tahun, tanpa dinyana sekejap muncul di laci lemari. Sungguh tak bisa dipercaya! Dan nenek, tentu saja gembira tak terkira. Buktinya jika beberapa hari sebelumnya kepala  yang dipenuhi rambut putih itu selalu terikat selendang untuk mengurangi rasa sakit, perlahan berubah. Kepalanya tidak lagi terikat selendang, tempelan koyo hilang, dan suara batuk yang biasa terdengar juga lenyap. Nenek menjadi nampak begitu sehat seolah tiada sedikitpun penyakit bersarang di tubuhnya. Sungguh ajaib.

Entah karena perasaan senang atau memang penyakitnya sungguh hilang, rasanya memang wajar jika nenek berlaku demikian. Batu itu adalah warisan turun-temurun beberapa generasi dalam keluarga. Dan nenek, adalah keturunan terakhir yang mendapat amanat tersebut. Kami sekeluarga bersyukur untuk semuanya. Untuk ditemukannya batu itu, terlebih atas pengaruhnya terhadap perubahan nenek.

Mengingat keindahan batu itu, perlahan pikiranku melayang pada sebuah artikel yang sempat terbaca di sebuah majalah. Artikel tersebut mengupas sisi lain keindahan batu permata, yaitu mengenai proses pembuatannya. Sungguh begitu rumit dan panjang proses penciptaan batu alam itu menjadi sebuah perhiasan mahal.

Mulai dari pencariannya di alam terbuka oleh para pendulang, polesan, bakaran, hingga pemilihan motif dan materi pengikat batu mulia oleh para pengrajin hingga pengangkutan dan pemasarannya ke pembeli. Cukup pantas rasanya melihat untaian produksi yang begitu panjangnya itu menjadikan batu permata sebagai perhiasan yang mahal dan bernilai tinggi dalam sejarah kehidupan manusia.

Namun, selintas terbersit dalam pikiran; jika demikian sebuah permata bernilai tingginya di mata manusia, lalu bagaimana dengan manusia itu sendiri–si pengolah, penggagas, dan penikmat (meski tak jarang juga hancur lebur karena keindahannya)? Adakah manusia mampu berkilau seindah batu permata yang dianggap mulia itu?

Membandingkan proses manusia dalam mencari, menemukan, dan memperlakukan batu permata dengan Tuhan sebagai Maha Kuasa dan Pencipta, aku menemukan kesamaannya. Jika oleh pengrajin bebatuan itu dipoles, digosok, dibakar, digerinda, dan sebagainya, maka manusia pun mengalami proses tak berbeda dalam kehidupannya agar mendapat hasil kemilau seperti yang diharapkan.

Kesulitan, kesenangan, kemudahan, cobaan, kemewahan, dan kesengsaraan yang datang silih berganti adalah penguji seberapa besar kualitas yang dimiliki oleh manusia tersebut. Dan sangat jelas hasilnya kemudian bagaimana sebuah cahaya kehidupan akan bersinar diantara manusia-manusia yang lolos ujian pada setiap keadaan.

Jika pikiran terbuka hidup terasa adil pada setiap keadaan. Pada hati yang lapang kesulitan maupun kemudahan terasa tiada bedanya, hakekatnya sama. Semua itu akan mendatangkan kedamaian.

Pada akhirnya, semuanya kembali pada diri manusia itu sendiri sebagai cikal permata kehidupan ini. Menjadi permata yang berkilauan, atau justru redup karena tak tahan tempaan?

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straight forwardly, without complexities or pride.
so, I love you because I know no other way (Pablo Neruda)

—-Ditulis oleh Harry Lesmana

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : sekolahkehidupan.com )

author